Kamis, 24 Mei 2012

SEJARAH KEKATOLIKAN DI JAMBI


       

Tahun 1911, daerah Palembang, Jambi, Bengkulu, dan Lampung dilayani oleh imam-imam dari tiga paroki. Paroki Sungai Selan (Bangka) yang dibuka tahun 1853 dengan imam pertamanya Pastor Jan Langenhoff (1853-1867). Selain melayani Bangka dan Belitung, paroki ini juga melayani umat Katolik di Palembang dan Jambi.
Pada 1 September 1888, Pastor Johannes van Meurs membuka dua sekolah di Tanjung Sakti. Sampai tahun 1890, di Tanjung Sakti terdapat 8 orang Katolik semuanya orang-orang pribumi. Tanjung Sakti tetap menjadi satu-satunya paroki di wilayah bagian Selatan Sumatra. Palembang dan Jambi tetap dilayani oleh imam-imam Kapusin di Sungai Selan, Bangka. Pada 27 Desember 1923, Vatikan mendirikan Prefektur Apostolik Bengkulu dengan pusatnya di Tanjung Sakti. Prefektur Apostolik Bengkulu melayani seluruh wilayah Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, dan Jambi; luasnya 5,5 kali luas Negara Belanda. Prefektur Apostolik Bengkulu baru memiliki sekitar 500 orang Katolik ketika pertama kali didirikan.
Selain paroki Tanjung Sakti yang lebih dulu didirikan, imam-imam SCJ juga membuka berbagai paroki di perkotaan di Bengkulu, Palembang, Jambi, dan Lampung. Paroki Jambi didirikan tahun 1935.
Sejak Indonesia memperoleh kedaulatan penuh, karya Gereja Katolik di Vikariat Apostolik Palembang dipulihkan. Paroki-paroki yang sudah didirikan sebelum tahun 1940-an, mulai dibuka kembali. Karya pendidikan dan karya kesehatan mulai melayani masyarakat.
Karya penting lain adalah dibukanya sekolah-sekolah baru mulai dari SD hingga SMA di berbagai paroki di Vikariat Apostolik Palembang. Sekolah-sekolah dari TK sampai SMA yang dikelola Keuskupan Agung Palembang (Yayasan Xaverius Palembang), konggregasi religius (Carolus Borromeus, Hati Kudus, BHK, FIC, FMM), dan awam Katolik.

Referensi
G. Vriens, Honderd Jaar Jezuiten Missie, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, tanpa tahun.
Huub Boelaars, Indonesianisasi: Dari Gereja Katolik di Indonesia menjadi Gereja Katolik Indonesia, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003. ISBN 979-21-0844-0
Herman Yosep Sunu Endrayanto, Kawanan Kecil di Sumatra Selatan, 1848-1942, Jakarta: Penerbit Cahaya Pineleng, 2009. ISBN 978-602-8037-167-1
Karel Steenbrink, Catholics in Indonesia, A Documented History, 1808-1942, Volume 1 A Modest Recovery, Leiden: KITLV Press, 2003. ISBN 90-6718-141-2
  • Karel Steenbrink, Catholics in Indonesia, 1808-1942, A documented history. Volume 2. The spectacular growth of a self confident minority 1903-1942, Leiden: KITLV Press, 2007. ISBN 978-90-6718-260-7
  • KWI, Buku Petunjuk Gereja Katolik Indonesia, Jakarta: Bagian Dokumentasi-Penerangan, 2000.
  • P. M. Muskens (Ed.), Sejarah Gereja Katolik Indonesia, 4 Jilid, Ende: Percetakan Arnoldus dan Pusat Dokumentasi Penerangan MAWI, 1972-1974.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar