Jumat, 29 Juni 2012

BAHAN MOS SMP / SMA XAVDA TAHUN PELAJARAN 2012 / 2013


SEJARAH SEKOLAH XAVERIUS DI KOTA JAMBI

Sekolah-Sekolah Xaverius di Jambi telah menjalani tahun-tahun yang panjang dengan merangkak dari bawah. Berawal dari sebuah sekolah kecil, dengan tempat yang kecil dan jumlah murid yang sedikit kemudian berkembang menjadi beberapa Sekolah Xaverius dengan gedung yang megah dan jumlah murid yang mencapai sedikitnya lima ratusan siswa per sekolahnya. Alumninya pun telah tersebar di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri dengan berbagai profesi.
Keberadaan Sekolah-Sekolah Xaverius di Jambi seiring dengan proses masuknya kekatolikan di Jambi.
  • 1 Agustus 1950 Pastor Nicolaus Hoogeboom dan dua orang Tionghoa, yaitu Cong Ming Sing dan Lim Sun Tek memprakarsai berdirinya sekolah Tionghoa (sekolah Ta Tong).
  • Desember 1952, tiga orang suster FMM tiba di Jambi. Mereka mengambil alih seluruh pastoran, sekolah, dan kedua rumah yang ada kemudian didirikan klinik kesehatan, yang sekarang berkembang menjadi Rumah Sakit St. Theresia dan sebuah SMP. Semula suster-suster FMM bekerja di sekolah Ta Tong (Sekolah Dasar untuk orang-orang Cina) dan membuka TK Xaverius pada tanggal 19 Januari 1953.
  • 1 Agustus 1954, Suster-suster FMM membuka SD Xaverius 1 Jambi. Berikutnya, pada tahun 1959 sekolah Ta Tong diubah namanya menjadi Sekolah Santo Yusup dan menggunakan bahasa pengantar Bahasa Indonesia. Dalam rangka pembauran, Sekolah Santo Yusup akhirnya ditutup dan siswa-siswanya digabung dengan SD Xaverius 1 Jambi.
  • Pastor Tan Hap Siu, SCJ dan Pastor Jacobus van Beek, SCJ memprakarsai berdirinya SMP dan SMA Xaverius Jambi.
  • 1 Januari 1959, gedung untuk SMP Xaverius selesai di bangun, maka pada tanggal itu juga berdirilah SMP Xaverius di Jambi. Pada mulanya hanya terdiri dari satu kelas dengan jumlah murid 11 orang.
  • Secara resmi SMA Xaverius Jambi dibuka pada 1 Januari 1967 dengan dua kelas, jumlah murid mencapai 54 orang.
  • Pastor Henricus Henslok, SCJ dibantu tokoh-tokoh umat katolik, yaitu: F. Witono, Albert Lembong, Eddy Hasan, Yap, Eddy Lim, Y. Kamiyanto, dan Lazuardi Syah, pada tahun 1977 berhasil membangun SMP dan SMA Xaverius dalam satu kompleks dan diresmikan oleh Uskup Keuskupan Palembang Mgr. Joseph Soudant dan Bapak Mohammad Musa, Kepala Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jambi.
  • Pada tahun 1985 dibuka sekolah jauh atau sekolah pengembangan SMP dan SMA Xaverius di Telanaipura. Juli 1985 secara resmi dibuka SMP Xaverius 2 Jambi di Telanaipura. Pada tahun 1985, TK dan SD Xaverius 2 Jambi juga dibuka di Telanaipura menjadi satu kompleks.
  • SMA Xaverius 2 baru diresmikan setahun kemudian, yaitu Juli 1986.
  • Tahun 1987, TK dan SD Xaverius 2 dipindahkan ke daerah Jelutung, Jambi.
  • Jadi para tahun 1987, di Jambi sudah ada TK Xaverius 1 dan SD Xaverius 1 yang dikelola oleh suster-suster FMM dengan Yayasan Stella Marisnya, TK Xaverius 2 dan SD Xaverius 2 di Jelutung, SMP dan SMA Xaverius 1 di Palmerah, serta SMP dan SMA Xaverius 2 di Telanaipura yang dikelola oleh Yayasan Xaverius Palembang. 
Visi SMP-SMA Xaverius 2 Jambi
“Lembaga pendidikan yang setia pada ciri khas katolik, pencerdasan kehidupan bangsa, kebersamaan, dan profesionalitas dalam pendampingan kaum muda sebagai pribadi yang utuh

Misi SMP-SMA Xaverius 2 Jambi
  1. Melaksanakan pembelajaran dan pembimbingan secara efektif dengan dasar cinta kasih sehingga setiap siswa dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki.
  2. Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga sekolah.
  3. Menumbuhkan semangat kompetisi yang sehat dan jujur kepada seluruh warga sekolah.
  4. Menciptakan situasi yang kondusif untuk mendorong dan membantu siswa agar mengenali potensi dirinya sehingga dapat berkembang secara optimal.
  5. Memberi kesempatan kepada seluruh warga sekolah agar dapat mengembangkan profesionalitas mereka secara optimal.
  6. Memberi keteladanan dalam sikap dan perilaku guna menunjang pendidikan dan pengajaran untuk membentuk pribadi siswa yang utuh.
  7. Menerapkan manajemen partisipatif dengan berusaha melibatkan seluruh warga sekolah dan kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar