Jumat, 25 Mei 2012

SEJARAH PENDIDIKAN DI KOTA JAMBI


BAB I
PENGANTAR

A.    Latar Belakang Masalah
       Pendidikan merupakan media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa agar menuju era aufklarung (pencerahan). Pendidikan dihadirkan untuk membentuk pribadi yang utuh, berbudaya dan beradab, baik itu melalui pendidikan formal maupun informal.[1]
Masyarakat Jambi merupakan masyarakat yang agamis. Berbagai segi kehidupan masyarakat diwarnai oleh sikap-sikap, perilaku, dan pandangan keagamaan. Agama Islam di Jambi merasuki sikap, tingkah laku, pandangan hidup, dan budaya rakyat. Para Orang tua sangat menekankan pendidikan agama kepada anak-anaknya.[2] Hal inilah yang menjadi faktor pendukung kemajuan sekolah-sekolah yang didirikan oleh Perkumpulan Tsamaratul Insan yang memang menekankan pada pendidikan keagamaan, terutama agama Islam.
Perkumpulan Tsamaratul Insan merupakan kelompok radikal dan anti kolonialisme. Pada awal munculnya organisasi ini pada tahun 1915, tugas utamanya adalah mengurusi segala hal pada saat ada warga yang mengalami kematian, mendirikan masjid-masjid, tempat belajar menurut faham Mazhab Syafi’i, mengurusi masalah wakaf dan rumah-rumah sakit. [3]
Tahun 1915 sampai 1930-an, Perkumpulan Tsamaratul Insan mendirikan sekolah-sekolah Islam di daerah Kota Jambi sebelah utara, yaitu: Madrasah Nurul Islam Tanjung Pasir, Madrasah Nurul Iman Ulu Gedong, Madrasah Jauharain, dan Madrasah Sa’adatut Darain di Tahtul Yaman.[4] Pelajaran formal yang disampaikan sekolah-sekolah tersebut hanya pelajaran agama Islam.[5]
Dalam perkembangannya, setelah Serikat Islam di Jambi dilarang oleh Belanda, Perkumpulan Tsamaratul Insan menggantikan peran Serikat Islam menjadi sebuah kekuatan sosial yang terang-terangan memusuhi Belanda. Sikap yang demikian mengundang kemarahan Belanda, sebagai akibatnya Belanda melarang dan membekukan Perkumpulan ini. Namun rakyat Jambi tetap mendukung keberadaan perkumpulan ini, sehingga meski dilarang, perkumpulan ini tetap menjalankan aktifitasnya, karena bagi mereka yang utama adalah kejayaan agama Islam.
Setelah kondisi Belanda makin terdesak, karena demikian banyaknya perlawanan terhadap Belanda, akhirnya Belanda menyadari kesalahannya dan memperbaiki kekeliruannya yang selama ini dilakukan, baik dalam birokrasi pemerintahan, bidang adat, dan bahkan keagamaan. Hal inilah yang semakin memicu diakuinya Perkumpulan Tsamaratul Insan dengan keempat madrasah dan pondok pesantren yang didirikannya. Tahun 1930-an merupakan puncak kejayaan Perkumpulan Tsamaratul Insan, di mana Para santri berdatangan dari berbagai desa dan daerah untuk menimba ilmu agama dan menjadi penghuni pondok pesantren dalam keempat madrasah yang didirikan Perkumpulan Tsamaratul Insan.[6]
Ketika Jepang masuk Indonesia pada tahun 1942, perlawanan fisik sesungguhnya tidak terjadi di Jambi. Tetapi masalah yang muncul kemudian adalah banyak Sekolah Rakyat (Angka Loro)[7] dan madrasah ditutup. Hal ini terjadi karena kesulitan penghidupan. Empat Madrasah dan pondok pesantren yang didirikan Perkumpulan Tsamaratul Insan pun mengalami kemunduran. Para santrinya banyak yang kembali ke desa dan daerahnya masing-masing.
Pada tahun 1947 setelah penghidupan menjadi lebih baik, M. Nur Lubis dan Ibrahim bersama para alim ulama dan guru agama mulai membina kembali madrasah-madrasah dan pondok pesantren, khususnya keempat madrasah dan pondok pesantren yang didirikan oleh Perkumpulan Tsamaratul Insan. Mereka menerima murid baru maupun murid lama yang kembali lagi. Selain itu juga didirikan Yayasan Pendidikan Islam Al Falah yang mengelola TK Islam dan SD Islam dan beberapa Yayasan Pendidikan yang bernuansa Islami yang mengelola sekolah-sekolah. Bahkan sampai tahun 2000-an masih muncul pengembangan dari Yayasan Pendidikan Islami, misalnya Sekolah Nurul Ilmi dan Al Azhar di kawasan Telanaipura-Jambi. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pendidikan berciri khusus Islami diterima oleh masyarakat Jambi karena masyarakat Jambi bersifat agamis.
Keinginan melepaskan belenggu masyarakat dari tindasan dan perlakuan tidak adil pemerintah kolonial Belanda juga muncul dalam misi pendidikan oleh Gereja Katolik. Semangat dasar pendidikan Katolik di daerah Jambi mengambil spiritualitas Pastor Van Lith, SJ (lahir 1863 - wafat 1926), yang dalam konteks jaman kolonial waktu itu, Beliau mendirikan lembaga pendidikan dengan idealisme mengentaskan orang Jawa dari keterpurukan dan ketidakadilan yang mereka derita.[8]
Jambi tahun 1935 sebagai daerah misi katolik juga mengalami hal yang sama dengan di Jawa. Banyak warga masyarakat yang masih mengalami kemiskinan dalam bidang ilmu pengetahuan dan ketertindasan dari penjajah Belanda. Pastor N. Hoogeboom, SCJ sebagai misionaris yang berkarya di Jambi pada masa itu berinisiatif untuk mendirikan sekolah. Karena waktu itu umat katolik kebanyakan dari masyarakat Tionghoa dan mereka tidak memiliki tempat untuk sekolah, maka didirikanlah HCS (Holland Chinese School)[9], yaitu sekolah rendah berbahasa Belanda untuk anak Cina. Pada saat itu yang mengajar adalah Pastor N. Hoogeboom, SCJ dibantu tiga suster misionaris.
Pada tahun 1942, ketika Jepang masuk ke Jambi, Sekolah HCS ditutup karena Pastor dan Suster yang berasal dari Belanda ditangkap dan ditahan di interniran.[10] Hal itu terjadi sampai berakhirnya revolusi fisik, yaitu sekitar tahun 1947.[11] Pastor N. Hoogeboom, SCJ pun ingin melanjutkan usaha beliau dalam misi pendidikan, maka didirikanlah sekolah rakyat untuk orang Tionghoa, karena kebutuhan kaum Tionghoa akan pendidikan waktu itu tidak terakomodir dalam sekolah-sekolah negeri dan madrasah yang umumnya memang bernafaskan Islami.[12] Sekolah rakyat untuk orang Tionghoa ini didirikan pada tanggal 1 agustus 1950 di daerah Rawasari dan diberi nama Sekolah Ta Tong dengan bahasa pengantar bahasa Tionghoa.[13] Bahasa pengantar pelajaran dipilih Bahasa Tionghoa karena pada kenyataannya waktu itu, kebanyakan mereka masih Cina totok, di mana bahasa sehari-hari yang dipakai dirumahnya adalah bahasa Tionghoa. Untuk karya pendidikan ini, beliau dibantu oleh tiga orang suster Fransiskanes Misionaris Maria (FMM). Selain membantu di sekolah Ta Tong, para suster juga melihat bahwa anak-anak prasekolah kurang diperhatikan dalam hal pendidikan, maka pada tanggal 19 Januari 1953 di daerah Rawasari, tepatnya di jalan Pinang Masak nomor 19 didirikanlah TK Xaverius.[14] Setelah TK tersebut berhasil meluluskan anak-anaknya, maka pada tanggal 1 Agustus 1954 didirikanlah SD Xaverius[15] di dekat TK Xaverius tersebut. Waktu itu, anak-anak pribumi sekolahnya di SD Xaverius, sedangkan anak-anak Tionghoa sekolahnya di Sekolah Ta Tong. Tahun 1959 karena adanya usaha pemerintah untuk Indonesianisasi, maka sekolah Ta Tong berubah nama menjadi sekolah Santo Yusup dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Selanjutnya, dalam rangka pembauran dan efisiensi, sekolah Santo Yusup akhirnya ditutup, dan siswa-siswanya digabung dengan SD Xaverius[16], karena guru yang mengajar di Sekolah Santo Yusup dan SD Xaverius sama.
Pada tahun 1959, karena melihat bahwa banyak lulusan SD Xaverius kebingungan mau melanjutkan kemana, maka dibukalah SMP Xaverius dengan mengambil tempat tidak jauh dari SD Xaverius, yaitu di belakang Gereja Katolik sekarang ini.
Pada tahun 1967 dibuka SMA Xaverius. Pada mulanya, tempat untuk SMA Xaverius juga berada di belakang Gereja Katolik di daerah Rawasari. Namun karena keberadaan sekolah tersebut di dekat terminal, maka dirasa kurang mendukung proses pendidikan. Akhirnya sekolah tersebut dipindah ke Jl. Marsda Abdurrahman Saleh, The Hok. Perpindahan itu meliputi SMP dan SMA Xaverius saja dengan alasan SMP dan SMA sama-sama dalam jenjang pendidikan menengah[17]. Sedangkan TK dan SD masih tetap di Jalan Putri Pinang Masak, Rawasari. Hal ini juga untuk memperjelas tentang siapa yang mengelola sekolah tersebut. TK dan SD Xaverius di Rawasari pengelolaannya diserahkan kepada para suster Fransiskanes Misionaris Maria (FMM) melalui Yayasan Bhakti Utama sedangkan SMP dan SMA Xaverius di The Hok pengelolanya adalah Yayasan Xaverius Palembang.
Guru-guru yang mengajar di Sekolah Xaverius kebanyakan berasal dari Jawa dan berlatar belakang pendidikan dari Universitas Katolik. Hal inilah yang kemudian membuat pola pendidikan di Sekolah Xaverius berbeda dengan pola pendidikan sekolah-sekolah yang umum di Jambi. Pendekatan yang humanis, penanaman semangat untuk bersaing menjadi yang terbaik, dan kedisiplinan yang kuat menjadi ciri khusus sekolah Xaverius. Dengan demikian, dalam waktu yang relatif singkat banyak prestasi yang berhasil diraih siswa-siswi sekolah Xaverius. Hal ini membuat banyak orang di kota Jambi menginginkan untuk masuk ke sekolah Xaverius. Melihat antusiasme tersebut, dan supaya sekolah Xaverius menjangkau kawasan Telanaipura yang merupakan kawasan perkantoran Propinsi Jambi maka pada tahun 1985 dibukalah SD, SMP, dan SMA Xaverius di daerah Sungai Kambang, Telanaipura. Namun pada tahun 1987, SD Xaverius dipindahkan ke Jelutung dan bersamaan dengan itu didirikan juga TK Xaverius. TK dan SD Xaverius di Jelutung ini kemudian diberi nama TK dan SD Xaverius 2 Jambi. Sedangkan SMP dan SMA Xaverius di Telanaipura diberi nama SMP dan SMA Xaverius 2 Jambi.
Semakin banyaknya sekolah berdiri di Kota Jambi dan diberlakukannya sekolah gratis di sekolah-sekolah negeri membuat Sekolah Xaverius berkurang peminatnya. Namun ternyata masih ada orang tua siswa yang menyadari bahwa pendidikan swasta menuntut peran orang tua siswa dalam pembiayaan dan ada juga orang tua yang menyadari bahwa untuk mendapatkan pendidikan berkualitas tidak ada ruginya mengeluarkan biaya, sehingga sampai saat ini masih tetap ada orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah Xaverius.
Tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh semua sekolah sebenarnya sama, yaitu membebaskan murid dari keterbelengguan. Yang membedakan adalah sistem pengelolaan, sistem pembelajaran, dan penekanan pengajarannya. Sekolah dengan nafas Islami tentu saja menekankan pengajaran agama Islam dalam proses pembelajarannya, sedangkan Sekolah dengan nafas Katolik menekankan penanaman nilai-nilai pendidikan kristiani, termasuk didalamnya kedisiplinan.

B.    Permasalahan dan Ruang Lingkup
       Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah “muncul dan berkembangnya Sekolah Xaverius di Kota Jambi sebagai sekolah berciri khas kristiani di tengah-tengah masyarakat yang bercorak Islami pada tahun 1950 sampai dengan 1985”. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, penelitian ini akan difokuskan pada: bagaimana terbentuknya sekolah Xaverius di Kota Jambi? Dan mengapa sekolah Xaverius dapat berkembang dan bertahan di Kota Jambi?
       Persoalan pertama akan membahas tentang proses munculnya sekolah Xaverius di Kota Jambi. Dalam hal ini akan dicari siapa tokoh-tokoh di balik munculnya sekolah Xaverius dan apa motif atau alasan mendirikan sekolah Xaverius di Kota Jambi.
       Persoalan kedua akan membahas tentang kehidupan masyarakat Kota Jambi dan kondisi demografis, geografis, administratif, serta hal-hal lain yang mendukung. Di sini akan diulas secara mendalam khususnya berkaitan dengan kehidupan agamis masyarakat Kota Jambi yang mempengaruhi seluruh kehidupan pribadi yang bersangkutan.
       Lingkup spasial dalam penulisan ini adalah Kota Jambi dari segi administratif pemerintahan, khususnya Kecamatan Jambi Pasar, Kecamatan Kota Baru, Kecamatan Jelutung, dan Kecamatan Telanaipura. Hal ini dikarenakan keberadaan sekolah Xaverius di kawasan kecamatan yang disebut di atas.
       Lingkup temporal meliputi tahun 1950 sampai tahun 1985. batasan awal 1950 merupakan saat munculnya sekolah Ta Tong yang menjadi cikal bakal sekolah Xaverius, sedangkan batasan akhir 1985 karena pada tahun tersebut sekolah Xaverius 2 sebagai pengembangan dari sekolah Xaverius yang sudah ada mulai didirikan.
       Sekolah Xaverius yang dibahas dalam Skripsi ini hanya sekolah Xaverius yang berada di Kota Jambi, meskipun sebenarnya keberadaan sekolah Xaverius tidak bisa dipisahkan dari keberadaan sekolah-sekolah Xaverius di daerah Sumatera Selatan. Untuk melihat perkembangan sekolah Xaverius, maka pembahasanya juga akan meliputi beberapa tahun berikutnya.

C.    Arti Penting dan Tujuan
              Skripsi yang membahas tentang sejarah pendidikan memang pernah dibuat, namun yang membahas secara khusus tentang Sekolah Xaverius di Kota Jambi belum pernah dibuat. Jadi dengan penulisan skripsi tentang Sejarah Pendidikan, Studi Kasus : Sekolah Xaverius di Kota Jambi tahun 1950 – 1985 akan memperkaya historiografi (penulisan sejarah) di Indonesia, khususnya di Kota Jambi. Oleh karena itu, penulisan ini diharapkan memiliki arti penting dalam penulisan sejarah pendidikan di Indonesia, khususnya di Jambi sebagai salah satu sumbangan informasi maupun gagasan mengenai perkembangan sejarah pendidikan ditingkat lokal, yaitu di Kota Jambi sehingga dapat memperkaya khasanah informasi maupun gagasan dalam penulisan sejarah pendidikan Indonesia ditingkat nasional. Selain itu dapat dijadikan sumber referensi bagi siapa saja yang mendalami tentang sejarah pendidikan di Kota Jambi.
              Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberi penjelasan bahwa sekolah dengan ciri khas apapun asalkan bertujuan untuk mencerdaskan dan membebaskan orang-orang dari keterbelengguan akan dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu juga bertujuan untuk menggambarkan bahwa dengan banyaknya tantangan akan membuat sesuatu menjadi lebih kuat dan berkembang subur.
              Selain itu, Skripsi ini dibuat guna memenuhi sebagian syarat untuk meraih gelar Sarjana Strata Satu Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Ilmu Sosial, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Batanghari – Jambi.

D.    Landasan Teoritis dan Pendekatan
Francis Bacon mengungkapkan pentingnya pendidikan bagi manusia. Sumber pokok kekuatan manusia adalah pengetahuan. Manusia dengan pengetahuannya mampu melakukan olah-cipta sehingga ia mampu bertahan dalam masa yang terus maju dan berkembang. Proses olah-cipta tersebut terlaksana berkat adanya sebuah aktivitas yang dinamakan Pendidikan.[18] Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sebuah kegiatan perbaikan tata-laku dan pendewasaan manusia melalui pengetahuan.
Kegiatan tersebut dijalankan secara informal misalnya melalui pembiasaan dalam keluarga dan hidup bermasyarakat, dan secara formal yang biasanya dijalankan melalui sekolah. Kedua cara pendidikan tersebut sama pentingnya dan saling mendukung dalam pembentukan kecerdasan dan karakter pribadi seseorang[19]. Bila kita lihat jauh ke belakang, pendidikan yang kita kenal sekarang ini sebenarnya merupakan ”adopsi” dari berbagai model pendidikan di masa lalu. Pada masa Islam sistem pendidikan itu disebut dengan pesantren atau disebut juga pondok pesantren. Berasal dari kata funduq (funduq=Arab atau pandokheyon=Yunani yang berarti tempat menginap). Seperti halnya mandala, pada masa Islam istilah tersebut lebih dikenal dengan sebutan ”depok”, istilah tersebut menjadi nama sebuah kawasan yang khas di kota-kota Islam, seperti Yogyakarta, Cirebon dan Banten. Istilah depok itu sendiri berasal dari kata padepokan yang berasal dari kata patapan yang merujuk pada arti yang sama, yaitu “tempat pendidikan. Dengan demikian padepokan atau pesantren adalah sebuah sistem pendidikan yang merupakan kelanjutan sistem pendidikan sebelumnya.
Pada masa ini, wajah pendidikan Indonesia lebih terlihat sebagai sosok yang memperjuangkan hak pendidikan. Hal ini dikarenakan pada saat penjajahan Belanda, sistem pendidikan yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial adalah sistem pendidikan yang bersifat diskriminatif. Artinya hanya orang Belanda dan keturunannya saja yang boleh bersekolah, adapun pribumi yang dapat bersekolah merupakan pribumi yang berasal dari golongan priyayi. Namun kemudian mulai timbul kesadaran dalam perjuangan untuk menyediakan pendidikan untuk semua kalangan, termasuk pribumi. Maka hadirlah berbagai institusi pendidikan yang lebih memihak rakyat, seperti misalnya Taman Siswa dan Muhammadiyah.[20]
Pada masa ini sistem Eropa dan tradisional (pesantren) sama-sama berkembang. Bahkan bisa dikatakan, sistem ini mengadopsi sistem pendidikan seperti yang kita kenal sekarang yaitu mengandalkan sistem pendidikan pada institusi formal seperti sekolah dan pesantren.
Sejarah pendidikan di Indonesia dimulai pada zaman berkembangnya satu agama di Indonesia. Dapat dikatakan, bahwa lembaga-lembaga pendidikan dilahirkan oleh lembaga-lembaga agama dan  mata pelajaran yang tertua adalah pelajaran tentang agama.
Pada Jaman Pemerintahan Hindia Belanda dikenal adanya Politik Etis (Etische Politiek)
.[21] Dalam Politik Etis ini dikatakan bahwa kepada orang-orang Bumiputera harus diperkenalkan pada kebudayaan dan pengetahuan barat yang telah menjadikan Belanda bangsa yang besar. Gagasan tersebut dicetuskan semula olah Van Deventer pada tahun 1899 dengan mottonya “Hutang Kehormatan” (de Eereschuld)[22]. Politik etis ini diarahkan untuk kepentingan penduduk Bumiputera dengan cara memajukan penduduk asli secepat-cepatnya melalui pendidikan secara Barat. Tujuan pendidikan selama periode kolonial tidak pernah dinyatakan secara tegas.
       Konsep sekolah berciri khas keagamaan merupakan suatu lembaga pendidikan yang memang menekankan pelajaran agama dan perilaku, serta tatanan hidup beragama yang baik. Dan dalam masyarakat yang agamis seperti di Jambi, sekolah-sekolah seperti ini mendapat tempat yang baik. Maka pendekatan sosiologis yang menitikberatkan pada pembahasan interaksi individu dalam sekolah, dalam masyarakat, maupun masalah yang berhubungan dengan kemasyarakatan, dan pendekatan antropologis akan digunakan untuk mendukung pendapat ini.
       Tinjauan secara ekonomi juga akan dilihat, karena sekolah berciri khas keagamaan biasanya merupakan sekolah swasta yang untuk operasionalnya menggunakan dana swadaya. Maka ada anggapan bahwa sekolah swasta adalah sekolah untuk anak dari keluarga yang tingkat kehidupan ekonomi orang tuanya menengah ke atas. Pendekatan ekonomi di sini juga untuk melihat gejala ekonomi masyarakat yang dituntut untuk mampu bertahan dan terpenuhi kebutuhan hidup dasarnya yang dari waktu ke waktu terus meningkat, serta untuk melihat bagaimana mereka mampu memenuhi kebutuhan sekolah untuk anak-anaknya.
       Pendekatan yang melihat pola-pola perkembangan, kelangsungan serta perubahan dengan memperhatikan berbagai tinjauan dan sudut pandang serta tidak mengabaikan sumber-sumber dari masyarakat seperti foto-foto, kesaksian, dan sumber-sumber sejarah non arsip inilah yang akan digunakan dalam penyusunan skripsi ini. Pendekatan seperti ini sudah digunakan oleh Sartono Kartodirdjo[23] saat menyusun disertasinya yang berjudul Pemberontakan Petani Banten 1888.[24]

E.    Metode Penelitian dan Sumber
              Sejarah Pendidikan merupakan suatu instrumen untuk merekonstruksi peristiwa  sejarah  mulai dari munculnya institusi atau lembaga yang bermaksud untuk memperkembangkan kepribadian dan pengetahuan seseorang baik secara formal maupun informal (history  as  past  actuality) menjadi sejarah sebagai kisah keberadaan sekolah dan / atau lembaga pendidikan (history as written).[25] Keberadaan sekolah dan / atau lembaga pendidikan ini bisa diadakan secara mandiri perorangan maupun dalam wadah Yayasan. Istilah yayasan yang dimaksud adalah suatu lembaga berbadan hukum yang secara khusus mengurus keberadaan dan keberlangsungan satuan pendidikan / sekolah.
              Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode sejarah, yaitu seperangkat prinsip-prinsip yang sistematis dan aturan-aturan untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif, menilai secara kritis, dan menyajikan secara sistematis dalam bentuk laporan tertulis. Tujuan dari metode ini adalah demi tercapainya kebenaran sejarah.[26]
              Langkah – langkah dalam metodologi sejarah yaitu: heuristik atau pengumpulan bahan, kritik sumber internal dan eksternal, interpretasi dan historiografi atau penulisan sejarah.[27]
              Sumber yang digunakan dalam penulisan ini meliputi:
       pertama, sumber setempat dan tidak sejaman, berupa dokumen resmi tercetak, seperti: Akte Notaris Nomor 11 / 1930 dengan Notaris: Christian Maathius tentang Yayasan Xaverius Palembang.
       Kedua, sumber setempat dan sejaman berupa arsip lokal seperti: akte pendirian sekolah dan akte ijin operasional sekolah, wawancara lisan, dan literatur tertulis. Wawancara lisan dilakukan dengan beberapa pelaku sejarah atau orang-orang yang terlibat dalam muncul dan berkembangnya sekolah Xaverius yang sampai sekarang masih hidup. Sedangkan literatur tertulis didapatkan dari tulisan-tulisan yang dibuat pada saat ada perayaan khusus terkait dengan sekolah atau yayasan Xaverius.
              Sumber-sumber tersebut jika ditinjau dari sudut jenisnya dapat  diklasifikasikan berupa dokumen atau laporan resmi, buku-buku literatur dan tokoh-tokoh yang mengalami atau mengetahui tentang sekolah Xaverius, sedangkan jika ditinjau dari derajat kualitasnya dapat diklasifikasikan menjadi sumber primer, sumber sekunder, dan sumber tersier. Dalam hal ini, secara hitungan jumlah, sumber primer tidak harus banyak, tetapi dalam sumber primer  tersebut terkandung permasalahan pokok.
              Semua sumber tertulis tersebut diperoleh lewat studi kepustakaan di Perpustakaan SD, SMP, dan SMA Xaverius 1 dan 2 Jambi, arsip di kantor Yayasan Xaverius Koordinatorat Jambi dan Kuala Tungkal, Perpustakaan Daerah Jambi, koleksi pribadi, dan lain-lain.
              Semua fakta sejarah yang telah diperoleh, kemudian diberi makna. Selanjutnya dirangkai satu sama lain sehingga menjadi jalinan cerita yang sesuai dengan metode sejarah. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan karya sejarah yang baik, yaitu tidak hanya tergantung pada kemampuan meneliti sumber dan memunculkan fakta sejarah, melainkan juga kemampuan imajinasi untuk mengurai sejarah secara terperinci.[28]

F.    Tinjauan Pustaka
Pembahasan tentang Sekolah Xaverius sudah ditulis oleh beberapa penulis lain, namun masih dalam bentuk makalah singkat yang kemudian dikumpulkan oleh editor dan dicetak menjadi buku kenangan untuk memperingati ulang tahun Sekolah atau Yayasan Xaverius, misalnya: buku kenangan 25 tahun (1967 – 1992) SMA Xaverius 1 Jambi yang disusun oleh A. Haryandoko dan diterbitkan oleh panitia peringatan 25 tahun SMA Xaverius 1 Jambi, seksi buku peringatan, tahun 1991. Buku tersebut berisi tentang riwayat singkat Yayasan Xaverius Cabang Jambi, mereka yang berkarya di SMA Xaverius, prestasi yang diraih, seluk beluk SMA Xaverius 1 Jambi, dan statistik perkembangan siswa.
Buku lain yang membahas secara sekilas tentang sekolah Xaverius Jambi adalah buku 60 tahun Yayasan Xaverius Palembang yang disusun oleh Syahrulsyam dan F.X. Soemardjo diterbitkan oleh Panitia peringatan HUT ke 60 Yayasan Xaverius Palembang, Seksi buku peringatan, tahun 1991.
Buku kenangan 60 tahun Paroki Santa Teresia Jambi yang disusun oleh L.Y. Tukijan dan diterbitkan oleh Seksi Buku Kenangan, tahun 1995 juga melengkapi keterangan yang dibutuhkan berkaitan dengan karya gereja katolik, terutama dalam bidang pendidikan.
Sedangkan buku utama yang dijadikan sebagai acuan adalah In Omnibus Optimum (Bersatu Kita Maju, Memberi Pelayanan Terbaik) 75 Tahun Yayasan Xaverius Palembang yang dibuat oleh tim buku 75 tahun YXP dan diterbitkan tahun 2006. Buku 75 tahun YXP dijadikan sebagai acuan utama karena buku tersebut yang paling lengkap membahas semua sekolah Xaverius di lingkup Yayasan Xaverius Palembang dan paling up to date.
       Berdasar kenyataan tersebut, membuat penulis tertantang untuk menyajikan sejarah pendidikan, secara khusus Sejarah Sekolah Xaverius di Kota Jambi.
       Buku pelengkap yang digunakan adalah Profil Propinsi Jambi yang diterbitkan oleh Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara tahun 1992. Dalam buku ini diungkap mengenai sejarah pendidikan di Propinsi Jambi.
       Buku pelengkap lain adalah Menggugat Pendidikan Indonesia, Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantoro karya Moh. Yamin diterbitkan oleh Ar-Ruzz Media – Yogyakarta tahun 2009. Buku ini membahas tentang konsep-konsep pendidikan di Indonesia.
      
G.    Sistematika Penulisan
       Sejarah Pendidikan, Studi kasus: Sekolah Xaverius Di Kota Jambi  (khususnya SMA Xaverius 2 Jambi) Tahun 1950 – 1985 merupakan judul skripsi ini. Pada bab I skripsi diberikan sebuah pengantar yang diharapkan memberi arah seluruh penulisan dan memberi gambaran singkat tentang isi skripsi. Bab I berisi uraian mengenai sejarah pendidikan secara umum di Kota Jambi. Pada bagian ini akan dimunculkan beberapa fakta mengenai keberadaan lembaga-lembaga pendidikan, khususnya lembaga pendidikan formal di Kota Jambi yang sudah ada di kisaran tahun 1950 an. Bagian selanjutnya, adalah Bab II yang berisi uraian mengenai sejarah munculnya sekolah Xaverius di Kota Jambi. Pada bagian ini juga akan diuraikan tentang sejarah masuknya kekatolikan di Jambi, karena keberadaan sekolah Xaverius memang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan agama Katolik yang memang menekankan bahwa salah satu bidang pelayanannya adalah dalam hal pendidikan.[29] Pada bagian Bab III berisi uraian mengenai perkembangan Sekolah Xaverius di Kota Jambi dari awal berdirinya yaitu: 1 Agustus 1950 sampai berdirinya SMA Xaverius 2 Jambi yang merupakan pengembangan terakhir sekolah Xaverius di Kota Jambi pada tahun 1985, kesulitan - kesulitan yang dihadapi dalam hal mengelola dan proses perkembangan Sekolah Xaverius. Bab IV atau bab terakhir berisikan kesimpulan atau jawaban ringkas atas permasalahan yang dimunculkan dalam skripsi ini. Selain itu juga akan dimunculkan beberapa hal baik yang ada di sekolah Xaverius dan beberapa saran untuk perbaikan bagi sekolah Xaverius di Kota Jambi dan pola pendidikan secara umum.    
      


      
BUKU ACUAN / REFERENSI

  1. A.Heuken, SJ, Ensiklopedi Gereja, jilid 3
2.   L.Y. Tukijan, Buku Kenangan 60 tahun Gereja Katolik Paroki St. Teresia-Jambi, 1995
3.   ______, Jambi : Profil Propinsi Republik Indonesia, Jakarta: Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara, 1992
4.   Mestika Zed, Metodologi Sejarah, Padang : 2005
5.   Tim Buku 75 tahun YXP, IN OMNIBUS OPTIMUM - Bersatu Kita Maju, Memberi Pelayanan Terbaik, Palembang : Penerbit YXP, 2006
  1. Yamin, Moh., Menggugat Pendidikan Indonesia: Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009


[1] Yamin, Moh., Menggugat Pendidikan Indonesia: Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), hlm. 15.
[2] ___________, Jambi : Profil Propinsi Republik Indonesia (Jakarta: Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara, 1992), hlm. 310 - 311
[3] ibid., hlm. 302
[4] Sekolah-sekolah yang didirikan oleh perkumpulan ini sebenarnya lebih berbentuk pondok pesantren, yaitu suatu penggabungan antara sekolah dengan pengajaran agama secara inklusif dalam kehidupan bersama antara guru dengan murid atau antara Kyai dengan santri.
Madrasah adalah nama resmi untuk sekolah yang formal, sedangkan pondok pesantren adalah nama tempat tinggal dimana para santri tinggal dan biasanya menimba ilmu di madrasah. Sekolah-sekolah tersebut semuanya berada di daerah Jambi Seberang Kota.
[5] ___________, Op.cit., hlm.15-17
[6] Ibid., hlm. 302-303 ; Desa dari mana para santri berasal adalah Tanjung Pasir, Ulu Gedong, Tahtul Yaman, dan sekitar pondok pesantren tersebut berada. Sedangkan daerah yang dimaksud adalah dari daerah luar kota Jambi, misalnya Sarolangun, Palembang, dan lainnya.
[7] Sekolah Rakyat atau Angka Loro merupakan jenis sekolah untuk orang biasa. Kurikulumnya sekolah ini sangat sederhana, yaitu meliputi pelajaran membaca, menulis, dan berhitung.
[8] Waruwu, Fidelis E. Arah Sekolah Katolik, makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Grand Design Sekolah Katolik, Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK), di Grand Hotel Semarang tahun 2009.
[9] Tim Buku 75 tahun YXP, IN OMNIBUS OPTIMUM - Bersatu Kita Maju, Memberi Pelayanan Terbaik (Palembang : Penerbit YXP, 2006), hlm. 49
[10] Buku Kenangan 60 tahun Gereja Katolik Paroki St. Teresia-Jambi (Jambi: Seksi Buku Kenangan, 1995), hlm. 7-8
[11]_________, op.cit., hlm. 304
[12] Orang Tionghoa di Jambi sebagian besar penganut agama nenek moyang mereka (Khonghucu), Buddha, Kristen, dan Katolik.
[13] Tim Buku 75 tahun YXP, op.cit., hlm. 64.
[14] TK tersebut sekarang dikenal dengan nama TK Xaverius 1.
[15] SD tersebut sekarang dikenal dengan nama SD Xaverius 1. Berada di Jalan Putri Pinang Masak no. 19 Jambi.
[16] Tim Buku 75 tahun YXP, op.cit., hlm. 64
[17] Pemahaman tahun 1967, Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah masuk dalam kategori pendidikan menengah. Hal ini berbeda dengan pemahaman jaman sekarang yang menempatkan SMP sebagai pendidikan dasar.
[18] Yamin, Moh., op. cit., hlm. 40
[19] Ibid., hlm. 15.
[20] Arikunto, Suharsimi, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hlm. 57
[21] Nasution, S., Sejarah Pendidikan Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hlm. 15
[22] Ibid., hlm. 15
[23] Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada. Beliau mempelopori penggunaan metode multidimensional atau dapat juga disebut metode developmentalis. Pendekatan ini memberikan peran lebih kepada ilmu-ilmu sosial dalam membantu memecahkan permasalahan di masa lampau.
[24] Kompasiana, Perkembangan Historiografi Indonesia, dalam kolom OPINI pada tanggal 10 Desember 2010.
[25] Mestika Zed, Metodologi Sejarah, Padang : 2005
[26] Gilbert J. Garraghan, A Guide To Historical Method, (New York: Fordham University Press, 1957), hlm. 33
[27] Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, terjemahan Nugroho Notosusanto (Jakarta: Yayasan Penerbit Univ. Indonesia, 1975), hlm. 78
[28] Bambang Purwanto, “Interpretasi dan Analisa dalam Sejarah”, makalah disampaikan pada Penataran Metodologi Sejarah, Yogyakarta, lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta, 16 Februari 1997, hlm.7
[29] bidang pelayanan agama katolik meliputi bidang kerohanian, sosial, kesehatan, pendidikan, dll.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar