Rabu, 18 Juli 2012

IMAN MEMPERBARUI HIDUP PRIBADI


PENDIDIKAN RELIGIOSITAS
SMA XAVDA JAMBI
KELAS XII

BAB II
IMAN MEMPERBARUI HIDUP PRIBADI
A. Kompetensi Dasar
Memahami bahwa iman membarui hidup pribadi
B. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
1. Mengidentifikasi pengalaman gagal dan jatuh dalam hidup pribadi
2. Mengidentifikasi contoh usaha-usaha pembaruan hidup pribadi
3. Menjelaskan peranan iman dalam hidup
4. Menjelaskan bahwa kedekatan hubungan pribadi dengan Tuhan memberi daya atau kekuatan rohani untuk membarui hidup pribadi
5. Membuat kegiatan sebagai bentuk pembaruan hidup demi masa depan
6. Membuat laporan atas kegiatan
C. Landasan Pemikiran
Setiap orang menginginkan hidupnya selalu berhasil. Kenyataan yang terjadi adalah orang sering mengalami kegagalan dalam hidupnya, misalnya gagal dalam studi, cinta, kerja, usaha, mendidik anak, pergaulan, dan sebagainya. Peristiwa kegagalan sering dihayati sebagai peristiwa akhir dari segala-galanya, atau tidak ada harapan sama sekali. Akibatnya orang semakin jatuh ke dalam kegagalan itu sendiri dan tidak mau berusaha mengatasinya. Orang lebih memilih untuk lari dari kenyataan, dengan melakukan sesuatu yang dianggapnya mampu mengatasi persoalan tersebut, misalnya minum minuman keras, mengkonsumsi narkoba, berjudi, begadang, foya-foya, dan sebagainya. Bila hal ini tidak mampu mengatasi kegagalan hidupnya, orang menjadi frustasi, putus asa, dan akhirnya melakukan bunuh diri.
Sebaliknya, ada orang yang mengalami kegagalan, tetapi mampu menyikapi kegagalan itu dengan bijaksana. Orang tidak larut dalam kegagalan, tetapi mau bangkit dan berusaha agar tidak mengalami kegagalan lagi. Orang seperti ini boleh mengalami perubahan hidup pribadinya. Perubahan hidup itu dapat terjadi kalau orang memiliki lima sikap :

    1. EMPATI, yaitu kesanggupan untuk merasakan dan mengerti dengan tepat apa yang dialami dan dirasakan, serta mampu mengungkapkan pengertian itu dengan jelas.
2. OTENTIK, yaitu sikap jujur dan terbuka untuk mengungkapkan apa yang sesungguhnya ada dalam dirinya. Tidak menutup-nutupi meski nyatanya jelek atau memalukan.
3. RESPEK, yaitu sikap mau menerima diri apa adanya dengan penuh kasih, karena sadar bahwa dirinya tetap bernilai dan memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi lebih baik.
4. KONFRONTASI, yaitu sikap mau mencari kekurangan dan kelemahan diri, serta menyadari sepenuhnya bahwa kekurangan dan kelemahan itu sebagai miliknya.
5. PERWUJUDAN DIRI, yaitu sikap berjuang untuk mencapai realisasi diri yang semakin penuh.

    Sikap-sikap inilah yang menjadikan orang mau bangkit dan berusaha membarui diri dan hidupnya. Pembaruan ini dapat dilakukan dengan merefleksi keberhasilan dan kegagalan yang dialami, menerima kenyataan yang dialami, bertanya kepada teman atau sahabat, berdoa, dan sebagainya.
Tuhan menciptakan dunia dan manusia karena kebaikan-Nya, serta untuk membagikan kebaikan-Nya, tetapi orang selalu bertanya : mengapa saya susah? Mengapa saya gagal? Mengapa saya menderita? Di sini, orang ditantang untuk mengakui kebaikan Tuhan, meski mengalami kegagalan dan penderitaan yang dapat menghancurkan hidupnya. Kegagalan dan penderitaan tidak perlu diterangkan, tetapi harus dihadapi baik secara pribadi maupun bersama dengan Tuhan. Harapannya bahwa orang dapat menerima hidup dan tetap menghargainya sebagai anugerah Tuhan. Sikap seperti ini sungguh mengandaikan adanya iman akan Allah Pencipta. Dalam iman, orang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan sehingga menimbulkan harapan akan janji Tuhan yang diberikan kepadanya. Iman berarti jawaban atas panggilan Tuhan, penyerahan diri kepada Tuhan yang menjumpai orang secara pribadi. Dengan demikian, semakin beriman dan dekat dengan Tuhan, orang semakin tergerak untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya dengan bersikap jujur, selalu bersyukur, dapat menerima orang lain, menyadari kelemahan, mau berusaha ketika gagal, selalu berdoa, dan sebagainya.
Melalui materi pokok ini, Anda diajak untuk menyadari bahwa dalam hidup ini Anda dapat mengalami kegagalan dan keberhasilan. Ketika berhasil, Anda dapat menerima keberhasilan itu dan mensyukurinya. Tetapi ketika gagal, Anda tidak menyalahkan orang lain atau penyebab lain atau lari dari kenyataan, namun berani untuk bangkit dan membangun semangat baru guna menatap masa depan. Selain itu, Anda diajak untuk menyadari bahwa iman dapat membarui hidup pribadi Anda.
Berdasarkan pengalaman jatuh (ke dalam dosa), manusia bisa menyadari kelemahan-kelemahan dirinya. Dengan pernah jatuh ke dalam dosa seseorang akan terhindar dari kesombongan diri (dengan syarat bahwa dia benar-benar sadar dan bertobat). Oleh karena itu, kesalahan dan dosa kiranya bisa dipandang dari dua sudut.
Sudut pandang pertama adalah sudut pandang positif. Orang yang berpandangan positif senantiasa mampu mengambil makna-makna positif dalam hidup, termasuk dari hal-hal yang buruk dan negatif. Berkenaan dengan dosa, kalau dilihat dari sudut pandang positif akan membuat manusia berkembang lebih lanjut, karena hanya dengan pengalaman jatuh maka manusia bisa mempunyai pengalaman bangun.
Sudut pandang kedua, sudut pandang negatif. Orang yang berpandangan negatif akan memandang dosa sebagai sebuah hal yang harus disingkiri terus-menerus dan dengan sebuah usaha yang sangat keras. Sebuah sikap yang bagus. Tetapi kalau suatu saat dirinya jatuh ke dalam dosa, dia akan menyesal tiada hentinya dan me¬ngutuki dirinya tanpa henti seakan-akan dirinya adalah manusia yang tidak berguna lagi karena perbuatannya itu. Dengan demikian, orang yang mempunyai pan¬dangan kedua ini senantiasa menyalahkan diri (dan mungkin juga orang lain). Dia tidak akan mau tahu mengapa dirinya sampai jatuh karena dia sudah ber¬usaha keras untuk menghindari jatuh.
Pertobatan yang sejati menuntut orang yang jatuh ke dalam dosa untuk berusaha sekuat mungkin untuk tidak jatuh lagi ke dalam dosa yang sama, tetapi seandainya jatuh juga, dia akan bisa menerimanya dengan penuh tawakal karena masih percaya akan kerahiman Allah. ltu tidak berarti bahwa orang tersebut mentolerir dosa. Sebab dosa memang sesuatu yang harus disingkiri, tetapi peristiwa kejatuhan adalah peristiwa yang lain lagi.
Sesuatu yang terjadi di masa lampau berkenaan dengan hidup seseorang memang dalam satu segi mempunyai nilai kenangan tersendiri. Bahkan sesuatu yang pahit pun enak untuk dikenang dan dijadikan sebuah pelajaran yang sangat berharga untuk masa depan. Tetapi ada sebuah atau beberapa peristiwa yang membuat seseorang mempunyai sebuah luka batin yang sangat mendalam. Luka batin ini senantiasa menimbulkan rasa perih bila diingat. Ini termasuk peristiwa dosa tentunya. Tetapi pada umumnya luka batin tidak berhubungan langsung dengan peristiwa dosa.
Peristiwa dosa tentu tidak enak dan senantiasa menekan bagi orang yang bersangkutan. Dalam hal inilah agama Katolik mempunyai sebuah sarana yang bagus sekali, yang disebut Sakramen Rekonsiliasi atau Sakramen Tobat. Dengan menerima sakramen ini pasti secara psikologis seseorang merasa terlepas dari dosa sebab dia merasa diterima kembali. Penerimaan inilah sebuah obat yang mujarab bagi orang yang berdosa.
Seandainya tidak ada dosa, mungkin Penebus juga tidak datang. Tetapi bagi mereka yang sudah ditebus, semoga dosa itu bisa ditekan seminimal mungkin. Apa yang kita perbuat di masa lampau, kita jadikan sebuah pelajaran yang amat ber¬harga. Peristiwa dosa kalau direfleksi¬kan dan diolah dalam suasana dan sikap tobat akan mendatangkan suatu pencerahan bahkan akan men¬jadikan seseorang sebagai manusia baru. Juga karena kita tidak pernah luput dari dosa, hendaklah kita pun mampu memberikan penerimaan dan pengampunan bagi orang yang bersalah. Sebab bila kita saling meng¬ampuni, maka Allah akan memberikan ampun kepada kita.
D. Uraian Materi Pokok
1. Pengalaman gagal dan jatuh dalam hidup pribadi
2. Usaha-usaha pembaruan hidup pribadi
3. Peranan iman dalam hidup
4. Kedekatan hubungan pribadi dengan Tuhan memberi daya atau kekuatan rohani untuk membarui hidup pribadi
E. Narasi
Sudah Tobat, Tapi Masih Jatuh Juga

Syallom, saya bertobat tiga tahun lalu, tapi masih saja jatuh dalam dosa yang sama. Saya ingin keluar, tapi bagaimana? Tolong saya, Pak Pendeta!
(Ita, Ambon).
Tuhan tidak mempermasalahkan kejatuhan kita, tapi yang penting kita mau bangkit. Siapa pun bisa jatuh. Jangankan yang baru bertobat, yang pendeta saja masih bisa terjungkal. Tuhan melihat kebangkitan, bukan kejatuhan. Tapi jangan sampai kita jatuh ke dalam lubang yang sama karena itu berarti kita masih terikat dan ikatannya belum selesai.
Kalau sudah memohon ampun, Anda seharusnya tidak berbuat dosa lagi. Jika Anda masih ingin terus berbuat dosa, itu menandakan Anda belum bertobat. Walaupun sudah sering jatuh, Anda harus bangkit lagi. Berusahalah jangan berbuat dosa lagi. Siapa tahu, belum sempat bangkit bertobat, nyawa Anda sudah dicabut. Ayo berjuang, Anda membutuhkan tekad yang lebih keras.
Pdt. Pengky Andu
(Sumber : Majalah Bahana)
F. Pendalaman dan Refleksi
Jawablah petanyaan–pertanyaan di bawah ini!
1. Apa yang dialami oleh Ita dalam bacaan di atas?
2. Ceritakan pengalaman gagal dan jatuh yang pernah Anda alami!
3. Sebutkan contoh usaha pembaruan hidup pribadi!
G. Pengembangan Religiositas
Berikut ini disajikan beberapa pandangan dari berbagai agama dan kepercayaan tentang iman membarui hidup pribadi. Anda juga dapat membaca sumber – sumber lain yang sesuai dengan tema untuk memperluas wawasan dan pengetahuan Anda.

    Agama Katolik
Iman adalah jawaban atas panggilan yang diterima dengan penuh percaya. Dengan mengikuti panggilan, orang diterangi sehingga semakin mengerti dan mengetahui betapa besar cinta kasih ilahi. Panggilan ini pantas dijawab dengan mencintai Tuhan dengan segenap hati. Dengan beriman, manusia menyerahkan diri seluruhnya secara bebas kepada Tuhan, dengan menundukkan akal budi dan kemauan kepada Tuhan yang menyampaikan wahyu-Nya, dan dengan menerima isi wahyu secara rela.
(Heuken, SJ. 1993. Ensiklpedi Gereja jilid II. Jakarta: Cipta Loka Caraka, hlm 84, 85)
Bagaimana manusia dapat mengakui kebaikan Tuhan, dalam pengalaman kemalangan yang menghancurkan hidupnya dan oleh karena itu juga mengancam imanya? Iman Kristen tidak memberikan jawaban yang murah, melainkan menunjuk pada salib Kristus “yang dengan mengabaikan kebaikan kehinaan, tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia” (Ibrani 12:2). Iman Kristen, yang mau mengikuti jejak Kristus, berusaha menerima hidup seadanya dan tetap menghargai sebagai anugerah Allah. Iman mencari dasar kekuatannya dalam solidaritas Tuhan dengan manusia, sebab kemalangan adalah beban yang tidak dapat dimengerti, namun harus dihadapi.
(KWI. 1996. Iman Katolik. Yogyakarta-Jakarta: Kanisius-Obor, hlm.158)
Agama Katolik itu tidak ada tujuannya, karena ia hanya sebuah sarana, tegasnya suatu sistem, seberkas sarana yang bermaksud membantu orang untuk sampai kepada tujuannya.
Sebagai sarana, agama itu ciptaan manusia, yaitu sekelompok manusia yang menganut suatu keyakinan, suatu visi khusus mengenai manusia dan Allah. Keyakinan itu hasil sejarah panjang, tetapi pada dasarnya berpangkal pada Yesus, seorang Yahudi asal Nazaret, yang sekitar tahun 1 Masehi tampil dipanggung sejarah.
Jadi dalam pembentukkan keyakinan khusus yang menciptakan antara lain agama Roma Katolik ada dua pihak yang berperan, yaitu (1) manusia pada umunya, khususnya Yesus yang secara tajam terlibat dalam pengalaman manusia pada umumnya, dan (2) Allah sebagaimana diimani; Dialah yang menjadi kunci pengertian pengalaman manusia dan melalui pengalaman semakin dikenal.
Pada prinsipnya, agama tidak pernah mau menggantikan manusia dengan “Allah” dan membuat Allah melayani kebutuhan yang dapat dilayani manusia sendiri. Boleh jadi, agama sering disalahartikan dan disalahgunakan secara demikian. Namun kalau itu terjadi, maka agama itulah yang merosot dan telah menjadi takhayul. Agama sejati membiarkan manusia sendiri mencari akal untuk semakin melayani kebutuhan materiil, sosial dan personalnya.
Sudah nyata – menurut keyakinan Kristen Katolik – bahwa Allah menawarkan diri-Nya kepada manusia, sehingga kemanusiaannya (dapat) menjadi utuh – sempurna dalam Allah. Itulah yang akhirnya dicari manusia dan itulah yang menjadi tujuannya.
Agama Roma Katolik merupakan suatu sarana yang diciptakan para penganut keyakinan tersebut. Maksudnya untuk menyebarkan, menawarkan keyakinan itu kepada orang – orang lain. Agama Katolik menyediakan pula sejumlah sarana terinci yang dapat menolong orang untuk mencapai tujuannya agar dengan sebaik – baiknya menanggapi tawaran diri Allah.
Allah itu bukan tujuan agama Katolik, melainkan tujuan setiap manusia!

    Agama Kristen
Iman dipahami sebagai sikap dan tindakan manusia yang percaya kepada kehadiran Allah dalam diri Yesus Kristus. Percaya (to believe) dan mempercayakan (to trust) adalah sikap dan tindakan manusia yang mau mengarahkan, mengendalikan hidup kepada Allah dan di dalam Allah. Sikap manusia yang ingin selalu bersekutu dengan Allah. Dalam iman terkandung ketaatan kepada Allah, yaitu sikap percaya kepada Allah. Kemudian pengetahuan tentang Allah. Dasar pengetahuan tentang Allah yang menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus. Sebagai orang Kristen, kita dituntut untuk terus berupaya mengetahui tentang Allah. Harapan dan iman menempatkan kita dalam kerangka janji keselamatan yang akan kita terima pada waktunya kelak. Keselamatan adalah anugerah Allah. Oleh sebab itu, tidak ada sesuatu yang patut dibanggakan oleh manusia selain rasa syukur, terima kasih kepada Allah yang telah membebaskan manusia dari dosa. Manusia harus mambarui hidupnya terus-menerus. Pembaruan hidup yang mengarah kepada kehidupan Yesus sebagai contoh.
(Redaksi PAK-PGI. 2001. Suluh Siswa, Buku Pendidikan Agama Kristen SMU kelas I, hlm16,17. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia)

    Agama Islam
Adapun fungsi iman kepada Alloh SWT adalah:
1. Menyadarkan manusia untuk selalu ingat kepada Alloh SWT. Manusia yang senantiasa ingat Alloh SWT tentu akan memperoleh banyak hikmah.
2. Mengembangkan kemampuan untuk melaksanakan segala perintah Alloh dan menjauhi segala larangan-Nya. Orang yang betul - betul beriman pada Alloh tentu akan memiliki jiwa ihsan (keyakinan seakan-akan berhadapan dengan Alloh atau perbuatannya selalu dilihat Alloh).
Orang yang berjiwa ihsan tentu akan senantiasa bertakwa, sedangkan orang bertakwa tentu akan memperoleh surga dan terhindar dari neraka.
(Syamsuri & Yunus, Mohamad.1995.Pendidikan agama Islam untuk SMU kelas I, hlm 41. Jakarta: Erlangga)

    Agama Hindu
Kitab suci Bhagavadgita, Adhyaya XIII, sloka 8 menyatakan bahwa manusia terikat oleh keduniawian berupa: janma-mrtyu-jara-vyadhi-dukha-dosa, yaitu berupa kelahiran-kematian-umur tua-penyakit-penderitaan lahir dan batin dan dosa (kesalahan). Dunia material ini membelenggu setiap manusia. Seseorang yang tidak tanggap atau tidak mengerti kenyataan ini menjadi terombang-ambing dalam samudera hidup yang luas. Tidak sedikit yang terhempas, jatuh dan terlempar ke jurang kenistaan yang sangat gelap. Dunia material membelenggu dan menipu orang sehingga lupa akan kesejatiannya.
Bagaimanakah seseorang dapat melepaskan diri dari belenggu dunia material ini? Diturunkannya ajaran dharma ataupun agama kepada umat manusia adalah agar manusia dapat melepaskan diri dari belenggu yang menyesatkan itu. Memang artha dan kama, dalam ajaran Hindu, adalah suatu kebutuhan, tetapi mencarinya harus berdasarkan dharma. Dharma ibarat perahu, sang diri adalah nelayannya, air adalah artha dan kama adalah nafsu, yaitu angin yang berhembus di tengah samudera luas. Seorang nelayan yang ahli, mampu mengantarkan perahu mencapai tujuan dengan menggunakan air dan memanfaatkan angin sebaik-baiknya sehingga tidak tenggelam dalam menghadapi gelombang yang kadang-kadang sangat tinggi membentur perahu. Menyadari hakikat dan tujuan hidup, seseorang yang memiliki kesadaran rohani mampu mangatasi gelombang hidup. Untuk meningkatkan kesadaran rohani, maka usaha mendalami dan mengamalkan ajaran agama terus-menerus adalah mutlak. Untuk memahami dan mengamalkan ajaran agama, sebagai usaha mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, ajaran Agama Hindu memberikan berbagai jalan. Secara umum dibedakan melalui bhakti, karma, jnana, dan yoga marga.

    Agama Buddha
Apa artinya pencapaian Penerangan Sempurna oleh Buddha Gotama bagi manusia?
Pertama, Buddha Gotama membuka mata kita akan adanya suatu potensi di dalam diri umat manusia untuk mencapai kesempurnaan. Ia menyibak awan ketidaktahuan dan mendorong kita mengembangkan potensi itu secara maksimal. Potensi inilah yang dikenal sebagai hakikat kebuddhaan.
Kedua, Buddha Gotama membukakan pintu menuju pembebasan kepada semua makhluk tanpa pilih bulu. Kasta, warna kulit, jenis kelamin, atau label-label agama, tidak berarti bagi-Nya: semua bisa memperoleh manfaat dari Dharma.
Ketiga, Buddha Gotama telah menunjukkan bahwa pencapaian Penerangan Sempurna dan pelepasan dari penderitaan adalah mungkin – tanpa harus menggantungkan diri pada faktor-faktor luar seperti: upacara-upacara, pemberian kurban, dan sebagainya. Manusia memiliki kapasitas untuk menyelamatkan dirinya sendiri, seandainya ia menyadari hal itu dan mengetahui jalannya.
Terakhir, Buddha Gotama telah memberikan wawasan spiritual-wawasan akan pencapaian Penerangan atas usaha sendiri. Ia merupakan ideal spiritual yang dapat diteladani. Orang selalu dapat diilhami oleh contoh agung-Nya. Dilahirkan sebagai manusia, dan atas usaha sendiri Ia mencapai Penerangan Sempurna.
Dengan demikian kita tahu bahwa pencapaian Kebebasan itu bukan terjadi dengan sendirinya, atau pun tergantung takdir, melainkan sesuatu yang mungkin dapat dicapai dengan usaha manusia.
Seluruh ajaran sang Buddha dapat dinyatakan dalam dua kalimat. Yang pertama, “Berusahalah untuk membantu makhluk lain.” Yang kedua, “Jika tidak bisa, setidaknya jangan menyakiti makhluk lain.” Kedua ajaran ini didasarkan pada Belas Kasih, kasih pada sesama. Dasar dari semuanya ini adalah perasaan ke-‘aku’-an yang nyata.
Belas kasih yang berdasarkan pertimbangan dan perasaan dapat diperluas bahkan terhadap musuh kita. Cinta kasih dan belas kasih yang kita alami sehari-hari sebenarnya sangat dipenuhi dengan kemelekatan, maka perasaan tersebut tidak dapat mencakup musuh kita. Perasaan tersebut berpusat pada kepentingan diri sendiri. Kebalikan dari perasaan ini adalah pengakuan kita secara jelas akan pentingnya dan hak dari sesama kita. Seandainya belas kasih dikembangkan dengan sudut pandang seperti ini, maka kita pun akan memiliki Belas Kasih kepada musuh-musuh kita.
Dalam upaya mengembangkan dorongan Belas Kasih, kita harus memiliki toleransi (tenggang rasa) dan kesabaran. Dalam melatih tenggang rasa, musuh adalah guru yang terbaik. Musuh dapat mengajarkan tenggang rasa, yang mana guru atau orang tua tidak dapat melakukan hal itu. Oleh karenanya, dari sudut pandang ini, musuh kita benar-benar membantu; musuh merupakan kawan dan sekaligus guru terbaik kita.
Perasaan belas kasih lebih mengutamakan kesejahteraan orang lain dari pada kesejahteraan kita sendiri. Sifat menghargai kepentingan orang lain dan mengabaikan kepentingan diri sendiri tidaklah dapat dibangun secara serta-merta, namun diperlukan latihan. Dalam ajaran Buddha, terdapat dua upaya utama untuk membangun sikap altruistik (sifat mengutamakan kepentingan pihak lain) seperti itu.
Upaya pertama adalah dengan menyetarakan dan menukarkan diri sendiri dengan orang lain. Upaya kedua disebut tujuh tahap sebab-akibat yang patut diteladani, yaitu:
1. Menganggap semua makhluk hidup sebagai ibu kandung.
2. Menyadari kebaikan mereka.
3. Mengembangkan niat untuk membalas kebaikan mereka.
4. Cinta Kasih.
5. Belas Kasih.
6. Niat yang luar biasa.
7. Keinginan altruistik untuk Tercerahkan.
Hal kedua, khususnya dalam ajaran agama Buddha adalah Kebijaksanaan, yaitu kepiawaian dalam menjalankan nilai-nilai luhur yang merupakan upaya untuk pencapaian Pencerahan Sempurna. Tanpa pengetahuan dan tanpa sepenuhnya mendayagunakan kecerdasan, sangatlah sulit untuk mencapai kebijasanaan yang nyata.
Dikatakan bahwa dengan bantuan Kebijaksanaan, Belas Kasih dapat menjadi tanpa batas. Ini karena faktor mental yang buruk (akusala caitasika)menghalangi pembentukan Belas Kasih tanpa batas.
Akar dari ajaran Buddha adalah Empat Kebenaran Ariya, yaitu: Ketidak-memuaskanan hidup, sumber ketidak-memuaskanan, berakhirnya ketidak-memuaskanan, dan jalan mengakhiri ketidak-memuaskanan. Empat Kebenaran Ariya terdiri dari dua kelompok sebab dan akibat: ketidak-memuaskanan dan sumbernya: serta berakhirnya ketidak-memuaskanan dan jalan mengakhirinya. Ketidak-memuaskanan ibarat penyakit; kondisi eksternal dan internal yang menyebabkan penyakit merupakan sumber ketidak-memuaskanan. Sembuh dari penyakit tersebut merupakan berakhirnya ketidak-memuaskanan dan sumber-sumbernya. Obat yang menyembuhkan penyakit itu adalah jalan sejati.

    Agama Khonghucu
Di dalam kitab Zhong Yong tersurat: Cheng (Iman) itulah Jalan Suci Tuhan (TIAN Dao) berusaha beroleh Iman itulah Jalan Suci Manusia (Ren Dao). Yang sudah di dalam Iman itu dengan tanpa memaksakan diri telah dapat berlaku Tengah Tepat (Zhong) dengan tanpa banyak berpikir telah berhasil dan dengan wajar selaras dengan Dao, dialah seorang Nabi. Yang beroleh Iman itu ialah orang yang setelah memilih yang terbaik lalu didekap sekokoh-kokohnya. Banyak-banyaklah belajar, pandai-pandailah bertanya, jelas-jelaslah menguraikan/ menganalisanya dan sungguh-sungguhlah melaksanakannya (XIX: 19, 20).
Di dalam Kitab Da Xue tersurat: “Tekunlah di dalam Kebajikan yang bercahaya (Ming De).” “Bila suatu hari dapat membaharui diri, perbaharuilah terus tiap hari dan jagalah agar baharu selama-lamanya.” “Jadilah rakyat yang baharu (Xin Min)” (Bab I: 1; Bab II: 1 & 2).
H. Evaluasi
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!
1. Identifikasikan pengalaman gagal dan jatuh dalam hidup pribadi Anda!
2. Identifikasikan contoh usaha-usaha pembaharuan hidup pribadi Anda!
3. Jelaskan peranan iman dalam hidup Anda!
4. Jelaskan bahwa kedekatan hubungan pribadi dengan Tuhan memberi daya atau kekuatan rohani untuk membaharui hidup pribadi!
5. Ceritakan hasil yang Anda peroleh dari kegiatan yang dapat membarui hidup Anda demi masa depan!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar