Selasa, 18 November 2014

BAB 4 TUGAS GEREJA

Latar Belakang
Katekesmus Gereja Katolik merumuskan Gereja sebagai “himpunan orang-orang
yang digerakkan untuk berkumpul oleh Firman Allah, yakni, berhimpun bersama
untuk membentuk Umat Allah dan yang diberi santapan dengan Tubuh kristus,
menjadi Tubuh Kristus” (No 777). Existensi himpunan Umat Allah ini diwujudkan
(secara lokal) dalam hidup berparoki. Di dalam paroki inilah himpunan Umat Allah
mengambil bagian dan terlibat dalam menghidupkan peribadatan yang menguduskan
(Liturgia), mengembangkan pewartaan Kabar Gembira (Kerygma), menghadirkan
dan membangun persekutuan (Koinonia), memajukan karya cinta kasih/pelayanan
(Diakonia) dan memberi kesaksian sebagai murid-murid Tuhan Yesus Kristus
(Martyria).
Pokok bahasan ini berturut-turut akan membahas tentang tugas-tugas Gereja yaitu;
A. Gereja yang Menguduskan (Liturgia),
B. Gereja yang Mewartakan Kabar Gembira (Kerygma),
C. Gereja yang Melayani (Diakonia)
D. Gereja yang Bersaksi (Martyria) serta
E. Gereja yang membangun persekutuan (Koinonia).

Tugas Menguduskan
Di beberapa gereja, sebelum perayaan ekaristi dimulai, Imam atau Lektor mem-
berikan pengumuman bahwa orangtua diharapkan mengajak dan membantu anak-
anaknya untuk menghayati liturgi secara baik. Hal tersebut dapat dimaklumi karena
banyak umat yang datang ke gereja pada hari minggu, atau bahkan setiap hari seke-
dar memenuhi kewajibannya sebagai orang Katolik, tanpa atau kurang menyelami
hakikat liturgi itu sendiri.
Para Bapa Gereja mengajarkan bahwa “dalam liturgi Kristus yang bertindak,
Kepala dan Tubuh. Sebagai Imam Agung kita, Dia merayakan dengan tubuh-Nya,
yaitu Gereja, baik di surga maupun di bumi” (Kompendium KGK 233). Ditegaskan
pula bahwa “Gereja di dunia merayakan liturgi sebagai umat imami, setiap orang
bertindak menurut fungsinya masing-masing dalam kesatuan dengan Roh Kudus.
Orang-orang yang dibaptis menyerahkan diri mereka kedalam kurban rohani, para
pelayan yang ditahbiskan merayakan sesuai dengan tugas yang mereka terima bagi
pelayanan seluruh anggota Gereja, para Uskup dan Imam bertindak atas nama Pribadi
Kristus, sang Kepala” (KKGK 235). Dengan demikian liturgi merupakan perayaan
iman. Perayaan iman tersebut merupakan pengungkapan iman Gereja, di mana orang
yang ikut dalam perayaan iman mengambil bagian dalam misteri yang dirayakan.
Tentu saja bukan hanya dengan partisipasi lahiriah, tetapi yang pokok adalah hati
yang ikut menghayati apa yang diungkapkan dalam doa. Kekhasan doa Gereja ini
merupakan sifat resminya, sebab justru karena itu Kristus bersatu dengan umat yang
berdoa. Dengan bentuk yang resmi, doa umat menjadi doa seluruh Gereja yang
sebagai mempelai Kristus, berdoa bersama Kristus, Sang Penyelamat, sekaligus tetap
merupakan doa pribadi setiap anggota jemaat. Liturgi sungguh-sungguh menjadi
doa dalam arti penuh, bila semua yang hadir secara pribadi dapat bertemu dengan
Tuhan dalam doa bersama itu. Kalau demikian terjadi apa yang dikatakan Tuhan:
“… di mana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Mu, di situ Aku ada di
tengah-tengah mereka” (Mat 18: 20). Atau dengan rumusan Konsili Vatikan II, “Di
dalam jemaat-jemaat, meskipun sering hanya kecil dan miskin, atau tinggal tersebar,
hiduplah Kristus, dan berkat kekuatan-Nya terhimpunlah Gereja yang Satu, Kudus,
Katolik, dan Apostolik” (Lumen Gentium, Art. 26). Karena kehadiran Kristus, liturgi
membuat jemaat setempat menjadi Gereja dalam arti yang penuh, sebab di dalamnya
setiap orang di dorong ke arah kesatuan secara pribadi dengan Kristus dan bersama-
sama mereka membentuk Gereja Kristus. Dengan demikian, setiap “paroki dalam arti
tertentu menghadirkan Gereja semesta” (SC 42). Doa resmi Gereja tidak sama dengan
mendaraskan rumus-rumus hafalan doa-doa resmi, melainkan pertama-tama dan
terutama adalah pernyataan iman di hadapan Allah. Doa berarti mengarahkan hati
kepada Tuhan. Yang berdoa adalah hati, bukan badan. Hal itu berlaku untuk doa pada
umumnya, dan juga untuk doa pribadi. Tetapi untuk doa bersama membutuhkan
sedikit keseragaman demi kesatuan doa dan pengungkapan iman. Ibadat resmi
Gereja tampak dalam ibadat pagi, ibadat siang, ibadat sore, ibadat malam, dan ibadat
bacaan. Yang pokok dalam doa bukan sifat “resmi” atau kebersamaan, melainkan
kesatuan Gereja dengan Kristus dalam doa. Dengan bentuk yang resmi, doa umat
menjadi doa seluruh Gereja, yang sebagai mempelai Kristus berdoa bersama Sang
Penyelamat, sekaligus tetap merupakan doa pribadi setiap anggota jemaat. Liturgi
sunguh-sungguh menjadi doa dalam arti penuh jika semua yang hadir secara pribadi
dapat bertemu dengan Tuhan dalam doa bersama itu.
Pada pelajaran ini para peserta didik diajak untuk memahami liturgi sebagai upaya
kita (Gereja) untuk menguduskan dunia. Karenanya kita semua perlu memahami
bahwa tidak ada keterpisahan antara hidup dan ibadat di dalam umat. Pengertian
mengenai hidup sebagai persembahan dalam Roh dapat memperkaya perayaan
Ekaristi yang mengajak seluruh umat, membiarkan diri diikutsertakan dalam
penyerahan Kristus kepada Bapa. Dalam pengertian ini, perayaan Ekaristi sungguh-
sungguh merupakan sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani. Dalam pelajaran
ini, kita akan membatasi diri pada bentuk-bentuk dan kegiatan pengudusan yang
sering dilakukan di dalam Gereja, yakni: Doa dan doa resmi Gereja (liturgi), perayaan
sakramen-sakramen, perayaan sakramentali, serta devosi dalam Gereja Katolik.
 Arti dan Makna Sakramen;
 Sakramen berasal dari kata ‘mysterion’ (Yunani), yang dijabarkan dengan kata
‘mysterium’ dan ‘sacramentum’ (Latin). Sacramentum dipakai untuk menjelaskan
tanda yang kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan yang disebut
sebagai ‘mysterium‘. Kitab Suci menyampaikan dasar pengertian sakramen sebagai
misteri/ ‘mysterium‘ kasih Allah, yang diterjemahkan sebagai “rahasia yang
tersembunyi dari abad ke abad… tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-
orang kudus-Nya” (Kol 1:26, Rom 16:25). Rahasia/ ‘misteri’ keselamatan ini tak
lain dan tak bukan adalah Kristus (Kol 2:2; 4:3; Ef 3:3) yang hadir di tengah-tengah
kita (Kol 1:27).
 Singkat kata, Sakramen yaitu hal-hal yang berkaitan dengan yang kudus atau
yang ilahi. Sakramen juga berarti tanda keselamatan Allah yang diberikan kepada
Manusia ”Untuk mengkuduskan manusia, membangun Tubuh Kristus dan
akhirnya mempersembahkan ibadat kepada Allah”(SC 59).
 Karena Sakramen sebagai tanda dan sarana keselamatan, maka menerima
dan memahami sakramen hendaknya ditempatkan dalam kerangka iman dan
didasarkan kepada iman. Sakramen biasanya diungkapkan dengan kata-kata dan
tindakan. Maka sakramen dalam Gereja Katolik mengandung dua unsur hakiki
yaitu :
- Forma artinya kata-kata yang menjelaskan peristiwa ilahi
- Materia artinya barang atau tindakan tertentu yang kelihatan
- Sakramen adalah Lambang atau Simbol
 Dalam hidup sehari-hari kita mengenal banyak benda atau perbuatan yang pada
hakikatnya punya makna dan arti jauh lebih dalam daripada benda atau perbuatan
itu sendiri (arti yang biasa).
 “Perayaan liturgi dijalin dengan tanda-tanda dan simbol-simbol yang artinya
berakar dalam penciptaan dan budaya manusia, ditentukan dalam peristiwa-
peristiwa Perjanjian Lama dan diungkapkan secara penuh dalam Pribadi dan
Karya Yesus” (Kompendium Katekismus Gereja Katolik – 236)
 “Asal-usul tanda-tanda/simbol sakramental “berasal dari ciptaan (cahaya, air,
api, roti, anggur, minyak), dan yang lain berasal dari kehidupan sosial (mencuci,
mengurapi dengan minyak, memecah roti) dan beberapa yang lainnya lagi
berasal dari sejarah keselamatan dalam Perjanjian Lama (ritus paskah, korban,
penumpangan tangan, pengudusan). Tanda-tanda ini, yang bersifat normatif dan
tak berubah, diambil oleh Kristus dan dipakai untuk tindakan penyelamatan dan
pengudusan” (Kompendium Katekismus Gereja Katolik – 237).
- Sakramen-Sakramen Mengungkapkan Karya Tuhan yang Menyelamatkan
 Jika kita memperhatikan karya Allah dalam sejarah penyelamatan akan tampak
hal-hal ini: Allah yang tidak kelihatan menjadi kelihatan dalam Yesus Kristus.
Dalam Yesus Kristus orang dapat melihat, mengenal, mengalami siapa sebenarnya
Allah itu. Namun, Yesus sekarang sudah dimuliakan. Ia tidak kelihatan lagi. Ia
hadir secara rohani di tengah kita. Melalui Gereja-Nya, Ia menjadi kelihatan.
Maka, Gereja adalah alat dan sarana penyelamatan, di mana Kristus tampak
untuk menyelamatkan manusia. Gereja menjadi alat dan sarana penyelamatan,
justru dalam kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa, tindakan dan kata-kata yang
disebut sakramen. Sakramen-sakramen adalah “Tangan Kristus” yang menjamah
kita, merangkul kita, dan menyembuhkan kita. Meskipun yang tampak di mata
kita, yang bergaung di telinga kita hanya hal-hal atau tanda-tanda biasa, namun
Kristuslah yang berkarya lewat tanda-tanda itu. Dengan perantaraan para
pelayanan-Nya, Kristus sungguh aktif berkarya dalam umat Allah.
- Sakramen-Sakramen Meningkatkan dan Menjamin Mutu Hidup Kita sebagai
Orang Kristiani
 Perlu disadari bahwa sakramen-sakramen itu erat sekali hubungannya dengan
kenyataan hidup sehari-hari. Dalam hidup sehari-hari orang membutuhkan
bantuan. Sementara kualitas dan mutu hidup manusia makin melemah, banyak
orang yang jatuh dalam dosa, banyak orang yang butuh peneguhan dan kekuatan.
Pada saat itulah kita dapat mendengar suara Kristus yang bergaung di telinga kita:
“Aku tidak menghukum engkau, pulanglah dan jangan berdosa lagi …” Singkatnya,
sakramen-sakramen adalah cara dan sarana bagi Kristus untuk menjadi “tampak”
dan dengan demikian dapat dialami oleh manusia dewasa ini.
Sakramen-sakramen itu tidak bekerja secara otomatis. Sakramen-sakramen
sebagai “tanda” kehadiran Kristus menantikan sikap pribadi (sikap batin) dari
manusia. Sikap batin itu ialah iman dan kehendak baik.
Perayaan sakramen adalah suatu “pertemuan” antara Kristus dan manusia. Oleh
karena itu, meski tidak sama tingkatnya, peran manusia (sikap iman) sangat
penting. Walaupun Kristus mahakuasa, Ia tidak akan menyelamatkan orang yang
memang tidak mau diselamatkan atau yang tidak percaya.
Pembagian Sakramen-Sakramen Gereja
Sakramen-Sakramen dibagi menjadi: Sakramen inisiasi Kristen; Sakramen
Pembaptisan, Penguatan, dan Ekaristi Kudus. Sakramen-Sakramen Penyembuhan;
Tobat dan Pengurapan Orang Sakit dan Sakramen-Sakramen pelayanan
pesersekutuan dan perutusan yaitu Sakramen Penahbisan dan Perkawinan (lihat
Kompendium KGK 250 - KGK 1210-1211)
Sakramen-Sakramen inisiasi Kristen; Inisisasi atau bergabung menjadi orang
Kristen dilaksanakan melalui Sakramen-Sakramen yang memberikan dasar hidup
kristen. Orang beriman, yang dilahirkan kembali menjadi manusia baru dalam
Sakramen Pembaptisan, dikuatkan dengan Sakramen Penguatan dan diberi makanan
dengan Sakramen Ekaristi (lihat Kompendium KGK 251).
Sakramen-Sakramen Penyembuhan; Kristus Sang Penyembuh jiwa dan badan kita,
menetapkan sakramen ini karena kehidupan baru yang Dia berikan kepada kita
dalam Sakramen-Sakramen inisiasi Kristiani dapat melemah, bahkan hilang karena
dosa. Karena itu, Kristus menghendaki agar Gereja melanjutkan karya penyembuhan
dan penyelamatan-Nya melalui Sakramen ini; Tobat dan Pengurapan Orang Sakit
(lihat kompendium KGK 295 – KGK 1420-1421. 1426).
Sakramen-Sakramen pelayanan pesersekutuan dan perutusan; Dua Sakramen,
Sakramen Penahbisan dan Perkawinan memberikan rahmat khusus untuk perutusan
tertentu dalam Gereja untuk melayani dan membangun umat Allah. Sakramen-
Sakramen ini memberikan sumbangan dengan cara yang khusus pada persekutuan
gerejawi dan penyelamatan orang-orang lain. (lihat Kompendium KGK 321, KGK
1533-1535).
Ketujuh Sakramen
Pada saat-saat penting dalam hidup, Kristus menyertai umat-Nya. Kehadiran Kristus
ini dirayakan dalam ketujuh sakramen.
1. Sakramen Pembaptisan/ Permandian 
Jika seseorang secara resmi menyatakan tobat dan imannya kepada Yesus Kristus,
serta bertekad untuk bersama umat ikut serta dalam tugas panggilan Kristus, maka
dia diterima dalam umat dengan upacara yang sejak zaman para Rasul disebut.
Kenyataan yang lebih dalam ialah bahwa orang yang menerima sakramen permandian
diterima oleh Kristus menjadi anggota Tubuh-Nya, Umat Allah (Gereja). Orang
tersebut laksana baru lahir di dalam Gereja. Peristiwa kelahiran baru menjadi putra
Bapa dalam Roh Kudus berarti bahwa selanjutnya ia ikut menghayati hidup Kristus
sendiri yang ditandai oleh wafat dan kebangkitan-Nya. Oleh karena itu, orang yang
telah dipermandikan harus bersama Kristus “mati bagi dosa” supaya dalam Kristus,
ia hidup bagi Allah. Kebenaran itu diperagakan, dirayakan, dan dilambangkan dalam
peristiwa pencurahan air pada dahinya, sementara wakil umat (Imam) mengatakan:
“Aku mempermandikan engkau dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus.”
Dengan permandian, mulailah babak baru dalam hidup seseorang. Kristus sendiri
menjiwai dia melalui Roh-Nya, maka segala pelanggaran dan dosa yang telah
diperbuatnya dihapus.
2. Sakramen Penguatan 
Bagi orang dewasa, sakramen penguatan sebetulnya merupakan bagian dari sakramen
permandian. Orang yang telah dipermandikan ditandai dengan minyak (krisma),
tanda kekuatan Roh Kudus, sebelum diutus untuk memperjuangkan cita-cita Kristus
dalam Gereja dan masyarakat. Sakramen penguatan menjadi tanda kedewasaan,
maka orang yang menerima Sakramen Penguatan turut serta bertanggung jawab
atas kehidupan Umat Allah. Kepada setiap orang, Roh Kudus memberikan karisma-
karisma-Nya (bakat kemampuan). Atas karisma-karisma (anugerah) Tuhan ini,
orang yang bersangkutan menyadari tanggung jawabnya terhadap sesama. Dengan
bakat kemampuan yang diterima dari Tuhan, orang yang bersangkutan diharapkan
hidup bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk ikut membina Tubuh Kristus (Umat
Allah). Bakat kemampuan menyatakan karya Roh, yang melalui setiap orang Kristen,
menghantar sesamanya kepada Kristus.
3. Sakramen Ekaristi
Pada malam menjelang sengsara-Nya, Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk
merayakan hari kemerdekaan bangsa-Nya (Paska) sesuai dengan adat istiadat Yahudi.
Bangsa Yahudi memperingati pembebasan dari Mesir dalam sebuah perjamuan
kekeluargaan. Dalam perjamuan Paska itu, Yesus mengambil roti (makanan sehari-
hari orang Yahudi), memecahkannya, dan membagi-bagikan roti itu seraya berkata:
“Makanlah roti ini, karena inilah Tubuh-Ku yang dikorbankan bagimu.” (Tubuh
adalah tanda kehadiran Yesus yang tersalib yang dikorbankan bagi kita).
Kemudian, Yesus mengambil sebuah cawan (piala) berisi air anggur sambil berkata:
“Minumlah semua dari cawan ini, karena inilah Darah-Ku, darah perjanjian
baru dan kekal yang diadakan dengan kalian dan dengan semua manusia demi
pengampunan dosa” (Darah menjadi tanda hidup. Jadi, kalau Yesus memberikan
darah-Nya berarti Ia menyerahkan diri-Nya seluruhnya untuk kita). Kata-kata Yesus
mengungkapkan wafat-Nya. Injil Matius dan Markus menambahkan bahwa “darah-
Nya ditumpahkan….”, yang berarti Ia dipersembahkan sebagai korban persembahan.
Jadi, roti dan anggur menyatakan bagaimana Yesus mati (menumpahkan darah).
Kemudian disebut juga, mengapa Ia harus mati, yaitu demi pengampunan dosa-
dosa. Yesus kemudian berkata: “Kenangkanlah Aku dengan merayakan perjamuan
ini.” (Baca: Luk 22: 14-23; Mat 26: 26-29; Mrk 14: 22-25) Maka Sejak zaman para
rasul, umat Kristen suka berkumpul untuk bersyukur kepada Allah Bapa yang
membangkitkan Yesus dari alam maut dan menjadikannya Tuhan dan Penyelamat.
Berkumpul di sekitar meja Altar untuk menyambut Kristus dalam sabda dan
perjamuan-Nya merupakan kehadiran Gereja yang paling nyata dan penuh; ungkapan
yang paling konkret dari persatuan umat dan Tuhan serta persatuan para anggotanya.
4. Sakramen Tobat
Selama hidup di dunia, kita tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Kita hidup
dalam “situasi dosa”. Situasi dosa ini merasuki diri kita dan masyarakat kita sedalam-
dalamnya. Perjuangan untuk tetap teguh berdiri, tidak berdosa, memang merupakan
proses perjuangan yang tidak kunjung selesai. Oleh karena itu, usaha untuk bangun
lagi sesudah jatuh, berbaik lagi dengan Tuhan dan sesama, merupakan unsur yang
hakiki dan harus selalu ada dalam hidup kita.
Para pengikut Kristus perlu bertobat dan membaharui diri secara terus-menerus
di hadapan Tuhan dan sesama. Tanda pertobatan di hadapan Tuhan dan sesama
itu diterima dalam perayaan sakramen tobat. Seseorang yang melakukan sesuatu
yang bertolak belakang dengan kehendak Tuhan berarti dia memisahkan diri dari
Tuhan dan sesama. Selama suatu kesalahan berat belum diampuni, ia tidak dapat ikut
serta dalam ibadat umat secara sempurna. Dia ibarat cabang yang mati dari sebuah
tanaman. Agar dia diterima kembali menjadi anggota umat yang hidup, dia harus
bertobat dan menghadapi wakil umat (Pastor) untuk mendapatkan pengampunan.
Tobat sejati menuntut agar kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan itu diperbaiki.
5. Sakramen Pengurapan Orang Sakit
Jika seorang anggota umat sakit keras, keprihatinan Tuhan diungkapkan dengan
sakramen perminyakan orang sakit. Kristus menguatkan si sakit dengan Roh Kudus-
Nya yang ditandakan dengan minyak suci. Dengan demikian, si sakit dibuat siap dan
tabah untuk menerima apa saja dari tangan Allah yang mencintai kita, baik dalam
kesembuhan maupun dalam maut. Dengan menderita seperti Kristus, si sakit menjadi
lebih serupa dengan Kristus.
6. Sakramen Tahbisan/ Imamat
Umat membutuhkan pelayan-pelayan yang bertugas menunaikan berbagai tugas
pelayanan di tengah umat demi kepentingan dan perkembangan umat dalam
hidup beriman dan bermasyarakat. Pelayanan-pelayanan itu juga berfungsi untuk
mempersatukan umat, membimbing umat dengan berbagai cara demi penghayatan
iman pribadi dan bersama; membantu melancarkan komunikasi iman demi
tercapainya persekutuan umat, persekutuan iman.
Pelantikan para pelayan itu dirayakan, disahkan dan dinyatakan dalam tahbisan
(sakramen imamat).
7. Sakramen Perkawinan
Membangun keluarga merupakan kejadian yang sangat penting dalam hidup
seseorang. Tentu usaha sepenting ini tidak di luar perhatian Kristus serta umat-Nya.
Maka Kristus sendiri hadir dalam cinta mereka antar suami-istri.
Cinta mereka menjadi tanda dari cinta Kristus kepada Gereja-Nya. Kristus
menguduskan cinta insani menjadi alat dan sarana keselamatan abadi. Umat Kristus
merestui dan menyertai pengantin dalam keputusan mereka yang sangat penting. Di
hadapan umat, kedua mempelai berjanji satu sama lain untuk setia dan cinta, baik
dalam suka maupun duka, selama hayat dikandung badan.
Allah sendiri menjadi penjamin kesetiaan, maka apa yang disatukan Allah jangan
diceraikan oleh manusia. Sakramen perkawinan berlangsung selama hidup dan
mengandung panggilan luhur untuk membina keluarga sebagai tanda kasih setia
Allah bagi setiap insan. Kristus mendampingi suami-istri untuk membina cinta yang
semakin dalam dan untuk mendidik anak menjadi warga Gereja dan warga masyarakat
yang berguna dan untuk membangun keluarga Katolik yang baik pula. Suami-istri
yang hidup dalam perkawinan Katolik dipanggil pula untuk memberi kesaksian
kepada dunia tentang cinta Allah kepada umat manusia melalui cinta suami-istri.
Hidup cinta mereka menjadi tanda (sakramen) cinta Allah kepada manusia.

Penjelasan tentang Sakramentali
Selain ketujuh sakramen, Gereja juga mengadakan tanda-tanda suci (berupa
ibadat/upacara/ pemberkatan) yang mirip dengan sakramen-sakramen yang disebut
sakramentali. Berkat tanda-tanda suci ini berbagai buah rohani ditandai dan diperoleh
melalui doa-doa permohonan dengan perantaraan Gereja.
Aneka ragam sakramentali:
- Pemberkatan, yakni pemberkatan orang, benda/barang rohani, tempat, makanan,
dsb. Contoh: pemberkatan ibu hamil atau anak, alat-alat pertanian, mesin pabrik,
alat transportasi, rumah, patung, rosario, makanan, dsb. Pemberkatan atas orang
atau benda/barang tersebut adalah pujian kepada Allah dan doa untuk memohon
anugerah-anugerah-Nya.
- Pemberkatan dalam arti tahbisan rendah, yakni pentahbisan orang dan benda.
Contoh pentahbisan/pemberkatan lektor, akolit, dan katekis; pemberkatan benda
atau tempat untuk keperluan liturgi, misalnya pemberkatan gereja/kapel, altar,
minyak suci, lonceng, dan sebagainya.
Mendalami devosi dalam Gereja Katolik
Devosi (Latin: devotio = penghormatan) adalah bentuk-bentuk penghormatan/
kebaktian khusus orang atau umat beriman kepada rahasia kehidupan Yesus yang
tertentu, misalnya kesengsaraan-Nya, Hati-Nya yang Mahakudus, Sakramen
Mahakudus, dan sebagainya. Atau devosi kepada orang-orang kudus, misalnya
devosi kepada Bunda Maria dengan novena 3 x salam Maria, berdoa rosario,
berziarah ke gua Maria pada bulan Mei dan Oktober.

Tugas Mewartakan
Dalam diri Yesus dari Nasaret, sabda Allah tampak secara konkret manusiawi.
Penampakan itu merupakan puncak seluruh sejarah pewahyuan sabda Allah. Tetapi
oleh karena sabda itu sudah menjelmakan diri dalam sejarah dan tidak dapat tinggal
dalam sejarah untuk selamanya, maka untuk mempertahankan hasilnya bagi semua
orang, sabda itu harus menciptakan bentuk-bentuk lain, yang di dalamnya sabda itu
dapat hadir dan berbicara.
Ada tiga bentuk sabda Allah dalam Gereja, yaitu:
1. Sabda/pewartaan para rasul sebagai daya yang membangun Gereja.
2. Sabda Allah dalam Kitab Suci sebagai kesaksian normatif.
3. Sabda Allah dalam pewartaan aktual Gereja sepanjang zaman.
Tiga bentuk pewartaan tersebut di atas saling berhubungan satu sama lain. Pewartaan
aktual Gereja masa kini berdasarkan dan merupakan kesinambungan dari pewartaan
para rasul dan pewartaan Kitab Suci yang diwariskan kepada kita.Ada perbedaan antara
sabda Allah dalam ajaran para rasul dan Alkitab dan sabda Allah dalam pewartaan
aktual Gereja. Oleh karena wahyu selesai dengan kematian para rasul, maka dasar
normatif juga sudah diletakkan. Segala pewartaan selanjutnya tergantung pada norma
itu. Tugas pewartaan tidak lain adalah mengaktualisasi apa yang disampaikan Allah
dalam Kristus sebagaimana diwartakan para rasul.Dengan demikian, sabda Allah
sungguh datang kepada manusia dan menyelamatkan mereka yang mendengarkan
dan melaksanakan pewartaan Gereja. Pewartaan sabda Allah oleh Gereja bukan
hanya sekedar informasi mengenai Allah dan Yesus Kristus, melainkan sungguh-
sungguh menghadirkan Kristus yang mulia. Di dalamnya Kristus menyelamatkan,
menyembuhkan hati dari setiap orang yang mendengar dan membuka diri terhadap
sabda yang disampaikan itu. Kristus membebaskan kita dari dosa melalui sabda-Nya.
Dalam mewartakan sabda Allah, kita dapat mewartakannya secara verbal melalui ka-
ta-kata (kerygma), tetapi juga dengan tindakan (martyria). Pola pewartaan itu adalah
Pewartaan verbal (kerygma)
Pewartaan verbal pada dasarnya merupakan tugas hierarki, tetapi para awam
diharapkan untuk berpartisipasi dalam tugas ini, misalnya sebagai katekis, guru
agama, fasilitator pendalaman Kitab Suci, dsb. Bentuk-bentuk pewartaan masa
kini, antar lain:
- Kotbah atau Homili: Kotbah adalah pewartaan tematis. Homili adalah pewartaan
yang berdasarkan suatu perikope Kitab Suci. Kedua-duanya merupakan pewartaan
dari mimbar. Kotbah dan homili yang baik harus menyapa manusia. Walaupun
secara lahiriah terjadi komunikasi satu arah, tetapi kotbah yang baik harus dapat
menciptakan komunikasi dua arah secara batiniah.
- Pelajaran agama: Dalam pelajaran agama diharapkan para guru agama
mendampingi para siswa untuk menemukan makna hidupnya dalam terang Kitab
Suci dan ajaran Gereja. Pelajaran agama adalah proses pergumulan hidup nyata
dalam terang iman.
- Katekese Umat: Katekese umat adalah kegiatan suatu kelompok umat, dimana
mereka aktif berkomunikasi untuk menafsirkan hidup nyata dalam terang Injil,
yang diharapkan berkelanjutan dengan aksi nyata, sehingga dapat membawa
perubahan dalam masyarakat ke arah yang lebih baik
- Pendalaman Kitab Suci, dsb. Pendalaman Kitab Suci dapat dilakukan dalam
keluarga, kelompok, atau pada kesempatan-kesempatam khusus seperti pada
masa Prapaskah (APP), masa Adven, dan pada bulan Kitab Suci (September).

Tugas Kesaksian
Setiap orang yang mengaku Yesus sebagai Juruselamatnya, maka panggilan
untuknya adalah menjadi saksi. Setiap orang percaya harus mengetahui tugas ini.
Namun tidak jarang kita temukan masih banyak orang Katolik yang masih takut
bersaksi. Mengapa takut bersaksi? Apabila kita pergi ke pengadilan, jika ada seorang
saksi yang takut bersaksi maka kemungkinan besar bahwa kesaksiannya itu bohong
atau tidak benar. Kemungkinan lain adalah saksi tersebut sedang diintimidasi, ditekan,
diancam dan sebagainya, sehingga ia takut. Namun bagi kita orang Kristiani, kita harus
berani bersaksi tentang Kritus sebagai Tuhan dan juruselamat kita. Injil Mateus 28
ayat 18 menegaskan : “Yesus telah menerima segala kuasa baik di sorga dan di bumi”
Artinya bahwa, Yesus berkuasa atas segala-galanya. Biasanya di pengadilan, seorang
saksi dihadirkan tugasnya untuk menceritakan dengan jujur dan benar apa yang
diketahuinya saja. Ia tidak perlu membela diri, berdebat atau berusaha meyakinkan
orang lain. Orang lain mau percaya atau tidak, bukan masalah yang penting saksi
tersebut telah menceritakan dengan jujur dan benar. Ketidakpercayaan seseorang
tidak akan mengubah kebenaran menjadi salah. Sedangkan untuk membela ada tugas
orang lain lagi, yang kita sebut dengan pengacara atau pembela. Orang ini dibekali
berbagai ilmu dan ahli untuk membela kliennya. Konteksnya kita sebagai orang yang
percaya kepada Yesus, kalau kita diminta menjadi saksi artinya; kita mesti ceritakan
apa saja yang kita alami bersama Yesus.
Injil pertama-tama diwartakan dengan kesaksian, yakni diwartakan dengan, kata-
kata, tingkah laku dan perbuatan. Gereja juga mewartakan Injil kepada dunia dengan
kesaksian hidupnya yang setia kepada Tuhan Yesus. Para murid Yesus dipanggil
supaya mereka menjadi saksi-Nya mulai dari Yerusalem yang kemudian berkembang
ke seluruh Yudea dan Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi (bdk. Kis 1:8). Menjadi
saksi Yesus Kristus pun ada konsekuensinya, mulai dari penolakan hingga tindakan
kekerasan. Stefanus adalah orang pertama yang mengalami penyesahan dan kemudian
diakhiri hidupnya oleh kaum Yahudi secara mengenaskan(bdk. Kis 7:51-8:1a).
Pada pembelajaran ini para peserta didik dibimbing untuk memahami makna
menjadi saksi Yesus Kristus dalam hidupnya. Pewartaan dalam bentuk kesaksian
hidup mungkin sangat relevan bagi kita di Indonesia. Kita hidup di tengah bangsa
yang sangat majemuk dalam kepercayaan dan budayanya. Pewartaan verbal mungkin
kurang simpatik dibandingkan dengan pewartaan lewat dialog, termasuk dialog
hidup, di mana kita mewartakan iman kita melalui kesaksian hidup kita. Kita dapat
menunjukkan hidup yang penuh kasih dan persaudaraan di tengah situasi yang
sarat dengan permusuhan, kekerasan, dan terror. Kita dapat menunjukkan hidup
yang bersemangat solider di tengah suasana hidup yang serakah dan korup karena
didorong oleh nafsu kepentingan diri atau golongan.

Tugas Persekutuan
Gereja bukan sekadar organisasi saja, namun merupakan kumpulan anggota Umat
Allah yang hidup bersekutu, bersatu dalam nama Tuhan. Maka apa beda Perusahaan
(Organisasi) dan Gereja? Dalam suatu organisasi kalau salah satu departemennya
“mogok” paling-paling yang mogok itu di PHK, kemudian manajemen mencari orang
lain menggantikan. Tetapi di dalam Gereja kalau ada salah satu anggotanya mogok,
kita akan usahakan supaya dia kembali. Kita akan berusaha memahami kesulitannya,
kita akan mendoakan dia, kita akan menolong dia, kita akan membesuk dia, kita akan
turut simpati keadaannya. Sinkat kata, kita dalam semangat kebersamaan berusaha
menolong anggota Gereja yang mengalami kesulitan atau kesusahan karena kita
adalah satu kesatuan keluarga Allah (Gereja).
Dalam Kitab Suci, dikatakan; Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan
pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota
keluarga Allah (Efesus 2:19). Artinya bahwa kesatuan dan kebersamaan orang-orang
percaya di dalam Kristus disebut persekutuan. Kata yang dipakai untuk persekutuan
dalam bahasa Yunani adalah Koinonia yang berasal dari kata dasar koinos yang
berarti lazim atau umum. Artinya berkaitan dengan kebersamaan. Dalam Galatia
2:9, digambarkan bahwa Paulus dan Baernabas dengan berjabatan tangan sebagai
tanda persekutuan diterima secara penuh dalam persekutuan yang dijadikan oleh
iman bersama kepada Kristus. Tanda hubungan erat antara kedua belah pihak, bahwa
mereka bersekutu dalam Kristus. Maka koinonia (persekutuan) mempunyai dasar
dan tujuan yang berasal dari Yesus Kristus. Dasar dan tujuan ini tidak dapat diganti
dengan dasar dan tujuan yang lain. Jikalau persekutuan ini mengganti dasar, yang
sudah diletakkan oleh dan di dalam Yesus Kristus maka persekutuan ini kehilangan
hakekatnya dan secara azasi bukan persekutuan (koinonia) lagi. Koinonia adalah
persekutuan jemaat di dalam Kristus, walaupun banyak anggota namun membentuk
satu tubuh Kristus. Di dalam Koinonia ini kita tidak hanya sekedar bersekutu, tetapi
kita mengabarkan Injil Kerajaan Allah melalui perkataan/ kesaksian (Martyria)

maupun perbuatan /pelayanan (Diakonia) dimana saja kita berada.
Gambaran tentang persekutuan umat atau komunitas basis model jemaat perdana
(Kis 4:32-37) dapat menjadi model atau cermin bagi kita untuk membangun
persekutuan umat atau Komunitas Basis. Model Komunitas Umat perdana itu tidak
dimaksudkan hanya untuk kelompok kecil umat saja, tetapi sesungguhnya model
hidup (gaya hidup) Jemaat Perdana itu juga merupakan patron dan acuan untuk
model atau cara hidup Gereja (umat beriman) sepanjang waktu, partikular maupun
universal. Artinya bahwa cara hidup jemat perdana itu juga tetap merupakan cita-cita
yang terus-menerus diupayakan, diperjuangkan dan diwujudkan oleh umat beriman
sepanjang waktu.
Ciri-ciri utama cara hidup jemaat perdana itu nampak sangat menonjol dalam lima
hal yaitu adanya:
1) Persaudaraan/persekutuan
2) Mendengarkan Sabda/pengajaran
3) Pelayanan terhadap sesama/solidaritas
4) Perayaan iman/pemecahan roti/doa
5) Memberi kesaksian iman (tentang Tuhan) melalui cara hidup mereka.
Karena cara hidup mereka itu, mereka disukai semua orang, jumlah mereka makin
lama makin bertambah dan mereka sangat dihormati orang banyak.
Perlu dipahami bahwa cara hidup berkomunitas seperti yang mereka miliki itu
muncul karena tuntutan situasi dan lingkungan yang mengharuskan mereka untuk
menemukan cara baru sebagai orang-orang yang telah dibaptis, yang percaya kepada
Tuhan. Bisa dimengerti pada waktu itu, sekitar awal-awal abad pertama mereka masih
merupakan kelompok kecil di tengah kelompok (lingkungan) lain yang jauh lebih
besar, bahkan mungkin mengancam mereka juga. Sebagai kelompok kecil, yang baru
memiliki identitas sendiri sebagai orang beriman, yang berbeda dari orang-orang
lain di sekitar mereka, mau tidak mau mereka harus bersekutu, bersaudara, saling
memperhatikan, saling membantu dan harus memberikan kesaksian bahwa mereka
adalah orang-orang yang baik (sebagai orang yang percaya), agar mereka dapat
diterima dan dihargai oleh orang-orang lain yang di sekitar mereka. Itu semua mereka
lakukan demi iman mereka akan Tuhan Yesus. Iman mereka menjadi penggerak
utama dan sekaligus menjadi sumber kekuatan bagi mereka, untuk melakukan apa
yang terbaik bagi diri mereka sendiri dan juga bagi orang lain di sekitar mereka.
Apa yang mereka lakukan sebetulnya merupakan suatu proses pemahaman akan
jati diri mereka sebagai orang beriman. Kiranya karena keadaan lingkungan yang
menuntut, mereka berusaha mengenal diri mereka sendiri, sesungguhnya siapa
mereka atau apa ciri khas mereka sebagai orang beriman, bagaimana mereka harus
berada di tengah lingkungan masyarakat dan apa yang harus mereka lakukan? Juga
cara mereka mengatur persekutuan (paguyuban) dan melayani kebutuhan sesama
warga komunitas sejauh kita bisa amati dalam Kisah Para Rasul itu, lebih bersifat
spontan dan sukarela, muncul dari dorongan hati nurani, dengan kerendahan
hati dan ketulusan masing-masing. Kiranya tidak bisa dikatakan bahwa mereka
merupakan komunitas yang sudah jadi atau sudah mapan. Kegiatan mereka pastilah
belum berdasarkan rumusan visi, misi, strategi dan program kerja serta anggaran dana
operasional seperti yang kita mau lakukan. Mereka belum mengenal ilmu manajemen
yang sangat menekankan sistim, struktur serta mekanisme kerja yang jelas dan rapi,
dengan aturan main dan batasan-batasan kewenangan yang jelas. Kiranya cara
mereka mengatur kebersamaan jauh dari kecanggihan sistim dan metode-metode
seperti yang kita gulati sekarang.
Namun nampak sekali dari cerita seperti yang dipaparkan dalam Kisah para rasul itu
bahwa mereka merupakan komunitas yang sangat hidup, sangat terbuka, sangat aktif
dan sangat dinamis. Dan yang paling menarik ialah cara hidup mereka, cara berada
mereka sangat efektif, berdampak sangat positif bagi orang-orang lain di sekitar
mereka, sehingga mereka disukai semua orang (Kis 2:47), jumlah orang yang percaya
kepada Tuhan makin hari makin bertambah (Kis.2:47; Kis. 5:14), dan mereka sangat
dihargai oleh orang banyak (Kis. 5:13).
Hal yang sangat penting bahwa iman mereka akan Tuhan adalah landasan atau
sokoguru atau tulang pungggung dari segala upaya yang mereka lakukan untuk
meneguhkan keberadaan mereka di tengah lingkungan (di tengah dunia), dan
untuk mewartakan atau memberikan kesaksian tentang apa yang mereka percaya.
Adapun hal-hal lain yang pada permukaan tampak dalam wujud tindakan sosial dan
ekonomi, aksi solidaritas, kepedulian kepada sesama, menolong dan menyembuhkan
orang sakit (Kis. 5:16) adalah merupakan buah, hasil atau dampak dari iman mereka
kepada Tuhan, merupakan hasil dari upaya meneguhkan dan mewartakan iman
mereka sendiri. Maka komunitas Jemaat Perdana adalah komunitas iman, komunitas
spiritual, komunitas yang digerakkan oleh Roh Kudus, komunitas orang-orang yang
bertobat (mau berubah), bukan komunitas yang terbentuk pertama-tama karena
alasan-alasan (kepentingan) sosial, ekonomi atau kekuasaan. Tatanan duniawi,
urusan sosial-ekonomi justru diresapi, dijiwai, digerakkan, oleh/karena iman mereka
akan Tuhan itu dan bukan sebaliknya.

Tugas Melayani
Dalam hidup sehari-hari telinga kita akrab mendengar kata pelayan dan melayani.
Dalam dunia pemerintahan negara, semua aparat negara bahkan disebut sebagai
pelayan masyarakat. Namun dalam kenyataan, kita menjumpai banyak aparat negara
berperilaku sebaliknya yaitu ingin selalu dilayani sebagai tuan-tuan, atau sebagi
bos. Perilaku seperti ini tentu bertentangan dengan sumpah jabatan mereka sebagai
pelayan atau abdi masyarakat.
Gereja (Umat Allah) dipanggil untuk melayani manusia, seluruh umat manusia.
“Melayani” adalah kata penting dalam ajaran Yesus. Pada Malam Perjamuan Terakhir,
Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa para pengikut
Yesus harus merendahkan diri dan rela menjadi pelayan bagi sesamanya. Jika orang
ingin menjadi terkemuka, ia harus rela menjadi pelayan. Yesus sendiri menegaskan:
“Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mrk 10:
45). Itulah sikap yang diharapkan oleh Yesus terhadap murid-murid-Nya.Gereja
mempunyai tanggung jawab untuk melayani manusia. Dasar pengabdian Gereja
adalah imannya akan Kristus. Barangsiapa menyatakan diri murid Kristus, “ia wajib
hidup seperti Kristus” (1Yoh 2: 6). Kristus yang “mengambil rupa seorang hamba”
(Flp 2: 7) tidak ada artinya jika murid-murid-Nya mengambil rupa seorang penguasa.
Melayani berarti mengikuti jejak Kristus.
Melalui pelajaran ini, para peserta didik dibimbing untuk menyadari panggilan
sebagai pengikut Kristus untuk menjadi pelayan bagi sesamanya.

BAB 3 HIERARKI DALAM GEREJA KATOLIK

Latar Belakang
Kata “Hierarki” berasal dari bahasa Yunani hierarchy yang berarti “asal usul suci 
atau tata susunan”. Menurut ajaran resmi Gereja Katolik, susunan, struktur hierarki 
sekaligus merupakan hakikat kehidupannya juga. Kitab Suci menjelaskan bahwa 
perutusan ilahi, yang dipercayakan Kristus kepada para Rasul, akan berlangsung 
sampai akhir zaman (lih. Mat 28:20). Sebab Injil, yang harus mereka wartakan, bagi 
Gereja merupakan azas seluruh kehidupan untuk selamanya. Maka dari itu dalam 
himpunan yang tersusun secara hierarkis yaitu para Rasul telah berusaha mengangkat 
para pengganti mereka. Maka Konsili mengajarkan “atas penetapan ilahi para Uskup 
menggantikan para Rasul sebagai gembala Gereja”. Kepada para Rasul berpesan, 
agar menjaga seluruh kawanan, tempat Roh Kudus mengangkat mereka untuk 
menggembalakan jemaat Allah (lih. Kis 20:28).(LG 20). Pengganti meraka yakni, para 
Uskup, dikehendaki-Nya menjadi gembala dalam Gereja-Nya hingga akhir jaman 
(LG 18). Maksud dari “penetapan ilahi para Uskup menggantikan para Rasul sebagai 
gembala Gereja” ialah bahwa dari hidup dan kegiatan Yesus timbullah kelompok 
orang yang kemudian berkembang menjadi Gereja, seperti yang dikenal sekarang. 
Struktur Hierarkis Gereja yang sekarang terdiri dari dewan para Uskup dengan 
Paus sebagai kepalanya, dan para Imam serta Diakon sebagai pembantu Uskup. Para 
Uskup pengganti para Rasul yang dipimpin oleh Paus pengganti Petrus bertugas 
melayani, menggembalakan jemaat (bdk. Yoh 21: 15-19) bersama para pembantu 
mereka, yakni para Imam dan Diakon. Sebagai wakil Kristus, mereka memimpin 
kawanan yang mereka gembalakan (pimpin), sebagai guru dalam ajaran, Imam dalam 
ibadat suci, dan pelayan dalam bimbingan (bdk. Lumen Gentium, Art. 20).
Dasar kepemimpinan (hierarki) dalam Gereja
Gereja adalah persekutuan yang semua anggotanya sungguh-sungguh sederajat 
martabatnya, sederajat pula kegiatan umum dalam membangun Tubuh Kristus (LG 
31). Ada fungsi khusus dalam Gereja yang diemban oleh hierarki, ada corak hidup 
khusus yang dijalani Biarawan/Biarawati, ada fungsi dan corak hidup keduniaan 
yang menjadi medan khas para Awam. Tetapi yang pokok adalah iman yang sama 
akan Allah dalam Kristus oleh Roh Kudus. Yang umum lebih penting daripada yang 
khusus.

Hierarki dalam Gereja Katolik
Kata hierarki berasal dari bahasa Yunani “hierarchy” yang berarti jabatan (hieros) 
suci (archos). Itu berarti bahwa yang termasuk dalam hierarki adalah mereka yang 
mempunyai jabatan karena mendapat penyucian melalui tahbisan. Maka mereka serng 
disebut sebagai kuasa tahbisan. Dan orang yang termasuk hieraki disebut sebagai para 
tertahbis. Namun, pada umumnya hierarki diartikan sebagai tata susunan. Hieraki 
sebagai pejabat umat beriman kristiani dipanggil untuk menghadirkan Kristus yang 
tidak kelihatan sebagai tubuh-Nya, yaitu Gereja. Dalam tingkatan hieraki tertahbis 
(hierarchia ordinis), Gereja terdiri dari Uskup, Imam, dan Diakon (KHK 330-572). 
Menurut tata susunan yurisdiksi (hierarchia yurisdictionis), yurisdiksi ada pada Paus 
dan para Uskup yang disebut kolegialitas. Kekhasan hierarki terletak pada hubungan 
khusus mereka dengan Kristus sebagai gembala umat.

Sejarah hierarki 
Struktur hierarki bukanlah suatu yang ditambahkan atau dikembangkan dalam 
sejarah Gereja. Menurut ajaran Konsili Vatikan II, struktur itu dikehendaki Tuhan 
dan akhirnya berasal dari Kristus sendiri. Hal ini dapat dilihat dalam sejarah hierarki 
di bawah ini: 

Zaman Para Rasul 
Awal perkembangan hierarki adalah kelompok kedua belas Rasul. Kelompok inilah 
yang pertama-tama disebut Rasul. Rasul atau “Apostolos” adalah utusan. Akan tetapi 
setelah kebangkitan Kristus, sebutan Rasul tidak hanya untuk kelompok kedua belas, 
melainkan juga utusan-utusan selain kelompok kedua belas itu. Bahkan akhirnya, 
semua “utusan jemaat” (2Kor8:22) dan semua “utusan Kristus” (2Kor 5:20) disebut 
Rasul. Lama kelamaan, kelompok Rasul lebih luas dari pada kelompok kedua belas 
Rasul. Sesuai dengan namanya, Rasul diutus untuk mewartakan iman dan memberi 
kesaksian tentang kebangkitan Kristus. 

Zaman sesudah Para Rasul 
Setelah kedua belas Rasul tidak ada, muncul aneka sebutan, seperti “penatua-penatua” 
(Kis 15:2), dan “Rasul-Rasul”, “Nabi-Nabi”, Pemberita-Pemberita Injil”, Gembala-
Gembala”, “Pengajar” (Ef 4:11), “Episkopos” (Kis 20:28), dan “Diakonos” (1Tim 
4:14). Dari sebutan itu ada banyak hal yang tidak jelas arti dan maksudnya. Namun 
pada akhir perkembangannya, ada struktur dari Gereja St. Ignatius dari Antiokhia 
yang mengenal sebutan “Penilik” (Episkopos), “Penatua” (Prebyteros), dan “Pelayan” 
(Diakonos). Struktur inilah yang selanjutnya menjadi struktur hierarki Gereja yang 
menjadi Uskup, Imam, dan Diakon. Di sini yang penting, bukanlah kepemimpinan 
Gereja yang terbagi atas aneka fungsi dan peran, melainkan bahwa tugas pewartaan 
para Rasul lama-kelamaan menjadi tugas kepemimpinan jemaat.
Dasar kepemimpinan (hierarki) dalam Gereja 
Berdasarkan sejarah di atas, maka kepemimpinan dalam Gereja diserahkan kepada 
hierarki. Konsili mengajarkan bahwa “atas penetapan Ilahi, para Uskup menggantikan 
para Rasul sebagai penggembala Gereja” (lih LG 20). “ Konsili suci ini mengajarkan 
dan mengatakan bahwa Yesus Kristus, Gembala kekal mendirikan Gereja kudus 
dengan mengutus para Rasul seperti Dia diutus oleh Bapa (lih Yoh 20:21). Para 
pengganti mereka, yakni para Uskup, dikehendaki-Nya menjadi gembala dalam 
gereja-Nya sampai akhir zaman (lih. LG 18). 
Pernyataan di atas dimaksudkan bahwa dari hidup dan kegiatan Yesus timbullah 
kelompok orang yang kemudian berkembang menjadi Gereja, seperti yang dikenal 
sekarang. Proses perkembangan pokok itu terjadi dalam umat perdanan (Gereja 
Perdana), yakni Gereja yang mengarang Kitab Suci Perjanjian Baru. Jadi dalam kurun 
waktu antara kebangkitan Yesus dan awal abad kedua secara prinsip terbentuklah 
hierarki gereja yang dikenal sekarang. Wujud Gereja perdana beserta struktur 
kepemimpinannya menjadi patokan bagi perkembangan Gereja selanjutnya.
Struktur kepemimpinan (hierarki) dalam Gereja 
Secara struktural kepemimpinan dalam Gereja sekarang dapat diurutkan sebagai 
berikut:

Dewan Para Uskup dengan Paus sebagai Kepalanya 
Ketika Kristus mengangkat kedua belas Rasul, Ia membentuk mereka menjadi 
semacam dewan atau badan tetap. Sebagai ketua dewan, Yesus mengangkat Petrus 
yang dipilih-Nya dari antara para Rasul itu. Seperti santo Petrus dan para Rasul 
lainnya, atas penetapan Kristus merupakan satu dewan para Rasul. Begitu pula Paus 
(penganti Petrus) bersama Uskup (pengganti Rasul) merupakan satu himpunan yang 
serupa.Pada akhir masa Gereja perdana, sudah diterima cukup umum bahwa para 
Uskup adalah pengganti para Rasul. Tetapi hal itu bukan berarti bahwa hanya ada 
dua belas Uskup (karena ada dua belas Rasul). Bukan Rasul satu persatu diganti orang 
lain, tetapi kalangan para Rasul sebagai pemimpin Gereja diganti oleh para Uskup. 
Tegasnya Dewan para Uskup adalah pengganti para Rasul (LG 20). Yang menjadi 
pimpinan Gereja adalah Dewan para Uskup. 
Seseorang menjadi Uskup karena diterima ke dalam dewan. “Seseorang menjadi 
anggota Dewan Para Uskup dengan menerima tahbisan sakramental dan berdasarkan 
persekutuan hierarkis dengan kepala maupun para anggota Dewan” (LG 22). Sebagai 
lambang kolegial ini, tahbisan Uskup selalu dilakukan paling sedikit tiga Uskup, sebab 
tahbisan Uskup berarti bahwa seorang anggota baru diterima ke dalam Dewan Uskup” 
(LG 11). Uskup itu pertama-tama adalah pemimpin Gereja setempat. Namun dalam 
persekutuan gereja-gereja setempat hiduplah Gereja Universal. Dalam persekutuan 
dengan Uskup-Uskup lain itu, para Uskup setempat menjadi pemimpin Gereja 
Universal. Maka Uskup merupakan pemimipin Gereja setempat sekaligus pemimpin 
Gereja Universal. 
Paus 
Konsili Vatikan II menegaskan “adapun dewan atau badan para Uskup hanyalah 
berwibawa, bila bersatu dengan Imam Agung di Roma pengganti Petrus sebagai 
kepala dan selama kekuasaan primatnya terhadap semua, baik para gembala maupun 
kaum beriman, tetap berlaku seutuhnya.” Sebab Imam Agung di Roma berdasarkan 
tugasnya, yakni sebagai wakil Kristus dan gembala Gereja semesta mempunyai kuasa 
penuh, tertinggi, dan universal terhadap Gereja, dan kuasa itu selalu dapat dijalankan 
dengan bebas (LG 22).
Penegasan itu didasarkan bahwa Kristus mengangkat Petrus sebagai ketua para Rasul. 
Yesus mengangkat Santo Petrus menjadi ketua para Rasul lainnya. Dalam diri Petrus, 
Yesus menetapkan adanya asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap 
dan kelihatan (bdk. LG 18) Petrus diangkat menjadi pemimpin para Rasul. Paus 
yang adalah pengganti Petrus juga pemimpin para Uskup. Menurut kesaksian tradisi, 
Petrus adalah Uskup Roma yang pertama. Karena itu, Roma dipandang sebagai pusat 
dan pedoman seluruh Gereja. Menurt keyakinan tradisi, Uskup Roma itu pengganti 
Petrus, bukan hanya sebagai Uskup lokal melainkan terutama dalam fungsinya 
sebagai ketua Dewan Pimpinan Gereja. Paus adalah Uskup Roma, dan sebagai Uskup 
Roma, ia adalah pengganti Petrus dengan tugas dan kuasa seperti Petrus.
Tugas dan kuasa Petrus, menurut Perjanjian Baru, begitu istimewa (Mat 16:16-19; 
Yoh 21:15-19), Ia diakui sebagai pemimpin Gereja. “Para Rasul menghimpun Gereja 
semesta, yang oleh Tuhan didirikan dalam diri mereka dan di atas Rasul Petrus, ketua 
mereka, sedangkan Yesus Kristus sendiri sebagai batu sendinya” (LG 19). Fungsi 
dan kedudukan Petrus sebagai pemimpin Gereja diakui pula sebagai unsur prinsip 
hierarki, yang akhirnya berasal dari Kristus sendiri. Itulah tugas dan wewenang Paus, 
pengganti Petrus. 
Uskup 
Pada dasarnya Paus adalah seorang Uskup. Seorang Uskup selalu berkarya dalam 
persekutuan dengan para Uskup lain dan mengakui Paus sebagai kepala. Karya seorang 
Uskup adalah “menjadi asas dan dasar kelihatan bagi kesatuan dalam Gereja-Nya 
(LG 23). Tugas pokok Uskup di tempatnya sendiri adalah pemersatu. Tugas hierarki 
yang pertama dan utama adalah mempersatukan dan mempertemukan umat. Tugas 
ini dapat disebut tugas kepemimpinan dari para Uskup “dalam arti sesungguhnya 
disebut pembesar umat yang mereka bimbing” (LG 27)
Tugas pemersatu ini selanjutnya dibagi menjadi tugas khusus menurut tiga bidang 
kehidupan gereja, yaitu pewartaan, perayaan, dan pelayanan, di mana dimungkinkan 
komunikasi iman dalam Gereja. Dan dalam bidang-bidang itulah para Uskup dan Paus 
menjalankan tugas kepemimpinannya. Pewartaan Injil menjadi tugas terpenting (LG 
25). Tugas penting selanjutnya adalah perayaan, “mempersembahkan ibadat agama 
Kristen kepada Allah yang Mahaagung dan mengaturnya menurut perintah Tuhan 
dan hukum Gereja” (LG 26). Selanjutnya adalah pelayanan, “membimbing Gereja-
gereja yang dipecayakan kepada mereka sebagai wakil dan utusan Kristus, dengan 
petunjuk-petunjuk, nasihat-nasihat, dan teladan hidup mereka, tetapi juga dengan 
kewibawaan dan kuasa suci” (LG 27). Dalam ketiga bidang kehidupan menggereja, 
Uskup bertindak sebagai pemersatu, yang mempertemukan orang dalam komunikasi 
iman. 
Pembantu Uskup: Imam dan Diakon 
Dalam mengemban tugas dan fungsinya, para Uskup memerlukan “pembantu” dan 
rekan “kerja”, mereka adalah:
Para Imam: adalah Wakil Uskup 
Di setiap jemaat setempat dalam arti tertentu, mereka menghadirkan Uskup.
“Para Imam dipanggil melayani umat Allah sebagai pembantu arif bagi badan Uskup, 
sebagai penolong dan organ mereka “(LG 28). Tugas konkret para Imam sama seperti 
Uskup. Mereka ditahbiskan pertama-tama untuk mewartakan Injil (lih. PO 4) dan 
menggembalakan umat (lih. PO 6) 

Diakon: pelayan, hierarki tingkat yang lebih rendah 
Ditumpangi tangan bukan untuk Imamat tetapi untuk pelayanan (LG 29). Mereka 
ini juga pembantu Uskup, tetapi tidak mewakili. Para Diakon adalah pembantu Usk-
up dengan tugas terbatas. Dengan kata lain Diakon adalah pembantu khusus Uskup, 
sedangkan Imam adalah pembantu umum Uskup. 

Kardinal: 
Kardinal bukan jabaran hierarkis dan tidak termasuk struktur hierarkis. Kardinal 
adalah penasehat dan membantu Paus dalam tugas reksa harian seluruh Gereja. 
Mereka membentuk suatu dewan Kardinal. Jumlah dewan yang berhak memilih Paus 
dibatasi 120 orang di bawah usia 80 tahun. Seorang Kardinal dipilih oleh Paus secara 
bebas. 

Fungsi Khusus Hierarki
Seluruh umat Allah mengambil bagian di dalam tugas Kristus sebagai nabi (mengajar), 
Imam (menguduskan), dan Raja (menggembalakan). Pada kenyataannya umat tidak 
seragam, maka Gereja mengenal pembagian tugas tiap komponen umat (hierarki, 
biarawan/biarawati, dan Awam). Menjalankan tugas dengan cara yang berbeda. 
Berdasarkan keterangan yang telah diungkapkan di atas, fungsi khusus hierarki 
adalah:
- Menjalankan tugas Gerejani, yakni tugas-tugas yang langsung dan eksplistis 
menyangkut kehidupan beriman Gereja, seperti: pelayanan sakramen-sakramen, 
mengajar, dan sebagainya.
- Menjalankan tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman. Hierarki mem-
persatukan umat dalam iman dengan petunjuk, nasihat, dan teladan. 

Corak Kepemimpinan dalam Gereja
- Kepemimpinan dalam Gereja merupakan suatu panggilan khusus di mana 
campur tangan Tuhan merupakan unsur yang dominan. Kepemimpinan Gereja 
tidak diangkat oleh manusia berdasarkan bakat, kecakapan, atau prestasi 
tertentu. Kepemimpinan dalam Gereja tidak diperoleh oleh kekuatan manusia 
sendiri. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” 
Kepemimpinan dalam masyarakat dapat diperjuangkan oleh manusia, tetapi 
kepemimpinan dalam Gereja tidaklah demikian.
- Kepemimpinan dalam Gereja bersifat mengabdi dan melayani dalam arti semurni-
murninya, walaupun ia sungguh mempunyai wewenang yang berasal dari Kristus 
sendiri. 
- Kepemimpinan gerejani adalah kepemimpinan melayani, bukan untuk dilayani, 
sebagaimana yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Maka Paus disebut sebagai 
“Servus Servorum Dei”=hamba dari hamba-hamba Allah. 
- Kepemimpinan hierarki berasal dari Tuhan, maka tidak dapat dihapuskan oleh 
manusia. Kepemimpinan dalam masyarakat dapat diturunkan oleh manusia, 
karena ia memang diangkat dan diteguhkan oleh manusia.

Jumat, 10 Oktober 2014

PENGARUH BENCANA ASAP DI KOTA JAMBI

Bencana asap memang selalu menimpa Kota Jambi setiap tahunnya. bencana asap ini biasanya mulai sekitar bulan September dan akan berakhir ketika hujan mulai membasahi kota Jambi.
bencana asap membuat proses pendidikan di Kota Jambi mengalami gangguan karena kegiatan pembelajaran di luar ruang dikurangi intensitasnya, misalnya: diskusi kelompok di luar ruang akan ditiadakan, praktek pelajaran olah raga di luar ruang juga dikurangi, dan bahkan sekolah diliburkan ketika asap semakin tebal, sehingga jumlah hari efektif pembelajaran jelas berkurang.
dengan keadaan seperti ini, ada pelajar yang kemudian merasa senang karena libur, namun juga ada yang merasa rugi karena tidak mendapatkan haknya untuk belajar di sekolah.
apakah ini akan berpengaruh pada daya serap peserta didik terhadap materi pembelajaran? tentu kita bisa menjawab sendiri, bukan?
pengaruh inipun tidak hanya dalam pendidikan saja, dalam bidang lain pun juga terpengaruh, misalnya: banyak pesawat yang tidak bisa take off maupun landing... belum lagi banyak orang yang kemudian terkena ispa. lantas mau apa dengan keadaan ini?
sekolah di Kota Jambi berdasarkan intruksi Wali Kota Jambi diliburkan mulai Sabtu, 11 Oktober 2014 sampai dengan Rabu, 15 Oktober 2014. namun jika asap belum berkurang juga bisa jadi libur akan diperpanjang lagi.. enak khan???

Senin, 06 Oktober 2014

MAU APA DENGAN KATOLISITAS?

Pemahaman tentang katolisitas memang masih kurang di kalangan umat katolik. Sebenarnya dimanakah letak permasalahannya? Bukankah sebelum dibaptis (khususnya dewasa) sudah belajar melalui proses katekumenat selama kira-kira satu tahun? Bukankah sebelum menerima komuni pertama (bagi baptisan bayi) mereka sudah mengikuti pelajaran persiapan komuni selama kira-kira tiga bulan? Bukankah sebelum menerima sakramen krisma mereka juga sudah mengikuti pelajaran setidaknya empat belas kali pertemuan?
Ada apakah dibalik pemahaman yang kurang tentang katolisitas di kalangan umat katolik?
Proses beriman dalam agama katolik terjadi dalam dua hal, yaitu: Perayaan dan Pengajaran (Katekese), namun yang sering kali ditekankan hanya Perayaan semata. sehingga ketika orang katolik mengikuti Perayaan Ekaristi (misalnya) sudah dianggap cukup. Bagaimanakah memasukkan pengajaran dalam proses beriman?
mungkin seorang Imam ketika berkhotbah dalam perayaan ekaristi perlu memasukkan materi katekese, setidaknya lima menit dalam khotbah seorang imam perlu memberi materi katolisitas, dimulai dari hal-hal yang sederhana, misalnya tentang tanda salib, sikap dalam berdoa, hierarki gereja, dll.
atau adakah usulan atau saran dari para pemerhati iman umat katolik?

SEJARAH HARI GURU NASIONAL

Tepat tanggal 25 November setiap tahunnya, Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Pada tanggal 25 November juga diperingati hari lahirnya organisasi guru yaitu Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Namun tahukah Anda asal usul mengapa tanggal tersebut dipilih menjadi hari yang khusus bagi para pendidik?

Sejak sebelum kemerdekaan Indonesia, para tokoh pendidikan di Nusantara telah mendirikan organisasi bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tepatnya tahun 1912. Anggotanya merupakan kalangan Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah yang bekerja di sekolah-sekolah yang ada di tanah air. Kemudian, kuatnya keinginan untuk merdeka dan mendirikan negara sendiri yang bernama Indonesia membuat pengurus dan anggota PGHB mengubah nama organisasi mereka menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) di tahun 1932.

Usai kemerdekaan 17 Agustus 1945, para pengurus dan anggota PGI menyelenggarakan Kongres Guru Indonesia yaitu tepat di 100 hari setelah tanggal kemerdekaan tersebut, 24 -25 November 1945. Kongres yang berlangsung di Kota Surakarta tersebut diadakan untuk mengikrarkan dukungan para guru untuk NKRI. Saat itu, nama organisasi PGI pun diperbarui menjadi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Dilansir oleh situs resmi PGRI, karena jasa dan perjuangan yang telah dilakukan oleh para guru di tanah air, maka Pemerintah RI melalui Keppres No. 78 Tahun 1994 menetapkan tanggal berdirinya PGRI sebagai Hari Guru Nasional.

Keppres itu juga dimantapkan di UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang menetapkan tanggal 25 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru Nasional.