Rabu, 19 Desember 2012

KERTAS KERJA PEGAWAI YXP 2007


Pendahuluan
 Yayasan Xaverius Palembang, sebuah yayasan bernuansa kristiani yang bergerak di bidang pendidikan di Keuskupan Agung Palembang, berdiri sejak 12 Juli 1929, merupakan salah satu karya Roh Kudus. Roh itu senantiasa menyertai dan membimbing dinamika dan gerak Yayasan dalam melaksanakan karya perutusannya, yaitu: mewartakan Kabar Gembira (Injil), di mana pewartaan itu tampak dalam pelaksanaan tugas dan karya anggota Yayasan yang senantiasa diwarnai dengan semangat kristiani. Dengan semangat kristiani, setiap elemen dan pribadi didalamnya dimampukan oleh Roh Kudus untuk berperan sesuai dengan karunia, talenta, tugas, dan tanggung jawabnya masing-masing, yaitu turut membantu mencerdaskan bangsa dan menciptakan kesejahteraan bersama.

Pelayanan Pendidikan di Tengah Tantangan dan Hambatan
Yayasan Xaverius Palembang merupakan salah satu pihak yang memiliki visi dan misi jelas dan mulia. Saya merasa bangga dan senang bergabung didalamnya. Saya merasa bahwa dengan terlibat dalam karya ini, saya dimasukkan menjadi satu tubuh, bersama seluruh anggota Yayasan ini. Roh Kuduslah yang memasukkan saya dalam kesatuan itu.
Roh Kudus senantiasa memanggil pribadi-pribadi untuk terlibat dan berkarya di ladang yang berupa karya pelayanan di bidang pendidikan ini. Panggilan itupun saya rasakan dan mampu saya dengarkan dalam hati. Sebagai orang yang terpanggil dan peduli pada karya pelayanan pendidikan, maka saya pun menjawab panggilan itu dan secara nyata menyatakan kemauan untuk terlibat dengan cara bergabung dalam Yayasan Xaverius Palembang.
Roh Kudus senantiasa menggembleng dan mendewasakan dengan cara yang unik dan khas. Kesulitan demi kesulitan dan tantangan demi tantangan, merupakan salah satu cara yang dipakai oleh Roh Kudus untuk penggemblengan dan pendewasaan itu.
Pelayanan di bidang pendidikan yang dijalankan oleh Yayasan bernuansa Katolik hampir sebagian besar menghadapi permasalahan yang sama, yaitu: sumber keuangan yang hanya mengandalkan SPP dan DPP, jumlah siswa baru yang semakin lama seakan-akan menyurut, adanya campur tangan dari pemerintah, dan kurangnya kebersamaan dalam menanggung tugas perutusan ini. Akankah Roh Kudus yang senantiasa menyertai dan membimbing dinamika dan gerak yayasan dalam melaksanakan karya perutusannya itu diam saja? Tidak! Roh itu tetap berkarya demi kelangsungan Yayasan melalui berbagai cara. Saya punya keyakinan bahwa segala sesuatu yang berasal dari Roh Kudus tidak akan pernah punah, meski halangan dan rintangan menghadang. Justru dengan adanya kesulitan dan permasalahan-permasalahan itu, Roh bermaksud untuk menyatukan dan menggembleng pribadi-pribadi yang tergabung di dalam Yayasan ini. Dengan perasaan senasib sepenanggungan, pribadi-pribadi akan semakin erat ikatan kekeluargaannya, sebagaimana yang dialami oleh para anggota Gereja pada masa lalu yang sering dikejar-kejar dan dianiaya, tetapi dengan kebersamaan dan keteguhannya, justru menarik minat banyak orang, dan akhirnya Gereja mampu tumbuh dan berkembang.
Semangat transformatif, sesuai dengan tema skripsi yang saya buat, merupakan landasan sikap yang saya miliki ketika saya menyatakan untuk mau bergabung dengan Yayasan Xaverius Palembang ini. Jika ingin melakukan suatu perubahan jangan hanya melihat saja, tetapi terlibatlah didalamnya, demikian pandangan yang saya punya. Saya tahu dan sadar bahwa sekolah-sekolah bernuansa kristiani sedang menghadapi permasalahan berkait dengan kelangsungan penyelenggaraan pelayanan pendidikan. Sebagai orang katolik yang memiliki kemampuan, karunia, dan talenta saya terpanggil untuk membantu menambah satu pilar penyangga keberlangsungan itu. Saya bukanlah satu-satunya dan bukanlah dewa penolong keberlangsungan Yayasan, tetapi saya hanyalah satu tiang kecil saja, yang sedikit membantu meringankan menyangga beban itu.
Sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Xaverius Palembang (dan yayasan-yayasan yang bernuansa kristiani lainnya) terkenal memiliki ciri yang sangat khas. Sekolah-sekolah itu tidak hanya sekedar memberikan pendidikan di bidang intelektual saja, namun juga dalam bidang emosional dan kepribadian. Disiplin, tertib, teratur, terbuka, dan guru-guru yang bertanggung jawab, berdedikasi, dan penuh kasih, merupakan kelebihan atau keunggulan yang dimiliki oleh sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Xaverius Palembang. Kelebihan dan keunggulan itu sudah banyak diketahui oleh orang. Maka hal itu tetap harus dipertahankan dan juga menjadi selling point untuk menarik minat siswa baru.          Saat ini, saya ditugaskan untuk mengampu mata pelajaran agama (religiusitas) di SMP dan SMA Xaverius 2 Jambi. Saya tahu bahwa masalah pendidikan agama merupakan masalah yang sensitif di sekolah-sekolah bernuansa kristiani. Orang-orang yang sempit pandangannya berpikir bahwa sekolah di Xaverius berarti harus menjadi beragama Katolik. Hal inilah yang sedikit demi sedikit saya usahakan untuk dikikis, dengan memberikan Pendidikan Religiusitas dan bukan Pendidikan Agama Katolik.
Berkait dengan jumlah siswa yang semakin lama di rasa menyusut, menurut saya bukan karena sekolah-sekolah Xaverius kehilangan pamor atau menurun mutunya, tetapi lebih sebagai konsekwensi logis atas pelaksanaan program keluarga berencana yang berhasil dan semakin menjamurnya sekolah-sekolah negeri yang seakan-akan menawarkan biaya pendidikan murah.
Pendidikan bagi saya berarti membuat orang sadar, tahu, paham, dan akhirnya bisa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan bukan berorientasi pada nilai (raport), tetapi lebih pada keutamaan hidup. Pendidikan itu hendaknya menjadi sebuah pendidikan yang membebaskan seseorang dari keterbelengguan. Maka, menurut saya lebih baik membuat pandai orang yang kurang pandai dari pada membuat pandai orang yang sudah pandai. Anak-anak pandai biasanya berlomba-lomba untuk masuk ke sekolah negeri. Jarang di antara mereka yang sejak awal punya keinginan masuk ke sekolah Xaverius. Inilah kesempatan yang bagus bagi sekolah Xaverius untuk menjalankan option for the poors, yaitu memberi kesempatan bagi anak-anak yang kurang pandai (the poors) untuk menjadi lebih pandai, selain itu juga untuk mensukseskan program wajib belajar 9 tahun.
Berkait dengan sumber keuangan Yayasan yang mengandalkan SPP dan DPP, saya berpendapat bahwa Yayasan mungkin perlu melihat celah-celah dan kemungkinan untuk mencari sumber pendapatan yang lain. Rasanya kecil kemungkinan untuk menaikkan biaya SPP anak. Saya kira subsidi silang yang sudah dijalankan sampai saat ini sudah baik dan perlu untuk diteruskan.
Kebersamaan dalam menanggung karya perutusan Gereja Keuskupan Agung Palembang dalam bidang pendidikan dirasakan masih lemah. Ketidaktahuan terhadap kondisi dan situasi Yayasan yang sebenarnya seringkali menjadi penyebab lemahnya rasa senasib sepenanggungan itu. Semangat bersaing dan tidak mau tahu dengan kesulitan orang lain, juga menjadi penyebab lunturnya kebersamaan.
Saya sebagai orang baru yang tergabung dalam Yayasan ini hanya berharap semoga keterbukaan dan kesadaran sebagai satu tubuh, ditumbuhkan dan dikembangkan dalam pengelolaan Yayasan, sehingga semua orang termotivasi untuk berperan dalam menyelamatkan dan meningkatkan segala sesuatu yang sudah ada.

Penutup
            Satu tubuh dengan Yayasan Xaverius Palembang merupakan kesadaran yang ada dalam diri saya saat ini. Apapun yang terjadi, saya akan tetap setia dalam kesatuan yang dipersatukan oleh Roh Kudus ini. Saya akan melakukan tugas dan karya sesuai dengan karunia dan talenta yang diberikan oleh Roh Kudus itu. Semoga dengan keberadaan saya, gerak dan langkah SMP dan SMA Xaverius 2 Jambi, sebagai tempat tugas saya semakin dinamis dan senantiasa bertranformasi menuju kebaikan. Bersatu kita maju untuk memberi pelayanan terbaik.


Jambi, 15 Agustus 2007
Hormat saya,


St. Tri Mardiyanto


Mengetahui,
           Koordinator,                                                          Kepala Sekolah,


    Br. St. Sumardi, SCJ                                          Drs. At. Agus Tri Nugroho

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar