Senin, 08 Oktober 2012

Sejarah Pendidikan, Studi Kasus: Sekolah Xaverius Jambi Tahun 1950-1985


                                                BAB I                           
                                          PENGANTAR                                         

A.    Latar Belakang Masalah          
     Pendidikan merupakan media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa agar menuju era aufklarung (pencerahan). Pendidikan dihadirkan untuk membentuk pribadi yang utuh, berbudaya dan beradab, baik itu melalui pendidikan formal maupun informal.[1]
Pendidikan juga dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda dalam aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Memang di akui bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat.[2]
Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, dengan adanya politik etis pada tahun 1900, pendidikan untuk masyarakat pribumi mulai diperhatikan. Pada hakekatnya pengaruh barat (Belanda) dalam pendidikan di Jambi mulai dirasakan setelah dijadikannya Jambi sebagai daerah residensi pada tahun 1906.[3] Sekolah mula-mula yang diperkenalkan oleh Pemerintah Belanda adalah Sekolah Kelas Dua, dalam rangka mendidik calon pegawai rendah dan untuk memenuhi kebutuhan akan pengajaran di kalangan rakyat umum.[4]
Pada tahun 1907 Pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah-sekolah desa atau yang lebih dikenal dengan Sekolah Marga atau Volkschool yang lama belajarnya tiga tahun dan dikelola oleh marga. Pada tahun 1929 sekolah-sekolah kelas dua diubah menjadi sekolah marga atau volkschool dan dibuat juga sekolah sambungannya, yaitu: Vervolgschool.[5]
Perkembangan politik etis ternyata membawa pengaruh yang besar dalam bidang pendidikan. Sekolah yang didirikan Pemerintah Hindia Belanda di Jambi adalah: ELS (Sekolah Rendah Eropa), Sekolah Kelas Satu, HIS (Holland Inlandsche School), Sekolah Kelas Dua, Volkschool, Vervolgschool. Selain pendidikan dasar, Pemerintah Hindia Belanda juga mengadakan pendidikan kejuruan, yaitu CVO (cursus voor onxerwijzer) dan KGC (kursus guru C).[6]
Pendidikan bagi warga masyarakat ada juga yang dilaksanakan secara swadaya, seperti sekolah-sekolah yang didirikan oleh Perukunan Tsamaratul Insan.[7] Tahun 1915 sampai 1930-an, Perukunan Tsamaratul Insan mendirikan sekolah-sekolah Islam di daerah Kota Jambi Seberang sebelah utara, yaitu: Madrasah Nurul Islam Tanjung Pasir, Madrasah Nurul Iman Ulu Gedong, Madrasah Jauharain, dan Madrasah Sa’adatut Darain di Tahtul Yaman.[8]
Ketika Jepang masuk Indonesia pada tahun 1942, perlawanan fisik sesungguhnya tidak terjadi di Jambi. Tetapi masalah yang muncul kemudian adalah banyak Sekolah Rakyat (Angka Loro)[9] dan madrasah ditutup. Hal ini terjadi karena kesulitan penghidupan. Pada tahun 1947 setelah penghidupan menjadi lebih baik, M. Nur Lubis dan Ibrahim bersama para alim ulama dan guru agama mulai membina kembali madrasah-madrasah dan pondok pesantren, khususnya keempat madrasah dan pondok pesantren yang didirikan oleh Perukunan Tsamaratul Insan.
Keinginan untuk membantu masyarakat juga muncul dalam misi pendidikan oleh Gereja Katolik. Pastor N. Hoogeboom, SCJ misionaris yang berkarya di Jambi pada tanggal 1 agustus 1950 mendirikan sekolah di daerah Rawasari yang diberi nama Sekolah Ta Tong dengan bahasa pengantar bahasa Tionghoa.[10] Untuk karya pendidikan ini, beliau dibantu oleh tiga orang suster Fransiskanes Misionaris Maria (FMM). Selain membantu di sekolah Ta Tong, para suster juga mendirikan TK di jalan Pinang Masak no. 19 pada tanggal 19 Januari 1953 dan diberi nama TK Xaverius.[11] Pada tanggal 1 Agustus 1954 didirikanlah SD Xaverius[12] di dekat TK Xaverius tersebut. Waktu itu, anak-anak pribumi sekolahnya di SD Xaverius, sedangkan anak-anak Tionghoa sekolahnya di Sekolah Ta Tong. Tahun 1959, Sekolah Ta Tong berubah nama menjadi sekolah Santo Yusup dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia.[13] Selanjutnya, dalam rangka pembauran dan efisiensi, sekolah Santo Yusup ditutup, dan siswa-siswanya digabung dengan SD Xaverius[14], karena guru yang mengajar di Sekolah Santo Yusup dan SD Xaverius sama.
Pada tahun 1959, dibukalah SMP Xaverius dan tahun 1967, dibuka SMA Xaverius. Tahun 1977, SMP Xaverius dan SMA Xaverius pindah ke Kelurahan The Hok, untuk menempati gedung di Jl. Marsda Abdurrahman Saleh yang sebelumnya tanah tempat berdiri gedung tersebut milik suster FMM kemudian diserahkan kepada Yayasan Xaverius Palembang, sebagai gantinya TK dan SD Xaverius di Jalan Putri Pinang Masak, Rawasari pengelolaannya diserahkan kepada para suster Fransiskanes Misionaris Maria (FMM) melalui Yayasan Bhakti Utama sedangkan SMP dan SMA Xaverius di The Hok pengelolanya adalah Yayasan Xaverius Palembang.[15]
Melihat antusiasme masyarakat yang ingin anaknya sekolah di Sekolah Xaverius dan supaya sekolah Xaverius menjangkau kawasan Telanaipura yang merupakan kawasan perkantoran Provinsi Jambi maka pada tahun 1985 dibukalah TK, SD, SMP, dan SMA Xaverius di Telanaipura. Namun pada tahun 1987, TK dan SD Xaverius dipindahkan ke Jelutung dan  kemudian diberi nama TK dan SD Xaverius 2 Jambi. Sedangkan SMP dan SMA Xaverius di Telanaipura diberi nama SMP dan SMA Xaverius 2 Jambi.
Tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh semua sekolah sebenarnya sama, yaitu membebaskan murid dari keterbelengguan. Yang membedakan adalah sistem pengelolaan, sistem pembelajaran, dan penekanan pengajarannya. Sekolah dengan nafas Islami tentu saja menekankan pengajaran agama Islam dalam proses pembelajarannya, sedangkan Sekolah dengan nafas Katolik menekankan penanaman nilai-nilai pendidikan kristiani, termasuk didalamnya kemandirian, kedisiplinan dan kerja keras.

B.    Permasalahan dan Ruang Lingkup
          Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah “keberadaan Sekolah Xaverius di tengah-tengah persaingan dengan sekolah-sekolah lainnya di Kota Jambi periode 1950 - 1985”. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, penelitian ini akan difokuskan pada: bagaimana terbentuknya sekolah Xaverius di Kota Jambi? Dan mengapa sekolah Xaverius dapat berkembang dan bertahan di Kota Jambi?
          Persoalan pertama akan membahas tentang proses pembentukan Sekolah Xaverius di Kota Jambi. Dalam hal ini akan dicari siapa tokoh-tokoh di balik munculnya sekolah Xaverius dan apa motif atau alasan mendirikan sekolah Xaverius di Kota Jambi.
          Persoalan kedua akan membahas tentang bagaimana Sekolah Xaverius mempertahankan kualitas dan eksistensinya. Dalam hal ini akan diungkap tentang proses pendidikan yang dilaksanakan di Sekolah Xaverius dan usaha-usaha yang dilakukan supaya keberadaannya diakui dalam masyarakat.
          Persoalan ketiga akan membahas sejauh mana Sekolah Xaverius ikut berperan dalam memajukan pendidikan di Kota Jambi. Dalam hal ini akan diulas tentang peran Sekolah Xaverius dalam usaha pencerdasan kehidupan bangsa khususnya di Kota Jambi.
          Lingkup spasial dalam penulisan ini adalah Kecamatan Pasar Jambi, Kota Baru, Jelutung, dan Telanaipura. Meskipun secara administratif, Kota Jambi terdiri dari 8 Kecamatan.[16]

          Lingkup temporal meliputi tahun 1950 sampai tahun 1985. batasan awal 1950 merupakan kemunculan awal Sekolah Xaverius yang diawali dengan didirikannya sekolah Ta Tong, sedangkan batasan akhir 1985 ditandai dengan didirikannya Xaverius 2 sebagai pengembangan dari sekolah Xaverius.
          Sekolah Xaverius yang dibahas dalam Skripsi ini hanya sekolah Xaverius yang berada di Kota Jambi, meskipun sebenarnya keberadaan sekolah Xaverius tidak bisa dipisahkan dari keberadaan sekolah-sekolah Xaverius di daerah Sumatera Selatan. Untuk melihat perkembangan sekolah Xaverius, maka pembahasannya juga akan meliputi beberapa tahun sebelum dan berikutnya.
            
C.    Arti Penting dan Tujuan
          Skripsi yang membahas tentang sejarah pendidikan memang pernah dibuat, namun yang membahas secara khusus tentang Sekolah Xaverius di Kota Jambi belum pernah dibuat. Jadi dengan penulisan skripsi tentang Sekolah Xaverius di Kota Jambi tahun 1950 – 1985 akan memperkaya historiografi (penulisan sejarah) di Indonesia, khususnya di Kota Jambi.
Penulisan ini diharapkan memiliki arti penting dalam penulisan sejarah pendidikan di Indonesia, khususnya di Jambi sebagai salah satu sumbangan informasi maupun gagasan mengenai perkembangan sejarah pendidikan di tingkat lokal, yaitu di Kota Jambi sehingga dapat memperkaya khasanah informasi maupun gagasan dalam penulisan sejarah pendidikan Indonesia ditingkat nasional. Selain itu dapat dijadikan sumber referensi bagi siapa saja yang mendalami tentang sejarah pendidikan di Kota Jambi.
          Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberi penjelasan bahwa sekolah dengan ciri khas apapun asalkan bertujuan untuk mencerdaskan dan membebaskan orang-orang dari keterbelengguan akan dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu juga bertujuan untuk menggambarkan bahwa dengan banyaknya tantangan akan membuat sesuatu menjadi lebih kuat dan berkembang subur.
          Selain itu, Skripsi ini dibuat guna memenuhi sebagian syarat untuk meraih gelar Sarjana Strata Satu Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Ilmu Sosial, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Batanghari – Jambi.

D.    Landasan Teoritis dan Pendekatan
Francis Bacon mengungkapkan pentingnya pendidikan bagi manusia. Sumber pokok kekuatan manusia adalah pengetahuan. Manusia dengan pengetahuannya mampu melakukan olah-cipta sehingga ia mampu bertahan dalam masa yang terus maju dan berkembang. Proses olah-cipta tersebut terlaksana berkat adanya sebuah aktivitas yang dinamakan Pendidikan.[17] Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sebuah kegiatan perbaikan tata-laku dan pendewasaan manusia melalui pengetahuan.


Pendidikan adalah suatu proses untuk membuahkan manusia-manusia terpelajar yang mau dan mampu memperjuangkan keadilan dalam kehidupan bersama yang membahagiakan. Jadi, pendidikan adalah instrumen untuk mencapai tujuan perubahan sosial menuju masyarakat dan dunia yang lebih baik. Maka pendidikan harus berhasil menumbuhkembangkan pribadi dan karakter siswa.[18]
Pendidikan bisa didapat melalui pendidikan formal dan informal. Pendidikan secara informal misalnya melalui pembiasaan dalam keluarga dan hidup bermasyarakat. Selain itu, pendidikan informal juga dapat terjadi dalam kegiatan pelatihan atau kursus-kursus. Sedangkan Pendidikan formal biasanya dijalankan melalui sekolah, yaitu mulai dari TK, SD, SMP, SMA/SMK, dan Perguruan Tinggi. Adapun contoh pendidikan formal adalah Sekolah-Sekolah Xaverius di Kota Jambi, yang diadakan mulai dari jenjang pendidikan TK, SD, SMP, dan SMA. Kedua cara pendidikan tersebut sama pentingnya dan saling mendukung dalam pembentukan kecerdasan dan karakter pribadi seseorang[19].
Pendidikan formal dijalankan oleh seorang guru yang menstranferkan pengetahuan kepada para siswa. Jadi guru memiliki peran yang penting untuk membantu siswa menjadi tahu tentang sesuatu hal. Guru dalam tata bahasa Jawa diartikan sebagai digugu lan ditiru yang artinya didengarkan apa yang dikatakannya dan diikuti apa yang dilakukannya.[20] Istilah Guru dalam Kongres Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) XII tanggal 21-25 November 1973 didefinisikan sebagai semua orang yang berkecimpung dalam bidang pendidikan dan memiliki keahlian lebih pada bidangnya masing-masing, tata cara akhlaknya baik, serta mampu menyampaikan apa yang dikuasainya tersebut kepada orang lain, terutama peserta didik. Jadi guru adalah pendidik dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Pasal 1).[21]
Selain guru, pendidikan formal juga dapat terjadi jika ada siswa atau murid. Siswa adalah seseorang atau objek dalam pengajaran yang menerima transfer ilmu dari guru. Siswa merupakan pribadi yang dibantu dalam proses perkembangan hidupnya terutama dalam hal pengetahuan, kepribadian, dan karakternya. Jadi siswa adalah pihak yang mendapatkan sesuatu dalam proses pendidikan.[22]
Menurut Undang-undang pendidikan nasional, pendidikan dapat dijalankan oleh pemerintah dan masyarakat, yang biasanya dijalankan melalui lembaga / yayasan pendidikan. Sekolah yang dijalankan oleh pemerintah disebut sekolah negeri, sedangkan sekolah yang dijalankan oleh masyarakat melalui lembaga / yayasan disebut sekolah swasta. Sekolah Xaverius merupakan sekolah yang dikelola oleh Yayasan Xaverius Palembang, maka Sekolah Xaverius disebut sekolah swasta.
Bila kita lihat jauh ke belakang, pendidikan yang kita kenal sekarang ini sebenarnya merupakan ”adopsi” dari berbagai model pendidikan di masa lalu. Pada masa Islam sistem pendidikan itu disebut dengan pesantren atau disebut juga pondok pesantren. Berasal dari kata funduq (funduq=Arab atau pandokheyon=Yunani yang berarti tempat menginap). Seperti halnya mandala, pada masa Islam istilah tersebut lebih dikenal dengan sebutan ”depok”, istilah tersebut menjadi nama sebuah kawasan yang khas di kota-kota Islam, seperti Yogyakarta, Cirebon dan Banten. Istilah depok itu sendiri berasal dari kata padepokan yang berasal dari kata patapan yang merujuk pada arti yang sama, yaitu “tempat pendidikan. Dengan demikian padepokan atau pesantren adalah sebuah sistem pendidikan yang merupakan kelanjutan sistem pendidikan sebelumnya.
Pada masa ini, wajah pendidikan Indonesia lebih terlihat sebagai sosok yang memperjuangkan hak pendidikan. Hal ini dikarenakan pada saat penjajahan Belanda, sistem pendidikan yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial adalah sistem pendidikan yang bersifat diskriminatif. Artinya hanya orang Belanda dan keturunannya saja yang boleh bersekolah, adapun pribumi yang dapat bersekolah merupakan pribumi yang berasal dari golongan priyayi. Namun kemudian mulai timbul kesadaran dalam perjuangan untuk menyediakan pendidikan untuk semua kalangan, termasuk pribumi. Maka hadirlah berbagai institusi pendidikan yang lebih memihak rakyat, seperti misalnya Taman Siswa dan Muhammadiyah.[23]
Pada masa ini sistem Eropa dan tradisional (pesantren) sama-sama berkembang. Bahkan bisa dikatakan, sistem ini mengadopsi sistem pendidikan seperti yang kita kenal sekarang yaitu mengandalkan sistem pendidikan pada institusi formal seperti sekolah dan pesantren.
Sejarah pendidikan di Indonesia dimulai pada zaman berkembangnya satu agama di Indonesia. Dapat dikatakan, bahwa lembaga-lembaga pendidikan dilahirkan oleh lembaga-lembaga agama dan  mata pelajaran yang tertua adalah pelajaran tentang agama.
Pada Jaman Pemerintahan Hindia Belanda dikenal adanya Politik Etis (Etische Politiek).[24] Dalam Politik Etis ini dikatakan bahwa kepada orang-orang Bumiputera harus diperkenalkan pada kebudayaan dan pengetahuan barat yang telah menjadikan Belanda bangsa yang besar. Gagasan tersebut dicetuskan semula olah Van Deventer pada tahun 1899 dengan mottonya “Hutang Kehormatan” (de Eereschuld)[25]. Politik etis ini diarahkan untuk kepentingan penduduk Bumiputera dengan cara memajukan penduduk asli secepat-cepatnya melalui pendidikan secara Barat. Tujuan pendidikan selama periode kolonial tidak pernah dinyatakan secara tegas.
          Konsep sekolah berciri khas keagamaan merupakan suatu lembaga pendidikan yang memang menekankan pelajaran agama dan perilaku, serta tatanan hidup beragama yang baik. Dan dalam masyarakat yang agamis seperti di Jambi, sekolah-sekolah seperti ini mendapat tempat yang baik. Maka pendekatan sosiologis yang menitikberatkan pada pembahasan interaksi individu dalam sekolah, dalam masyarakat, maupun masalah yang berhubungan dengan kemasyarakatan.
          Pendekatan yang melihat pola-pola perkembangan, kelangsungan serta perubahan dengan memperhatikan berbagai tinjauan dan sudut pandang serta tidak mengabaikan sumber-sumber dari masyarakat seperti foto-foto, kesaksian, dan sumber-sumber sejarah non arsip inilah yang akan digunakan dalam penyusunan skripsi ini. Pendekatan seperti ini sudah digunakan oleh Sartono Kartodirdjo[26] saat menyusun disertasinya yang berjudul Pemberontakan Petani Banten 1888.[27]

E.    Metode Penelitian dan Sumber
          Sejarah Pendidikan merupakan suatu instrumen untuk merekonstruksi peristiwa  sejarah  mulai dari munculnya institusi atau lembaga yang bermaksud untuk memperkembangkan kepribadian dan pengetahuan seseorang baik secara formal maupun informal (history  as  past  actuality) menjadi sejarah sebagai kisah keberadaan sekolah dan / atau lembaga pendidikan (history as written).[28] Keberadaan sekolah dan / atau lembaga pendidikan ini bisa diadakan secara mandiri perorangan maupun dalam wadah Yayasan. Istilah yayasan yang dimaksud adalah suatu lembaga berbadan hukum yang secara khusus mengurus keberadaan dan keberlangsungan satuan pendidikan / sekolah.
          Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode sejarah, yaitu seperangkat prinsip-prinsip yang sistematis dan aturan-aturan untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif, menilai secara kritis, dan menyajikan secara sistematis dalam bentuk laporan tertulis. Tujuan dari metode ini adalah demi tercapainya kebenaran sejarah.[29] Langkah – langkah dalam metodologi sejarah yaitu: heuristik atau pengumpulan bahan, kritik sumber internal dan eksternal, interpretasi dan historiografi atau penulisan sejarah.[30]
          Sumber yang digunakan dalam penulisan ini meliputi:
          pertama, sumber setempat dan tidak sejaman, berupa dokumen resmi tercetak, seperti: Akte Notaris Nomor 11 / 1930 dengan Notaris: Christian Maathius tentang Yayasan Xaverius Palembang.
          Kedua, sumber setempat dan sejaman berupa arsip lokal seperti: akte pendirian sekolah dan akte ijin operasional sekolah, SK pemisahan SMP Xaverius 1 dan SMP Xaverius 2, Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) SMP/SMA Xaverius, wawancara lisan, dan literatur tertulis. Wawancara lisan dilakukan dengan beberapa pelaku sejarah atau orang-orang yang terlibat dalam muncul dan berkembangnya sekolah Xaverius yang sampai sekarang masih hidup. Sedangkan literatur tertulis didapatkan dari tulisan-tulisan yang dibuat pada saat ada perayaan khusus terkait dengan sekolah atau yayasan Xaverius.
          Sumber-sumber tersebut jika ditinjau dari sudut jenisnya dapat  diklasifikasikan berupa dokumen atau laporan resmi, buku-buku literatur dan tokoh-tokoh yang mengalami atau mengetahui tentang sekolah Xaverius, sedangkan jika ditinjau dari derajat kualitasnya dapat diklasifikasikan menjadi sumber primer, sumber sekunder, dan sumber tersier. Dalam hal ini, secara hitungan jumlah, sumber primer tidak harus banyak, tetapi dalam sumber primer  tersebut terkandung permasalahan pokok. Semua sumber tertulis tersebut diperoleh lewat studi kepustakaan di Perpustakaan SD, SMP, dan SMA Xaverius 1 dan 2 Jambi, arsip di kantor Yayasan Xaverius Koordinatorat Jambi dan Kuala Tungkal, Perpustakaan Daerah Jambi, koleksi pribadi, dan lain-lain.
          Semua fakta sejarah yang telah diperoleh, kemudian diberi makna. Selanjutnya dirangkai satu sama lain sehingga menjadi jalinan cerita yang sesuai dengan metode sejarah. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan karya sejarah yang baik, yaitu tidak hanya tergantung pada kemampuan meneliti sumber dan memunculkan fakta sejarah, melainkan juga kemampuan imajinasi untuk mengurai sejarah secara terperinci.[31]

F.    Tinjauan Pustaka
Pembahasan tentang Sekolah Xaverius sudah ditulis oleh beberapa penulis lain, namun masih dalam bentuk makalah singkat yang kemudian dikumpulkan oleh editor dan dicetak menjadi buku kenangan untuk memperingati ulang tahun Sekolah atau Yayasan Xaverius, misalnya: buku kenangan 25 tahun (1967 – 1992) SMA Xaverius 1 Jambi yang disusun oleh A. Haryandoko dan diterbitkan oleh panitia peringatan 25 tahun SMA Xaverius 1 Jambi, seksi buku peringatan, tahun 1991. Buku tersebut berisi tentang riwayat singkat Yayasan Xaverius Cabang Jambi, mereka yang berkarya di SMA Xaverius, prestasi yang diraih, seluk beluk SMA Xaverius 1 Jambi, dan statistik perkembangan siswa.
Buku lain yang membahas secara sekilas tentang sekolah Xaverius Jambi adalah buku 60 tahun Yayasan Xaverius Palembang yang disusun oleh Syahrulsyam dan F.X. Soemardjo diterbitkan oleh Panitia peringatan HUT ke 60 Yayasan Xaverius Palembang, Seksi buku peringatan, tahun 1991.
Buku kenangan 60 tahun Paroki Santa Teresia Jambi yang disusun oleh L.Y. Tukijan dan diterbitkan oleh Seksi Buku Kenangan, tahun 1995 juga melengkapi keterangan yang dibutuhkan berkaitan dengan karya gereja katolik, terutama dalam bidang pendidikan.
Sedangkan buku utama yang dijadikan sebagai acuan adalah In Omnibus Optimum (Bersatu Kita Maju, Memberi Pelayanan Terbaik) 75 Tahun Yayasan Xaverius Palembang yang dibuat oleh tim buku 75 tahun YXP dan diterbitkan tahun 2006. Buku 75 tahun YXP dijadikan sebagai acuan utama karena buku tersebut yang paling lengkap membahas semua sekolah Xaverius di lingkup Yayasan Xaverius Palembang dan paling up to date.



Berdasar kenyataan tersebut, membuat penulis tertantang untuk menyajikan sejarah pendidikan, secara khusus Sejarah Sekolah Xaverius di Kota Jambi. Buku pelengkap yang digunakan adalah Profil Propinsi Jambi yang diterbitkan oleh Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara tahun 1992. Dalam buku ini diungkap mengenai sejarah pendidikan di Propinsi Jambi.
Buku pelengkap lain adalah Menggugat Pendidikan Indonesia, Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantoro karya Moh. Yamin diterbitkan oleh Ar-Ruzz Media – Yogyakarta tahun 2009. Buku ini membahas tentang konsep-konsep pendidikan di Indonesia. Buku lainnya adalah Paradigma Pedagogi Reflektif karya Tim Redaksi Kanisius yang diterbitkan oleh penerbit Kanisius, Yogyakarta tahun 2008 yang berisi tentang cara pandang baru tentang pendidikan.
      
G.    Sistematika Penulisan
          Sekolah Xaverius Di Kota Jambi  Tahun 1950 – 1985 merupakan judul skripsi ini. Pada bab I skripsi diberikan sebuah pengantar yang diharapkan memberi arah seluruh penulisan dan memberi gambaran singkat tentang isi skripsi. Bab I berisi uraian mengenai sejarah pendidikan secara umum di Kota Jambi. Pada bagian ini akan dimunculkan beberapa fakta mengenai keberadaan lembaga-lembaga pendidikan, khususnya lembaga pendidikan formal di Kota Jambi yang sudah ada di kisaran tahun 1950 an.
          Bagian selanjutnya, adalah Bab II yang berisi uraian mengenai daerah penelitian atau batasan spasial yang menjadi ciri khas penulisan sebuah cerita sejarah. Daerah penelitian dalam tulisan ini adalah Kota Jambi, yang akan dilihat secara administratif pemerintahan. Selain membahas tentang daerah penelitian, bab ini juga menggambarkan kehidupan penduduk terutama dari aspek sosial,  budaya, dan keagamaan, yang akan berimbas pada hadirnya sekolah-sekolah yang bernuansa keagamaan. Pada bagian ini juga akan diuraikan tentang sejarah pendidikan secara singkat di Kota Jambi.
          Bab III mengulas tentang latar belakang munculnya Yayasan Xaverius Palembang dan Koordinatorat Sekolah Xaverius di Kota Jambi, sistem pembelajaran yang didalamnya mencakup kurikulum dan aturan akademik, serta aturan kepegawaian yang berlaku di Sekolah Xaverius  Jambi.
          Pada Bab IV berisi deskripsi mengenai pertumbuhan dan perkembangan Sekolah Xaverius di Kota Jambi, secara khusus dalam usaha mempertahankan kualitas dan eksistensinya. Dalam bab ini akan disampaikan mengenai data siswa, alumni, dan prestasi yang pernah diraih.
          Bab V atau bab terakhir berisikan kesimpulan yang menjawab semua permasalahan yang telah diajukan, analisis dan kristalisasi dari hasil penelitian, serta saran yang ditujukan kepada Yayasan Xaverius Palembang dan para pelaku pendidikan untuk perbaikan bagi sekolah Xaverius di Kota Jambi dan pola pendidikan secara umum.   
BAB II
KOTA JAMBI DAN MASYARAKATNYA
Pada bagian ini akan diulas mengenai aspek spasial yang akan menggambarkan tentang Kota Jambi sebagai tempat terjadinya peristiwa sejarah keberadaan Sekolah Xaverius di Jambi. Aspek spasial menjadi salah satu ciri khas sebuah penulisan sejarah, karena menyangkut wilayah atau daerah tertentu yang menjadi ruang atau tempat terjadinya peristiwa sejarah. Dalam aspek spasial ini akan tergambar kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan penduduk setempat. Kota Jambi di sini akan dilihat dari segi administratif pemerintahan khususnya di daerah Jambi kota. Pembahasan berikutnya yaitu mendeskripsikan kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan penduduk yang tinggal di Kota Jambi dalam setiap periodisasi sejarah yang telah dilewati.
A.    Administratif Wilayah Kota Jambi
         Kota Jambi adalah ibukota Provinsi Jambi dan merupakan salah satu dari 10 daerah kabupaten/kota yang ada dalam Provinsi Jambi. Secara historis, Pemerintah Kota Jambi dibentuk dengan Ketetapan Gubernur Sumatera No.103/1946 sebagai Daerah Otonom Kota Besar di Sumatera, kemudian diperkuat dengan Undang-undang No.9/1956 dan dinyatakan sebagai Daerah Otonom Kota Besar dalam lingkungan Provinsi Sumatera Tengah.
         Dengan dibentuknya Provinsi Jambi tanggal 6 Januari 1948, maka sejak itu pula Kota Jambi resmi menjadi Ibukota Provinsi, dengan demikian Kota Jambi sebagai Daerah Tingkat II pernah menjadi bagian dari tiga Provinsi yakni Provinsi Sumatera, Provinsi Sumatera Tengah dan Provinsi Jambi sekarang. Memperhatikan jarak waktu antara Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dengan dibentuknya Pemerintah Kota Jambi, tanggal 17 Mei 1946, terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini  jelas menunjukkan bahwa Pembentukan Pemerintah Otonom Kota Besar Jambi saat itu sangat dipengaruhi oleh jiwa dan semangat Proklamasi 17 Agustus 1945.
         Meskipun menurut catatan sejarah, pendirian Kota Jambi bersamaan dengan berdirinya Provinsi Jambi yaitu tanggal 6 Januari 1957, namun hari jadinya ditetapkan sebelas tahun lebih dulu, sesuai Peraturan Daerah (Perda) Kota Jambi No.16 tahun 1985 yang disahkan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jambi dengan Surat Keputusan No. 156 tahun 1986, bahwa Hari Jadi Pemerintah Kota Jambi adalah tanggal 17 Mei 1946, dengan alasan bahwa terbentuknya Pemerintah Kota Jambi (sebelumnya disebut Kotamadya kemudian menjadi Kota saja),  adalah tanggal 17 Mei 1946 dengan Ketetapan Gubernur Sumatera No. 103 tahun 1946, yang diperkuat dengan UU No. 9 tahun 1956. Kota Jambi resmi menjadi Ibukota Provinsi Jambi pada tanggal 6 Januari 1957 berdasarkan UU No. 61 tahun 1958.[32]
         Secara administratif, Kota Jambi dibentuk berdasarkan undang-undang no.7 tahun 1956 jo Undang-undang no.58 tahun 1958 terdiri atas 6 daerah kecamatan. Pada tahun 1986 dengan peraturan pemerintah no.6 tahun 1986 Kota Jambi bertambah 2 kecamatan lagi, sehingga secara keseluruhan menjadi 8 kecamatan dan sejak tahun 1996 Kota Jambi terdiri dari 62 kelurahan. Adapun kecamatan dan kelurahan yang ada dalam wilayah administratif Kota Jambi lihat tabel 2.1:


















Tabel 2.1
Wilayah Administratif Kota Jambi
Berdasarkan Kecamatan dan Kelurahan
1958 – Sekarang
No
Kecamatan
Kelurahan
1
Jambi Pasar
Beringin, Sungai Asam, Orang Kayo Hitam, dan Pasar Jambi.
2
Jambi Timur
Sulanjana, Budiman, Talang Banjar, Payo Selincah, Tanjung Sari, Tanjung Pinang, Rajawali, Kasang Jaya, Kasang, dan Sijenjang.
3
Jambi Selatan
Paal Merah, Talang Bakung, Pasir Putih, Wijaya Pura, Pakuan Baru, Tambak Sari, Thehok, Lingkar Selatan, dan Eka Jaya.
4
Telanaipura
Penyengat Rendah, Simpang IV Sipin, Selamat, Sungai Putri, Solok Sipin, Murni, Legok, Buluran, Teluk Kenali, dan Pematang Sulur.
5
Kotabaru
Kenali Besar, Rawasari, Simpang III Sipin, Suka Karya, Kenali Asam Atas, Kenali Asam Bawah, Paal Lima, Bagan Pete, Beliung Patah, dan Mayang Mangurai.
6
Jelutung
Kebun Handil, Jelutung, Payo Lebar, Lebak Bandung, Cempaka Putih, Talang Jauh, dan Handil Jaya.
7
Pelayangan
Kampung Tengah, Jelmu, Mudung Laut, Arab-Melayu, Tahtul Yaman, dan Tanjung Johor.
8
Danau Teluk
Tanjung Raden, Olak Kemang, Pasir Panjang, Tanjung Pasir, dan Ulu Gedong.
Sumber : Refleksi 50 Tahun Pembangunan Provinsi Jambi, Jambi: Bappeda Provinsi Jambi bekerjasama dengan Provinsi Jambi, 2007
         Adapun Sekolah-Sekolah Xaverius tersebar di beberapa kelurahan dan kecamatan yang ada di Kota Jambi. Di Kecamatan Jambi Pasar terdapat Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) Xaverius 1 yang terletak di Kelurahan Pasar Jambi. Selain di Kecamatan Jambi Pasar, Sekolah Xaverius juga ada di Kecamatan Jambi Selatan, dalam hal ini Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Xaverius 1. Sementara itu Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Xaverius 2 berada di Kelurahan Simpang IV Sipin, Kecamatan Telanaipura. Lainnya terletak di Kecamatan Jelutung, yaitu Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) Xaverius 2.[33]
B.    Kehidupan Sosial Penduduk
         Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, dengan adanya politik etis pada tahun 1900, pendidikan untuk masyarakat pribumi mulai diperhatikan, baik oleh pemerintah dibuktikan dengan didirikannya sekolah-sekolah oleh Pemerintah Kolonial maupun oleh para tokoh dari Eropa, seperti misalnya: Abendanon, Engelenberg, Van Lith, dan Herdeman sehingga di tahun 1911 telah muncul elit pribumi yang juga memiliki kepedulian terhadap pendidikan bagi sesamanya.[34]
Pada hakekatnya pengaruh barat (Belanda) dalam pendidikan di Jambi mulai dirasakan setelah dijadikannya Jambi sebagai daerah residensi pada tahun 1906.[35] Sekolah mula-mula yang diperkenalkan oleh Pemerintah Belanda adalah Sekolah Kelas Dua, dalam rangka mendidik calon pegawai rendah dan untuk memenuhi kebutuhan akan pengajaran di kalangan rakyat umum.[36]
Pada tahun 1907 Pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah-sekolah desa atau yang lebih dikenal dengan Sekolah Marga atau Volkschool yang lama belajarnya tiga tahun dan dikelola oleh marga. Pada tahun 1929 sekolah-sekolah kelas dua diubah menjadi sekolah marga atau volkschool dan dibuat juga sekolah sambungannya, yaitu: Vervolgschool.[37]
Perkembangan politik etis ternyata membawa pengaruh yang besar dalam bidang pendidikan. Sekolah yang didirikan Pemerintah Hindia Belanda di Jambi adalah:


a.     ELS (Sekolah Rendah Eropa)
ELS adalah sekolah rendah yang seluruhnya memakai sistem dan tingkat pelajaran yang sama dengan sekolah rendah di negeri Belanda. Di daerah Jambi hanya terdapat satu ELS, yaitu di Jambi sebagai ibukota Karesidenan.
Murid-murid ELS adalah anak-anak orang Belanda yang ada di Jambi dan beberapa anak Bumiputera dan Timur asing.
b.     Sekolah Kelas Satu
Sekolah Kelas Satu hanya ada di Kota Jambi dan merupakan sekolah dasar di mana bahasa Belanda mulai diberikan di kelas 3, dan di kelas 6 bahasa Belanda dijadikan sebagai bahasa pengantar pelajaran.
Pada tahun 1911, sekolah kelas satu lamanya tujuh tahun, dan pada tahun 1914, Sekolah Kelas Satu menjadi HIS. Murid-muridnya adalah anak-anak dari kaum terkemuka dalam masyarakat.
c.     HIS (Holland Inlandsche School)
HIS merupakan sekolah rendah pengajar barat yang pada mulanya bernama Sekolah Kelas Satu. HIS di daerah Jambi hanya ada satu yaitu di Kota Jambi.
d.     Sekolah Kelas Dua
Sekolah ini merupakan sekolah rendah pengajaran Bumiputera. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa daerah. Lama pendidikan pada mulanya tiga tahun, kemudian menjadi lima tahun.
Pada tahun 1929, karena pemerintah Belanda mengalami depresi maka untuk penghematan, Sekolah Kelas Dua diubah menjadi Sekolah Marga (Volkschool).
e.     Volkschool
Merupakan sekolah desa tiga tahun yang dibuka di tiap desa / marga. Pada hakekatnya sekolah ini hanya untuk memberantas buta huruf belaka
f.      Vervolgschool
Merupakan sambungan dari Volkschool. Lama pendidikan adalah 2 tahun. Di daerah Jambi, Vervolgschool terdapat di tiap orderdistrik.
Sekolah yang didirikan Pemerintah Hindia Belanda di Kota Jambi ternyata sampai sekarang masih ada yang berdiri, yaitu di Kecamatan Pasar Jambi terdapat SD No. 2/IV yang didirikan sejak 1917, di Kecamatan Pelayangan terdapat SD No. 4/IV yang didirikan sejak 1940, dan di Kecamatan Danau Teluk terdapat SD No. 3/IV yang didirikan sejak 1917.[38]
Selain pendidikan dasar, Pemerintah Hindia Belanda juga mengadakan pendidikan kejuruan, yaitu CVO (cursus voor onxerwijzer) yaitu sekolah guru yang didirikan di Muara Bungo, Sarolangun, dan Jambi, serta KGC (kursus guru C) yang terdapat di Muara Bungo, Muara Tebo, dan Sarolangun.[39]
Dengan adanya politik etis yang dilaksanakan Pemerintah Hindia Belanda melahirkan para elit baru di Indonesia termasuk di Jambi yang memiliki kepedulian terhadap sesamanya dan berkeinginan untuk menumbuhkan semangat kebangsaan. Mereka inilah yang kemudian berperan untuk memajukan pendidikan dengan pendirian sekolah-sekolah baru, yang sebagian besar bernuansa keagamaan.
Masyarakat Jambi merupakan masyarakat yang agamis. Berbagai segi kehidupan masyarakat diwarnai oleh sikap-sikap, perilaku, dan pandangan keagamaan. Agama Islam di Jambi merasuki sikap, tingkah laku, pandangan hidup, dan budaya rakyat. Para Orang tua sangat menekankan pendidikan agama kepada anak-anaknya.[40] Hal inilah yang menjadi faktor pendukung kemajuan sekolah-sekolah yang didirikan oleh Perukunan Tsamaratul Insan[41] yang memang menekankan pada pendidikan keagamaan, terutama agama Islam.
Perukunan Tsamaratul Insan merupakan kelompok radikal dan anti kolonialisme. Pada awal munculnya organisasi ini pada tahun 1915, tugas utamanya adalah mengurusi segala hal pada saat ada warga yang mengalami kematian, mendirikan masjid-masjid, tempat belajar menurut faham Mazhab Syafi’i, mengurusi masalah wakaf dan rumah-rumah sakit. [42]
Tahun 1915 sampai 1930-an, Perukunan Tsamaratul Insan mendirikan sekolah-sekolah Islam di daerah Kota Jambi sebelah utara, yaitu: Madrasah Nurul Islam Tanjung Pasir, Madrasah Nurul Iman Ulu Gedong, Madrasah Jauharain, dan Madrasah Sa’adatut Darain di Tahtul Yaman.[43] Pelajaran formal yang disampaikan sekolah-sekolah tersebut hanya pelajaran agama Islam.[44]
Dalam perkembangannya, setelah Serikat Islam di Jambi dilarang oleh Belanda, Perukunan Tsamaratul Insan menggantikan peran Serikat Islam menjadi sebuah kekuatan sosial yang terang-terangan memusuhi Belanda. Sikap yang demikian mengundang kemarahan Belanda, sebagai akibatnya Belanda melarang dan membekukan Perukunan ini. Namun rakyat Jambi tetap mendukung keberadaan Perukunan ini, sehingga meski dilarang, Perukunan ini tetap menjalankan aktifitasnya, karena bagi mereka yang utama adalah kejayaan agama Islam.
Setelah kondisi Belanda makin terdesak, karena demikian banyaknya perlawanan terhadap Belanda, akhirnya Belanda menyadari kesalahannya dan memperbaiki kekeliruannya yang selama ini dilakukan, baik dalam birokrasi pemerintahan, bidang adat, dan bahkan keagamaan. Hal inilah yang semakin memicu diakuinya Perukunan Tsamaratul Insan dengan keempat madrasah dan pondok pesantren yang didirikannya. Tahun 1930-an merupakan puncak kejayaan Perukunan Tsamaratul Insan, di mana Para santri berdatangan dari berbagai desa dan daerah untuk menimba ilmu agama dan menjadi penghuni pondok pesantren dalam keempat madrasah yang didirikan Perukunan Tsamaratul Insan.[45]
Ketika Jepang masuk Indonesia pada tahun 1942, perlawanan fisik sesungguhnya tidak terjadi di Jambi. Tetapi masalah yang muncul kemudian adalah banyak Sekolah Rakyat (Angka Loro)[46] dan madrasah ditutup. Hal ini terjadi karena kesulitan penghidupan. Empat Madrasah dan pondok pesantren yang didirikan Perukunan Tsamaratul Insan pun mengalami kemunduran. Para santrinya banyak yang kembali ke desa dan daerahnya masing-masing.
Pada tahun 1947 setelah penghidupan menjadi lebih baik, M. Nur Lubis dan Ibrahim bersama para alim ulama dan guru agama mulai membina kembali madrasah-madrasah dan pondok pesantren, khususnya keempat madrasah dan pondok pesantren yang didirikan oleh Perukunan Tsamaratul Insan. Mereka menerima murid baru maupun murid lama yang kembali lagi. Selain itu juga didirikan Yayasan Pendidikan Islam Al Falah yang mengelola TK Islam dan SD Islam dan beberapa Yayasan Pendidikan yang bernuansa Islami yang mengelola sekolah-sekolah. Bahkan sampai sekarang masih muncul pengembangan dari Yayasan Pendidikan Islami, misalnya Sekolah Nurul Ilmi dan Al Azhar di kawasan Telanaipura-Jambi. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pendidikan berciri khusus Islami diterima oleh masyarakat Jambi karena masyarakat Jambi bersifat agamis.
          Penduduk Jambi adalah penduduk yang dalam kehidupan sosialnya terbuka untuk menerima dan berbagi dengan hal-hal baru. Hal ini jugalah yang mendorong banyak orang ingin mempelajari sesuatu yang baru dari budaya yang baru juga, salah satunya melalui pendidikan formal.
Selain Pendidikan yang bernuansa Islami, misi pendidikan juga dilaksanakan oleh Gereja Katolik di daerah Jambi dengan mengambil dasar spiritualitas Pastor Van Lith, SJ (lahir 1863 - wafat 1926), yang dalam konteks jaman kolonial waktu itu, Beliau mendirikan lembaga pendidikan dengan idealisme mengentaskan orang Jawa dari keterpurukan dan ketidakadilan yang mereka derita.[47]

Jambi tahun 1935 sebagai daerah misi katolik mengalami hal yang sama dengan di Jawa. Banyak warga masyarakat yang masih mengalami kemiskinan dalam bidang ilmu pengetahuan dan ketertindasan dari penjajah Belanda. Pastor N. Hoogeboom, SCJ sebagai misionaris yang berkarya di Jambi pada masa itu berinisiatif untuk mendirikan sekolah. Karena waktu itu umat katolik kebanyakan dari masyarakat Tionghoa dan mereka tidak memiliki tempat untuk sekolah, maka didirikanlah HCS (Holland Chinese School)[48], yaitu sekolah rendah berbahasa Belanda untuk anak Cina. Pada saat itu yang mengajar adalah Pastor N. Hoogeboom, SCJ dibantu tiga suster misionaris dari Kongregasi FMM[49].
Pada tahun 1942, ketika Jepang masuk ke Jambi, Sekolah HCS ditutup karena Pastor dan Suster yang berasal dari Belanda ditangkap dan ditahan di interniran.[50] Hal itu terjadi sampai berakhirnya revolusi fisik, yaitu sekitar tahun 1947.[51] Pastor N. Hoogeboom, SCJ pun ingin melanjutkan usaha beliau dalam misi pendidikan, maka didirikanlah sekolah rakyat untuk orang Tionghoa, karena kebutuhan kaum Tionghoa akan pendidikan waktu itu tidak terakomodir dalam sekolah-sekolah negeri dan madrasah yang umumnya memang bernafaskan Islami.[52] Sekolah rakyat untuk orang Tionghoa ini didirikan pada tanggal 1 agustus 1950 di daerah Rawasari dan diberi nama Sekolah Ta Tong dengan bahasa pengantar bahasa Tionghoa.[53] Bahasa pengantar pelajaran dipilih Bahasa Tionghoa karena pada kenyataannya waktu itu, kebanyakan mereka masih Cina totok, di mana bahasa sehari-hari yang dipakai dirumahnya adalah bahasa Tionghoa. Untuk karya pendidikan ini, beliau dibantu oleh tiga orang suster Fransiskanes Misionaris Maria (FMM). Pada tanggal 1 Agustus 1954, para suster mendirikan SD Xaverius.[54] Waktu itu, anak-anak pribumi sekolahnya di SD Xaverius, sedangkan anak-anak Tionghoa sekolahnya di Sekolah Ta Tong. Tahun 1959 karena adanya usaha pemerintah untuk Indonesianisasi, maka sekolah Ta Tong berubah nama menjadi sekolah Santo Yusup dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Selanjutnya, dalam rangka pembauran dan efisiensi, sekolah Santo Yusup akhirnya ditutup, dan siswa-siswanya digabung dengan SD Xaverius[55], karena guru yang mengajar di Sekolah Santo Yusup dan SD Xaverius sama.
Pada tahun 1959, dibukalah SMP Xaverius dengan mengambil tempat tidak jauh dari SD Xaverius, yaitu di belakang Gereja Katolik sekarang ini. Dilanjutkan dengan pada tahun 1967 dibuka SMA Xaverius. Pada mulanya, tempat untuk SMA Xaverius juga berada di belakang Gereja Katolik di daerah Rawasari. Namun karena keberadaan sekolah tersebut di dekat terminal, maka dirasa kurang mendukung proses pendidikan. Akhirnya pada tahun 1977 SMP dan SMA dipindah ke Jl. Marsda Abdurrahman Saleh, The Hok. Sedangkan TK dan SD masih tetap di Jalan Putri Pinang Masak No. 19, Rawasari. Hal ini juga untuk memperjelas tentang siapa yang mengelola sekolah tersebut. TK dan SD Xaverius di Rawasari pengelolaannya diserahkan kepada para suster Fransiskanes Misionaris Maria (FMM) melalui Yayasan Bhakti Utama yang kemudian pada tahun 2004 menginduk pada Yayasan Regina Pacis sedangkan SMP dan SMA Xaverius di The Hok pengelolanya adalah Yayasan Xaverius Palembang.

Supaya Sekolah Xaverius menjangkau kawasan Telanaipura yang merupakan kawasan perkantoran Propinsi Jambi maka pada tahun 1985 dibukalah TK, SD, SMP, dan SMA Xaverius di daerah Sungai Kambang, Telanaipura. Namun pada tahun 1987, TK dan SD Xaverius dipindahkan ke Jelutung. TK dan SD Xaverius di Jelutung ini kemudian diberi nama TK dan SD Xaverius 2 Jambi. Sedangkan SMP dan SMA Xaverius di Telanaipura diberi nama SMP dan SMA Xaverius 2 Jambi.
Melihat banyaknya sekolah yang sampai sekarang masih bertahan dan mulai didirikan, menunjukkan bahwa dalam masyarakat Jambi sudah ada kesadaran bahwa untuk membangun budaya dan kehidupan sosial yang lebih baik diperlukan adanya pendidikan formal melalui sekolah. Kesadaran penduduk Jambi akan perlunya pendidikan ternyata berimbas pada tingkat kehidupan perekonomian dan kesejahteraan yang meningkat pula. Hal ini terjadi karena banyak penduduk asli yang kemudian menjadi pegawai. Namun ada beberapa sektor atau bidang yang tetap mendatangkan tenaga ahli dari luar daerah Jambi. Untuk melihat Sekolah-Sekolah yang masih ada antara tahun 1950 – 1985 lihat tabel 2.2:





Tabel 2.2
                            Sekolah-Sekolah di Kota Jambi      
1950 – 1985
No
Nama Sekolah
Letak
Tahun
Penyelenggara
1
Madrasah Nurul Iman (Ibtidaiyah (7tingkat) dan               Tsanawiyah   (4tingkat)
Kampung Tengah
1915
Perukunan Tsamaratul Insan
2
Madrasah Saadatul Darain
Tahtul Yaman
1915
Perukunan Tsamaratul Insan
3
Madrasah Nurul Islam
Tanjung Pasir
1915
Perukunan Tsamaratul Insan
4
Madrasah Al-Jauharain
Tanjung Johor
1915
Perukunan Tsamaratul Insan
5
SD No.02 / IV
Pasar Jambi
1917
Pemerintah
6
SD No.3 / IV
Danau Teluk
1917
Pemerintah
7
SD No.4 / IV
Pelayangan
1940
Pemerintah
8
SMP Negeri 1 Jambi
Pasar
1946
Pemerintah
9
Sekolah Ta Tong
Pasar
1950
Yayasan Xaverius Palembang
10
TK Xaverius 1
Pasar
1953
Yayasan Xaverius Palembang
11
SD Xaverius 1
Pasar
1954
Yayasan Xaverius Palembang
12
SMP Negeri 2 Jambi
Pasar
1958
Pemerintah
13
SMP Xaverius 1 Jambi
Pasar
1959
Yayasan Xaverius Palembang
14
SMP Negeri 3 Jambi
Kota Jambi
1963
Pemerintah
15
SMP Negeri 4 Jambi
Kota Jambi
1965
Pemerintah
16
SMP Negeri 5 Jambi
Kota Jambi
1965
Pemerintah
17
SMA Xaverius 1
Pasar
1967
Yayasan Xaverius Palembang
18
SMP Negeri 6 Jambi
Kota Jambi
1977
Pemerintah
19
SMP Negeri 7 Jambi
Kota Jambi
1977
Pemerintah
20
43 SD Inpres
Kota Jambi
1978
Pemerintah
21
29 SD Negeri
Kota Jambi
1978
Pemerintah
22
SMP Negeri 8, 9, 10, 11, dan 12
Kota Jambi
1979
Pemerintah
23
SD Adyaksa
Kota Jambi


24
SD Udayana
Kota Jambi


25
SMP Muhammadiyah
Kota Jambi

Muhammadiyah
26
SMP Budi Utomo
Kota Jambi


27
SMP Sari Putra
Kota Jambi

Yayasan Vihara Amartha
28
SMP PGRI
Kota Jambi

PGRI
29
SMP Purnama
Kota Jambi

Yayasan Purnama
30
SMP R.A. Kartini
Kota Jambi


31
SMP Harapan
Kota Jambi


32
SMP IX Lurah
Kota Jambi

Yayasan Jambi IX Lurah
33
SMA Xaverius 1
The Hok
1967
Yayasan Xaverius Palembang
34
SMA Muhammadiyah
Kota Jambi
1957
Muhammadiyah
35
SMA IX Lurah
Kota Jambi
1957
Yayasan Jambi IX Lurah
36
SMA Purnama
Kota Jambi
1977
Yayasan Purnama
37
TK, SD, SMP, dan SMA Xaverius 2 Jambi
Telanaipura
1985
Yayasan Xaverius Palembang
Sumber: Sejarah Pendidikan Daerah Jambi, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980, hlm.59-115. Data yang disampaikan dalam tabel memang tidak lengkap karena kurangnya referensi.

                   Budaya dan adat yang kuat dipegang dan menjadi pemersatu dan pengharmonis hubungan antara penduduk asli dengan pendatang adalah Adat Melayu Jambi. Di mana ada terungkap di dalamnya, ”di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
        
BAB III
SEKOLAH XAVERIUS DI KOTA JAMBI
          Pada bagian ini akan diulas mengenai sejarah munculnya Yayasan Xaverius Palembang, khususnya Koordinatorat Sekolah Xaverius Jambi dan Kuala Tungkal yang mengelola Sekolah Xaverius di Kota Jambi. Keberadaan Sekolah Xaverius di Jambi tidak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya agama Katolik di Sumatera, khususnya di Palembang, Jambi, dan Bengkulu. Untuk itu, bagian awal yang akan diulas adalah latar belakang pendirian Yayasan Xaverius Palembang sebagai sayap pelayanan agama Katolik di bidang pendidikan. Bagian selanjutnya adalah tentang seluk beluk yang ada dalam Sekolah Xaverius di Kota Jambi, baik tentang sistem pembelajaran yang mencakup kurikulum, aturan akademik, dan bahkan tentang pola perekrutan pendidik dan tenaga kependidikannya.



A.    Latar Belakang Pendirian[56]
Misi Katolik di daerah Sumatera dimulai pada tahun 1853 ditandai dengan dibukanya paroki[57] Sungai Selan (Bangka) dengan imam pertamanya Pastor Jan Langenhoff (1853-1867). Selain melayani Bangka dan Belitung, paroki ini juga melayani umat Katolik di Palembang dan Jambi.[58]
Pada 1 September 1888, Pastor Johannes van Meurs membuka dua sekolah di Tanjung Sakti. Sampai tahun 1890, di Tanjung Sakti terdapat 8 orang Katolik semuanya orang-orang pribumi. Tanjung Sakti tetap menjadi satu-satunya paroki di wilayah bagian Selatan Sumatra. Pada 27 Desember 1923, Vatikan mendirikan Prefektur Apostolik Bengkulu dengan pusatnya di Tanjung Sakti. Prefektur Apostolik Bengkulu melayani seluruh wilayah Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, dan Jambi; luasnya 5,5 kali luas Negara Belanda. Prefektur Apostolik Bengkulu baru memiliki sekitar 500 orang Katolik ketika pertama kali didirikan.[59]
Tahun 1925, Palembang menjadi pos tetap misi. Misi Katolik yang utama dalam bidang pendidikan mulai dirintis. Pastor J. Neilen, SCJ, sebagai pastor di Palembang pun segera memulai pendirian sekolah secara sederhana. Serambi di depan kamar pastor disulap menjadi ruang kelas dan pastor sendiri yang mengajar anak-anak. Sekitar bulan Juli 1926, Pastor van Oort mengubah tempat sekolah yang masih sederhana di serambi pastoran, yang dulu dirintis oleh Pastor J. Neilen ke tempat yang lebih permanen.
Pada tahun itu juga, sebuah HIS (Hollandsche Indische School), didirikan untuk anak-anak perempuan, di sebidang tanah di belakang pastoran di Jalan Talang Jawa, menyusul kemudian sebuah sekolah desa (volkschool) di Lorong Pagaralam (sekarang Jln. Mayor Ruslan). Selain HIS, berhasil juga didirikan ELS (Europese Lagere School) di atas sebidang tanah yang baru saja dibeli dengan tiga ruang dan tempat bermain.

Inspektur Pendidikan (semacam Departemen Pendidikan Nasional sekarang) di Weltervreden menaruh harapan besar akan adanya pengajaran terpisah bagi anak-anak perempuan dan laki-laki. Berdasarkan pengalaman, para orang tua pribumi lebih menyukai pengajaran yang terpisah, daripada pengajaran campuran (ko-edukasi). Suster dianjurkan bahwa alangkah baiknya membina beberapa perempuan indo supaya mereka ini dapat mulai mengajar di sekolah-sekolah desa. Para suster juga ditugaskan membuka suatu sekolah standar (Standardschool) dengan tenaga pengajar berijazah pendidikan.[60]
Sekolah-sekolah misi yang sudah berhasil didirikan belum memperoleh subidi secara penuh dari pemerintah Hindia Belanda. Memang, Sekolah Maria sudah memperoleh subsidi, tetapi hanya untuk satu orang, yaitu Suster Martini selaku kepala sekolah. Padahal biaya untuk menyelenggarakan sekolah tidak sedikit.
Melihat kondisi sulitnya mendapat subsidi dari pemerintah tersebut, maka pada tanggal 12 Juli 1929 didirikan Perkumpulan Xaverius (Xaverius Vereeniging) sebagai “payung” terhadap sekolah-sekolah Katolik yang sudah didirikan. Selain itu, Yayasan Xaverius didirikan sebagai upaya perjuangan para misionaris agar sekolah-sekolah Katolik memperoleh dukungan subsidi (baca: dana) dari Pemerintah Kotapraja Palembang. Dengan kata lain, Yayasan Xaverius didirikan sebagai wadah sekolah-sekolah yang sudah ada untuk memperjuangkan agar sekolah-sekolah Katolik setara dengan sekolah-sekolah negeri yang didirikan pemerintah Hindia Belanda.
Yayasan Xaverius menjadi lembaga resmi melalui Akta Pendirian (Stichting Brief) No. 11 yang dibuat oleh Notaris Christiaan Maathuis, tanggal 5 Mei 1930, dari Kantor Notaris Adriaan Ridder. Perkumpulan Xaverius berkedudukan di Palembang dan didirikan dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.
Sebagai sebuah lembaga, Yayasan Xaverius memiliki visi dan misi yang menjadi acuan gerak dan langkahnya.[61] Adapun visi Yayasan Xaverius Palembang adalah: “Yayasan Xaverius Palembang adalah Perwujudan Perutusan Gereja di Bidang Pendidikan, dalam Kebersamaan Selalu Berorientasi untuk Pencerdasan Kehidupan Bangsa.



Sedangkan penjabaran Visi tersebut terdapat dalam misinya, yaitu:
1.     Menghidupkan dan mengembangkan ciri khas pendidikan Katolik.
2.     Menciptakan suatu pemahaman dan sikap bersama bahwa Yayasan Xaverius Palembang adalah Lembaga Pendidikan yang mengemban perutusan Gereja.
3.     Memberikan pelayanan terbaik di bidang pendidikan sebagai bentuk pendampingan orang muda agar terwujud pencerdasan kehidupan bangsa.
4.     Mengoptimalkan dan mengembangkan unit-unit usaha secara jeli, selektif, dan profesional demi eksistensi dan kestabilan perekonomian Yayasan Xaverius Palembang.
5.     Mencermati dan melaksanakan secara kritis undang-undang sistem pendidikan nasional dan peraturan pemerintah di bidang pendidikan.
Struktur dan Organ Yayasan Xaverius Palembang senantiasa mengalami penyempurnaan dari tahun ke tahun. Struktur dan Organ Yayasan Xaverius Palembang dari awal sampai 1987 dapat dilihat dalam tabel 3.1 berikut:










Tabel 3.1
Pengurus Yayasan Xaverius
1930 – 1987
Jabatan
1930–1948
1942-1948
1948-1953
1953-1965
1965-1984
1984-1987
Ketua
Pastor J.J. van der Sangen, SCJ
Selama masa ini sekolah-sekolah Xaverius tutup.
Pastor W.L.C. Boeren, SCJ
R.I. Soediro-pranoto
R.I. Soediro-pranoto
Drs. Y. Samodra Nugraha
Wakil Ketua



J.P. Manarap

Sekretaris I
Pastor Albertus Hermelink, SCJ
Isaak Soediro
J. Injo Soei Goeam
J.W.L. Toruan
Drs. F.S. Bandiman
Sekretaris 2






Pastor J.J.M. Goeman, SCJ

Bendahara I
Y.M.G.W. van Leeuwen v. Peer
Lodewijk Leonard Tjia
F.J.J. Bosma
Fr. Justinus
Raden Ishak Sudiro-pranoto
Bendahara 2



Fr. F.J.J. Bosma

Anggota 1
A.J. Lekemahwa
Tjioe Tjeng Tjia
Mr. Lim Tjong Hian
Lim Tjong Hian, S.H.
Fr. Haryadi
Anggota 2
Anwar
L.F.J. Nienhuis, BHK
Tjioe Tjeng Hok
Tjoe Tjeng Hok
Sr. Gertrudis
Anggota 3


Pastor J.H. Soudant, SCJ

Sri Purwani
Anggota 4


Sr. M.A. van wijk, HK


Sumber: Buku 75 Tahun Yayasan Xaverius Palembang, 2006, hlm. 213
Organ Yayasan Xaverius Palembang yang terakhir adalah terdiri dari:
1.     Dewan Pembina: Ketua, Wakil Ketua, dan 3 Anggota.
2.     Dewan Pengawas: Ketua dan 3 Anggota
3.     Dewan Pengurus: Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan 2 Anggota.
4.     Badan Pelaksana Harian: Ketua, Sekretaris, dan KSK
Adapun struktur organisasi Yayasan Xaverius Palembang dapat dilihat dalam tabel 3.2 berikut:
Tabel 3.2
Struktur Organisasi Yayasan Xaverius Palembang
                                   KOMDIK KWI              DIKNAS PUSAT
DEWAN PEMBINA        KOMDIK KAPal          DIKNAS PROV

DEWAN PENGAWAS                    MPK KAPal

DEWAN PENGURUS                                               DIKNAS KOTA
                                                                              DAKNAS KEC
                    BPH
                    KOORDINATOR
KASEK PALEMBANG                               KEPALA SEKOLAH
                                                               LUAR PALEMBANG
KETERANGAN :             Garis Kewenangan
                                      Garis Kerjasama
                                      Garis Pertanggungjawaban          
Mengapa dipilih nama Xaverius? Nama Xaverius diambil dari nama Santo Fransiskus Xaverius, seorang misionaris yang pernah mengunjungi dan berkarya di Maluku, Indonesia. Fransiskus Xaverius memiliki kepribadian yang kuat, tercermin dari:
1.  Kedisiplinan, kegigihan, dan kecermatan yang menjadi dasar umum bagi suatu keberhasilan pendidikan.
2. Keteraturan dan pengawasan (evaluasi) yang ketat untuk menjamin tercapainya keberhasilan pendidikan.
3. Humanisme dalam proses mencapai tujuan pendidikan “menjadi manusia intelektual dan terpelajar yang bermoral dan humanis, memiliki kepekaan yang tinggi dan bijaksana”.
4. Mottonya yaitu: “In te Domine, Speravi non confundar in aeternum” (“Pada-Mu Tuhan aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu”).
Usaha permohonan subsidi ternyata sia-sia. Pemerintah kotapraja Hindia Belanda tidak mengabulkan pemberian subsidi bagi sekolah-sekolah Katolik. Baru mulai pada tahun 1930 ada harapan bahwa pemerintah Hindia Belanda akan memberikan subsidi bagi sekolah Katolik. Sekolah Maria memperoleh inspeksi intensif (semacam akreditasi) dari pejabat-pejabat dinas pendidikan dan pengajaran Hindia Belanda.

Hasil inspeksi itu, sekolah diberi predikat (akreditasi) “disamakan”. Ini berarti pengajaran sekolah itu sederajat (setara) dengan Europese Gouvernementsschool (Sekolah Negeri Eropa). Sekolah diperbolehkan memberi keterangan pada akhir tahun ajaran ke-7 yang sama nilainya dengan “Klein-Ambtenaars-Diploma” (“Ijazah Pegawai Negeri Rendah”).
Subsidi yang diharapkan datang dari pemerintah Kotapraja Palembang tidak juga diperoleh. Padahal, para misionaris sudah bekerja keras agar sekolah-sekolah itu memiliki pengajaran yang bermutu. Pemberian predikat “disamakan” tidak disertai kucuran subsidi satu sen pun, sedangkan untuk menyelenggarakan sekolah dengan pengajaran yang bermutu mutlak membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Karena subsidi dari pemerintah tidak diperoleh, bantuan yang diharapkan hanya datang dari umat Katolik sendiri. Bantuan berjumlah besar diperoleh dari umat Katolik di Belanda yang secara sukarela dan hati terbuka menyisihkan uangnya untuk kepentingan misi pendidikan yang diselenggarakan oleh para misionaris. Tahun 1935, saat krisis ekonomi sudah melanda hebat dunia (istilahnya disebut the Great Depression atau Malaise), bantuan dari Belanda semakin berkurang.

Meski demikian, ada hal menggembirakan bagi misi Katolik, yaitu para misionaris SCJ berhasil mendirikan pos-pos penting sebagai misi di Sumatera Selatan dan Tanjung Karang. Namun target bahwa Jambi juga ingin dijadikan sebagai pos misi belum berhasil karena Kota Jambi hanya dapat dicapai melalui jalur laut atau melalui jalan darat setelah memutar menempuh jarak 1000 km jauhnya dengan kereta api, bus, atau dengan perahu. Sampai tahun 1935, Jambi baru memperoleh seorang pastor.
B.    Sekolah Xaverius di Kota Jambi
Paroki Jambi didirikan tahun 1935, tepatnya 16 Januari 1935 dengan pastor pertamanya yaitu Van Oort, SCJ yang dibantu Bruder Felix van Langenberg, SCJ. Pavilyun rumah yang dibeli tahun 1932 kemudian dijadikan gereja. Beberapa bulan kemudian Pastor Van Oort ditarik ke Palembang untuk menggantikan Mgr. Mikelhoff, SCJ yang cuti ke Eropa dan Bruder Felix karena alasan kesehatan akhirnya ditarik ke Nederland.
Posisi Pastor Oort kemudian diganti oleh Pastor NA. Hoogeboom, SCJ yang baru saja bertugas dari Lahat dan berhasil mendirikan sekolah di sana. Untuk berkarya di Jambi, beliau dibantu oleh Bruder Gabriel Knirim, SCJ. Seperti halnya ketika di Lahat, di Jambi Pastor Hoogeboom, SCJ membuka sebuah sekolah HCS (Hollands Chinese School). Sekolah ini mula-mula di tempatkan di pastoran. Sedangkan gedung aslinya sedang dibangun di belakang pastoran (sekarang SD Xaverius 1 Jambi).
Berdasarkan dokumen buku baptis yang ada di gereja Katolik Santa Teresia Jambi, tahun 1935 Pastor NA Hoogeboom, SCJ mempermandikan Poniti dan Noto Nenggolo. Tahun berikutnya (1936) dipermandikan 9 orang, yaitu: Tsi Hai Sung, Tsi Hong Tek, Tsi Hong Hoa, Tsi Be Tsu, Ng Bway Seng, Ng Kwie Wiu, Tio Tsung Hiang, Wong Kwee Ling, dan Wong Kwee Lin.
Jambi merupakan daerah misi katolik yang sangat potensial untuk dijadikan pos utama misi. Pastor N. Hoogeboom, SCJ sebagai misionaris yang berkarya di Jambi pada masa itu berinisiatif untuk mendirikan sekolah. Karena waktu itu umat katolik kebanyakan dari masyarakat Tionghoa dan mereka tidak memiliki tempat untuk sekolah, maka didirikanlah HCS (Holland Chinese School)[62], yaitu sekolah rendah berbahasa Belanda untuk anak Cina. Pada saat itu yang mengajar adalah Pastor N. Hoogeboom, SCJ dibantu tiga suster misionaris FMM.
Pada tahun 1942, ketika Jepang masuk ke Jambi, Sekolah HCS ditutup karena Pastor dan Suster yang berasal dari Belanda ditangkap dan ditahan di interniran.[63] Hal itu terjadi sampai berakhirnya revolusi fisik, yaitu sekitar tahun 1947.[64] Pastor N. Hoogeboom, SCJ pun ingin melanjutkan usaha beliau dalam misi pendidikan, maka didirikanlah sekolah rakyat untuk orang Tionghoa, karena kebutuhan kaum Tionghoa akan pendidikan waktu itu tidak terakomodir dalam sekolah-sekolah negeri dan madrasah yang umumnya memang bernafaskan Islami.[65]
Sekolah rakyat untuk orang Tionghoa ini didirikan pada tanggal 1 agustus 1950 di daerah Rawasari dan diberi nama Sekolah Ta Tong dengan bahasa pengantar bahasa Tionghoa.[66] Bahasa pengantar pelajaran dipilih Bahasa Tionghoa karena pada kenyataannya waktu itu, kebanyakan mereka masih Cina totok, di mana bahasa sehari-hari yang dipakai dirumahnya adalah bahasa Tionghoa. Untuk karya pendidikan ini, beliau dibantu oleh tiga orang suster Fransiskanes Misionaris Maria (FMM)[67].
Selain membantu di sekolah Ta Tong, para suster juga melihat bahwa anak-anak prasekolah kurang diperhatikan dalam hal pendidikan, maka pada tanggal 19 Januari 1953 di daerah Rawasari, tepatnya di jalan Pinang Masak nomor 19 didirikanlah TK Xaverius.[68] Setelah TK tersebut berhasil meluluskan anak-anaknya, maka pada tanggal 1 Agustus 1954 didirikanlah SD Xaverius[69] di dekat TK Xaverius tersebut. Waktu itu, anak-anak pribumi sekolahnya di SD Xaverius, sedangkan anak-anak Tionghoa sekolahnya di Sekolah Ta Tong.
Tahun 1959 karena adanya usaha pemerintah untuk Indonesianisasi, maka sekolah Ta Tong berubah nama menjadi sekolah Santo Yusup dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Selanjutnya, dalam hitungan bulan, setelah dipikirkan masak-masak, supaya terjadi pembauran pribumi dan keturunan serta efisiensi, sekolah Santo Yusup akhirnya ditutup, dan siswa-siswanya digabung dengan SD Xaverius[70], karena guru yang mengajar di Sekolah Santo Yusup dan SD Xaverius sama. Pada tahun 1959, karena melihat bahwa banyak lulusan SD Xaverius kebingungan mau melanjutkan kemana, maka dibukalah SMP Xaverius dengan mengambil tempat tidak jauh dari SD Xaverius, yaitu di belakang Gereja Katolik sekarang ini.
Pada tanggal 1 Januari 1967 dibuka SMA Xaverius. Pada mulanya, tempat untuk SMA Xaverius juga berada di belakang Gereja Katolik di daerah Rawasari. Namun karena keberadaan sekolah tersebut di dekat terminal, maka dirasa kurang mendukung proses pendidikan. Akhirnya sekolah tersebut pada tahun 1977 dipindah ke Jl. Marsda Abdurrahman Saleh, The Hok. Perpindahan itu meliputi SMP dan SMA Xaverius saja dengan alasan SMP dan SMA sama-sama dalam jenjang pendidikan menengah[71]. Sedangkan TK dan SD masih tetap di Jalan Putri Pinang Masak No. 19, Rawasari. Agar pengelolaan sekolah semakin baik dan sebagai ungkapan terima kasih Gereja Katolik, khususnya Keuskupan Agung Palembang sebagai pemilik Yayasan Xaverius Palembang terhadap peran serta suster FMM dalam misi di Jambi, TK dan SD Xaverius di Rawasari pengelolaannya diserahkan kepada para suster Fransiskanes Misionaris Maria (FMM) melalui Yayasan Bhakti Utama yang kemudian pada tahun 2004 menginduk pada Yayasan Regina Pacis dengan pusat di Bogor. Pada bulan April tahun 1974 sekolah TK dan SD Xaverius 1 terdaftar di Pendidikan Dasar, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jambi serta mendapat ijin operasional. Sedangkan SMP dan SMA Xaverius di The Hok pengelolanya adalah Yayasan Xaverius Palembang dan terdaftar di Pendidikan Menengah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jambi serta mendapat ijin operasional.
Sekolah Xaverius yang ada di Keuskupan Agung Palembang terus berkembang padahal cakupan wilayahnya sangat luas, karena mencakup tiga provinsi, yaitu: Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Maka untuk mempermudah koordinasi dan pengelolaannya, Yayasan Xaverius Palembang membuat cabang-cabang, di mana cabang-cabang tersebut disebut Koordinatorat Sekolah Xaverius, termasuk salah satunya adalah Koordinatorat Sekolah Xaverius Jambi dan Kuala Tungkal yang mulai diresmikan keberadaannya pada tahun 1959.[72] Untuk mengetahui pemimpin di Koordinatorat Sekolah Xaverius Jambi dapat dilihat di tabel 3.3:

Tabel 3.3
Pemimpin Koordinatorat Sekolah Xaverius Jambi Kuala Tungkal
1959 – 1992
No
Nama
Tahun Jabatan
1
Pastor N.A. Hoogeboom, SCJ
1959 – 1964
2
Pastor Tan Hap Sioe, SCJ
1964 – 1966
3
Pastor J. Van Beek, SCJ
1966 – 1967
4
Pastor F.A.T. Hovers, SCJ
1967 – 1968
5
Pastor J. Schmies, SCJ
1968 – 1975
6
Pastor H. Henslok, SCJ
1975 – 1986
7
Pastor L. Walczak, SCJ
1987 – 1992
Sumber: Buku Kenangan 25 Tahun SMA Xaverius 1, tahun 1992, hlm. 35

          Semua Sekolah Xaverius di Kota Jambi mengawali pendiriannya dengan jumlah murid yang sangat sedikit, misalnya SMP Xaverius pada tahun 1959 muridnya hanya 11 orang, namun dengan pembuktian yang terlihat dari hasil lulusan dan prestasi yang dicapai, masyarakat kemudian semakin percaya dan menyekolahkan anak-anaknya di Sekolah Xaverius.
          Peningkatan jumlah siswa yang berminat sekolah di Sekolah Xaverius membuat Yayasan Xaverius Palembang kemudian menerapkan kebijakan sekolah masuk pagi dan masuk siang. Dengan kebijakan tersebut akhirnya mulai dipikirkan tentang anak-anak yang tempat tinggalnya jauh dari kawasan The Hok kalau pulang sore kasihan, maka dibukalah kelas jauh SMP dan SMA Xaverius di kawasan Telanaipura, yang memang saat itu dicanangkan sebagai kawasan perkantoran gubernur.[73]
          Pada bulan Juli 1985 di Telanaipura resmi dibuka SMP dan SMA Xaverius 2 Jambi yang pada mulanya sampai tahun 1989 masih menginduk pada SMP dan SMA Xaverius 1 Jambi dan TK serta SD Xaverius 2 Jambi yang sejak awal mencoba untuk mandiri. Dan untuk mewujudkan kemandirian tersebut, pada tahun 1987, TK dan SD berpindah tempat ke Jelutung.[74]
          Dengan demikian, di Kota Jambi sampai tahun 1985 terdapat 8 Sekolah Xaverius dengan 2 Yayasan Pengelola. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel 3.4:
Tabel 3.4
Sekolah Xaverius di Kota Jambi
1985
No
Nama Sekolah
Tempat
Yayasan Pengelola
1
TK Xaverius 1 Jambi
Rawasari
Yayasan Bhakti Utama
2
SD Xaverius 1 Jambi
Rawasari
Yayasan Bhakti Utama
3
TK Xaverius 2 Jambi
Jelutung
Yayasan Xaverius Palembang
4
SD Xaverius 2 Jambi
Jelutung
Yayasan Xaverius Palembang
5
SMP Xaverius 1 Jambi
Palmerah
Yayasan Xaverius Palembang
6
SMA Xaverius 1 Jambi
Palmerah
Yayasan Xaverius Palembang
7
SMP Xaverius 2 Jambi
Telanaipura
Yayasan Xaverius Palembang
8
SMA Xaverius 2 Jambi
Telanaipura
Yayasan Xaverius Palembang

          Pengembangan Sekolah Xaverius tetap berlanjut, baik itu dalam hal perbaikan dan pelengkapan fasilitas belajar maupun pembukaan sekolah baru atau pemindahan sekolah ke lokasi yang lebih baik.
C.    Sistem Pembelajaran
Sekolah Xaverius merupakan sekolah umum nasional yang bercirikan keagamaan dalam pengelolaannya. Sebagai sekolah umum nasional maka Sekolah Xaverius mengikuti kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah, apalagi dengan adanya proses akreditasi yang memang menuntut adanya kesamaan dengan sekolah negeri dalam hal penggunaan kurikulum. Berkaitan dengan kurikulum sebenarnya tidak ada yang berbeda antara Sekolah Xaverius dengan Sekolah-Sekolah yang lain, misalnya: ketika pemerintah menetapkan kurikulum 1974, maka Sekolah Xaverius menggunakan kurikulum 1974, ketika pemerintah menetapkan kurikulum 1984, kurikulum 1994, kemudian tahun 2001 KBK, dan terakhir tahun 2006 KTSP, maka Sekolah Xaverius juga menerapkan kurikulum yang sama.
Berkaitan dengan mata pelajaran yang dilaksanakan di Sekolah Xaverius tidak berbeda dengan Sekolah Negeri, baik di tingkat Sekolah Dasar maupun Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, misalnya: Bahasa Indonesia, Matematika, IPA (Fisika, Biologi, Kimia), IPS (Ekonomi, Sejarah, Geografi, Sosiologi), Bahasa Inggris, dan lain-lain. Untuk muatan lokal pada kurikulum KTSP di Sekolah Xaverius berbeda antara Xaverius 1 dan Xaverius 2.
Untuk Xaverius 1 yang digunakan untuk muatan lokal adalah kewirausahaan, karena sebagian besar siswanya berasal dari etnis Tinghoa yang bekerja sebagai pedagang, sedangkan Xaverius 2 menggunakan elektronika dan bahasa Jerman sebagai muatan lokalnya.
Khusus untuk pelajaran agama, sejak awal berdiri sampai tahun 1998 Sekolah Xaverius menggunakan Pendidikan Agama Katolik sebagai pelajaran agamanya meskipun siswanya ada yang beragama non katolik. Namun mulai tahun pelajaran 1998 / 1999 sampai sekarang, pelajaran agama yang digunakan di Sekolah Xaverius adalah Pendidikan Religiositas, yaitu suatu pelajaran agama yang melihat dan membahas suatu tema pembelajaran menurut sudut pandang keenam agama yang diakui sah di Indonesia.[75]
Dengan pola pembelajaran seperti ini, para siswa terbiasa untuk melihat perbedaan dan menghargai adanya kebenaran dalam agama yang lain. Selain itu, dalam pendidikan religiositas para siswa juga dituntut untuk semakin memahami ajaran agamanya sendiri karena dia nanti juga harus mensharingkan pengalaman dan pemahamannya tentang ajaran agamanya masing-masing.
Sistem pembelajaran yang berlaku di Sekolah Xaverius terpengaruh oleh sistem pembelajaran yang dialami oleh para pendidik dan tenaga kependidikannya yang sebagian besar menempuh pendidikan di Sekolah atau Universitas Katolik di Jawa yang menekankan pada kedisiplinan, tanggung jawab, dan obyektivitas. Dengan demikian, proses belajar mengajar di Sekolah Xaverius benar-benar berjalan dengan baik dan maksimal karena besarnya tanggung jawab pendidik. Para siswa terbiasa untuk belajar keras karena untuk mendapatkan nilai baik bukanlah hal yang mudah. Kedisplinan terwujud melalui keteraturan dalam kebersamaan karena adanya tata tertib yang jelas.
Proses pembelajaran di Sekolah Xaverius diatur dalam aturan akademik di masing-masing sekolah, yang intinya hampir sama antara sekolah yang satu dengan yang lain, karena sebelum aturan akademik tersebut diterapkan, dilakukan koordinasi terlebih dahulu antar sekolah.
Aturan akademik tersebut meliputi jumlah jam belajar, jumlah hari efektif yang tertuang dalam kalender akademik, jumlah mata pelajaran, nilai minimal untuk kenaikan kelas, jumlah kehadiran, catatan pembinaan, dan kriteria kenaikan dan kelulusan, serta perlakuan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.[76]
Sistem pembelajaran di Sekolah Xaverius berkaitan dengan waktu masuk sekolah juga ditentukan oleh kondisi dan keadaan. Karena keterbatasan tempat dan ruang, padahal jumlah siswanya banyak, maka di SMP dan SMA Xaverius diberlakukan masuk pagi dan masuk siang, dengan pengaturan sebagai berikut: kelas 1(VII), 3 (IX) SMP dan 3 (XII) SMA masuk pagi, sedangkan kelas 2 (VIII) SMP, 1 (X) SMA, dan 2 (XI) SMA masuk siang. Untuk TK dan SD Xaverius semuanya masuk pagi.
Berdasarkan data induk di masing-masing sekolah, latar belakang siswa di Sekolah Xaverius mengalami pergeseran dari awal berdiri dulu sampai saat ini. Dari sisi etnis atau suku, pada masa awal berdiri, mayoritas hampir 90% siswa Sekolah Xaverius dari TK, SD, SMP, sampai SMA adalah Tionghoa, selanjutnya Batak dan Jawa, sehingga Sekolah Xaverius pernah dicap sebagai sekolah cina. Namun pada tahun 1998 dan setelah munculnya sekolah swasta lain, etnis siswa Sekolah Xaverius mengalami penyeimbangan, meskipun di TK, SD, SMP, dan SMA Xaverius 1 etnis Tionghoa masih mayoritas, namun tidak mencapai 80% dari total keseluruhan. Sedangkan di TK, SD, SMP, dan SMA Xaverius 2 Jambi, suku Batak adalah yang paling mayoritas, disusul suku Jawa dan etnis Tionghoa.
          Acuan yang digunakan untuk menerapkan sistem pembelajaran di Sekolah Xaverius adalah kebijakan dari Dinas Pendidikan, Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK), Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Palembang (MPK Kapal), dan kebijakan dari Yayasan Xaverius Palembang. Dengan acuan tersebut, para pimpinan di masing-masing sekolah dapat membuat kebijakan untuk kemajuan sekolah yang dipimpinnya.
D.    Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pola perekrutan tenaga pendidik dan kependidikan yang berlaku di Sekolah Xaverius ditentukan oleh Pengurus Yayasan Xaverius Palembang. Jadi Sekolah hanya menerima penempatan seorang pendidik atau tenaga kependidikan yang sudah diseleksi oleh pihak Pengurus Yayasan.
Pedoman tentang penerimaan pegawai dan hal-hal yang berkaitan dengan kepegawaian dalam Yayasan Xaverius Palembang diatur dalam Anggaran Rumah Tangga Yayasan Xaverius Palembang (ART YXP). Adapun isi dari ART YXP tersebut dari tahun ke tahun senantiasa disempurnakan, terutama pada saat Rapat Koordinasi Pimpinan Sekolah dan Pengurus Yayasan yang biasanya diadakan pada awal tahun pelajaran. Sebagai gambaran tentang proses penerimaan calon pegawai YXP langkahnya adalah sebagai berikut:[77]
1.   Calon pegawai membuat lamaran yang ditujukan kepada Badan Pengurus Harian YXP, setelah itu menunggu panggilan untuk tes tertulis dan wawancara.
2.   Calon pegawai setelah menerima panggilan, menjalani tes tertulis dan wawancara, kemudian menunggu panggilan berikutnya untuk menerima pengumuman hasil tes dan penempatannya dimana.
3.   Setelah menerima Surat Keputusan dan Surat Tugas dari Yayasan tentang penempatan dan penugasannya, calon pegawai tersebut menjalankan tugasnya sebagai tenaga honorer.
4.   Setelah menjalankan tugas selama satu tahun, tenaga honorer tersebut akan dinilai konduite dan loyalitasnya. Apabila memenuhi syarat, dia akan diangkat menjadi calon pegawai (capeg) 80%, artinya dia berhak menerima gaji dan tunjangan lainnya sebesar 80% dari gaji dan tunjangan aslinya.
5.   Setelah satu tahun sebagai calon pegawai (capeg) 80%, akan dilihat konduite dan loyalitasnya, serta menjalani tes tertulis dan wawancara kembali. Apabila dianggap layak, calon pegawai akan diangkat menjadi pegawai dan berhak untuk menerima nomor induk yayasan (NIY). Sebagai pegawai yang sudah memiliki NIY maka dia berhak menerima gaji dan tunjangan serta hak-hak lainnya sesuai dengan pangkat dan golongan pegawai tersebut.
Adapun syarat-syarat untuk menjadi Calon Pegawai YXP adalah:
1.   Surat Lamaran yang ditulis dengan tulisan tangan memakai huruf besar dan disertai dengan materai Rp. 6000,-
2.   Fotocopy Ijasah SD sampai dengan Ijasah Tertinggi dan dilegalisir.
3.   Fotocopy transkrip nilai.
4.   Fotocopy sertifikat-sertifikat (kalau ada).
5.   Pengalaman kerja (kalau ada).
6.   Fotocopy surat baptis (bagi yang beragama Katolik).
7.   Fotocopy kartu keluarga.
8.   Dan syarat-syarat lainnya. (lihat lampiran)


Seorang pegawai di Sekolah Xaverius dalam lingkup Yayasan Xaverius Palembang berhak untuk menerima:
1.     Gaji pokok sesuai pangkat dan golongannya.
2.     Tunjangan istri untuk seorang kepala keluarga.
3.     Tunjangan anak.
4.     Tunjangan beras.
5.     Tunjangan transport.
6.     Tunjangan fungsional.
7.     Tunjangan kelebihan jam.
8.     Tunjangan jabatan/koordinator/pembina
9.     Insentif ekstrakurikuler
10. Tunjangan dana hari tua
Selain gaji pokok dan tunjangan yang sudah disebut di atas, pegawai beserta keluarga yang menjadi tanggungannya juga berhak untuk menerima jaminan dan tunjangan kesehatan sebesar 50% dari biaya yang dikeluarkan untuk berobat. Selain itu juga ada tunjangan untuk kacamata dan laptop yang hanya bisa diambil sekali selama menjadi pegawai di YXP.
Pangkat dan golongan yang ada dalam kepegawaian di YXP sama dengan aturan pangkat dan golongan dalam tata aturan PNS, misalnya: seorang guru lulusan S-1, maka dia masuk dalam kategori III/a (penata muda), setelah 4 tahun dia berhak untuk diusulkan mendapat kenaikan golongan menjadi III/b (penata muda tingkat I) dan seterusnya sampai pangkat puncak III/d dan nantinya 4 tahun menjelang pensiun dia berhak untuk mendapat pangkat pengabdian menjadi IV/a. Hal ini menjadi perkecualian untuk Kepala Sekolah yang berhak untuk mendapat pangkat puncak IV/a dan pengabdian IV/b. Selain kenaikan pangkat dan golongan, setiap dua tahun sekali, seorang pegawai berhak untuk mendapat kenaikan berkala.[78]
Dalam jenjang kepegawaian di Yayasan Xaverius Palembang terdapat jenjang: 1). Honor, yang hanya menerima honor atas pekerjaan yang dia lakukan, tunjangan beras, tunjangan transport, bantuan biaya tempat tinggal (untuk honorer dari luar daerah), tambahan bila ada ekskul, dan tambahan wali kelas jika dia menjadi wali kelas; 2). Honor Paket, yaitu seorang calon pegawai yang karena umurnya lebih dari 38 tahun ketika masuk, sehingga jika diangkat menjadi pegawai, dia tidak akan memenuhi kewajiban minimal 20 tahun sebagai pegawai sampai dia nanti pensiun, maka dia diberi alternatif untuk menjadi honor tetap. Fasilitas yang didapatkan honor tetap adalah sama dengan honor murni ditambah tunjangan kesehatan untuk dirinya sendiri; 3). Calon Pegawai (Capeg) 80% artinya dia berhak untuk menerima hak-hak dia sebagai pegawai namun besarannya baru 80 % dari yang seharusnya dia terima; dan 4). Pegawai Tetap Yayasan artinya dia berhak untuk mendapatkan semua hak-hak sebagai pegawai asalkan dia memenuhi persyaratan yang ditentukan, misalnya: seorang guru TK/SD minimal harus mengajar 26 jam pelajaran per minggu dan guru SMP/SMA minimal harus mengajar 24 jam pelajaran per minggu.[79]
Pendidik yang ada di Sekolah Xaverius tidak seluruhnya berstatus Pegawai Tetap Yayasan namun ada juga yang merupakan Pegawai Negeri Sipil yang diperbantukan (PNS DPK). Latar belakang adanya PNS DPK ada pada kisaran tahun 1980-an di mana pemerintah waktu itu menawarkan kepada para guru untuk diangkat menjadi PNS, namun karena waktu itu gaji PNS lebih rendah dari gaji Pegawai Xaverius, maka hanya ada 14 orang guru yang bersedia mengikuti program tersebut dan semuanya lulus serta langsung ditempatkan di SMP/SMA Xaverius 1 Jambi sebanyak 7 orang dan SMP/SMA Xaverius 2 Jambi sebanyak 7 orang. Untuk saat ini, PNS yang ada di Sekolah Xaverius hanyalah sisa dari program yang dilakukan pemerintah tahun 1980an.[80] Beberapa orang dari antaranya sudah memasuki masa pensiun dan tidak ada penggantian dari PNS.



Pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di Sekolah Xaverius memiliki kualifikasi sesuai dengan tugas dan keahliannya masing-masing. Hal itu ditunjukkan tidak hanya melalui ijasah yang dimiliki namun juga melalui penilaian kinerja secara berkala yang dilakukan oleh pimpinan.
Hak-hak dan kewajiban pendidik dan tenaga kependidikan, baik yang diangkat menjadi pegawai tetap, pegawai percobaan atau pegawai tidak tetap, dan honorer semuanya diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Yayasan Xaverius Palembang, serta diatur dalam aturan kepegawaian. Dengan hak-hak dan kewajiban yang jelas, maka pendidik dan tenaga kependidikan memiliki jaminan yang jelas dan arah yang jelas tentang apa yang harus dia lakukan dan apa yang akan dia dapatkan. Dalam hal kepegawaian, Yayasan melihat bahwa ketenangan dan kejelasan nasib pegawai merupakan hal yang menentukan dalam profesionalisme kerja.[81]
Pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di Sekolah Xaverius memiliki latar belakang bermacam-macam, baik status kepegawaian, suku, maupun agamanya. Pendidik di Sekolah Xaverius ada yang berstatus PNS yang diperbantukan namun ada juga yang berstatus pegawai tetap Yayasan. Suku para pegawai pun ada yang Jawa, Batak, Tionghoa, dan asli Jambi. Memang mayoritas para pegawai berasal dari suku Jawa. Sedangkan agama para pendidik dan tenaga kependidikan juga bermacam-macam, ada yang beragama Katolik, Kristen, dan bahkan Islam, meskipun Sekolah Xaverius bercirikan agama Katolik.
Dengan adanya perbedaan latar belakang para pendidik dan tenaga kependidikan sebenarnya menjadi contoh nyata bagi anak-anak didik tentang bagaimana hidup bersama dalam perbedaan dan bagaimana mewujudkan keharmonisan dalam pluralisme. Dengan adanya bermacam-macam latar belakang para pendidik dan tenaga kependidikan juga untuk mempermudah ketika sekolah berhubungan dengan masyarakat atau ketika berhubungan dengan orang tua murid yang juga bermacam-macam latar belakangnya.
Sampai tahun 1985, pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di Sekolah Xaverius tercatat ada 142 orang, dengan rincian: 116 orang tenaga pendidik atau pengajar, dan 26 orang tenaga kependidikan, baik itu bagian perpustakaan, Tata Usaha, Tenaga Kebersihan, maupun Tenaga Keamanan.[82]
Sekolah Xaverius di Jambi merupakan sekolah yang dikelola oleh Yayasan Xaverius Palembang, Koordinatorat Sekolah Xaverius Jambi – Kuala Tungkal. Kebijakan pengelolaan sekolah diambil oleh pimpinan Yayasan yang kemudian diterjemahkan dan dilaksanakan oleh para pimpinan Sekolah. Jadi para pimpinan sekolah mempertanggungjawabkan kepemimpinannya kepada pihak Yayasan.
Sekolah Xaverius merupakan sekolah yang mandiri, artinya pembiayaan operasional sekolah berasal dari swadaya. Pembiayaan yang swadaya ini pertama-tama dibebankan kepada para orang tua siswa dengan pembayaran SPP, selain itu juga melalui usaha-usaha yang dilakukan oleh Yayasan, misalnya: usaha SPBU di Palembang dan penanaman saham di perusahaan.















BAB IV
Eksistensi dan Kualitas Pendidikan
Sekolah Xaverius

          Pada bagian ini akan diuraikan tentang usaha – usaha yang dilakukan oleh Sekolah Xaverius untuk mempertahankan eksistensi dan kualitas pendidikannya. Usaha-usaha yang dimaksud di sini adalah baik secara intern atau ke dalam lingkup keluarga besar Sekolah Xaverius maupun secara ekstern atau keluar dari lingkup keluarga besar Sekolah Xaverius, yaitu kepada masyarakat secara umum.

A.    Mempertahankan Eksistensi dan Kualitasnya
Sejak awal mula didirikan, Sekolah Xaverius dimaksudkan sebagai tempat untuk mendidik dan mengembangkan siswa dalam pengetahuan dan kepribadian. Sejak semula, Sekolah Xaverius berkeinginan untuk maju dan memajukan semua pihak.
Sekolah Xaverius dalam usaha mempertahankan eksistensinya adalah dengan mengikuti perlombaan-perlombaan yang diadakan, baik oleh dinas pendidikan maupun instansi lain di tingkat Kota, provinsi, nasional, bahkan internasional. Melalui lomba-lomba seperti itulah Sekolah Xaverius mempertahankan eksistensinya supaya tetap dikenal dan diperhitungkan kualitasnya. Dengan melihat kualitas mutu pendidikan yang seperti itu, banyak orang tua yang kemudian merasa tidak rugi ketika menyekolahkan anaknya di Sekolah Xaverius meskipun kesannya sekolah mahal.
Adapun jejak perlombaan yang diikuti oleh Sekolah Xaverius dapat dilihat dari piala atau tropi yang terpampang dalam almari piala dan tropi di masing-masing sekolah. Sebagai gambaran jejak lomba yang diikuti, akan ditampilkan dalam tabel 4.1 yang mengambil data dari almari piala SMP dan SMA Xaverius 1 Jambi.



























Tabel 4.1
Piala dan Tropi Lomba yang dimenangkan SMP / SMA Xaverius 1
1970 – 1985[83]

Jenis Lomba
Juara
Tahun
Seni Tari Muda Mudi
I
1970
Dies Natalis HMI
II
1971
Bola Basket Putri
I
1972
Bola Basket Putra
II
1972
Lukis
II
1973
Nyanyi Solo Putra
III
1973
Kontes Pakaian Sekolah
III
1973
Gerak Jalan Putri
III
1973
Sepak Bola
III
1974
Seni Tari
II
1975
Gerak Jalan Putri
V
1976
Gerak Jalan Putra
VI
1976
Gerak Jalan Indah Putri
I
1976
Gerak Jalan Indah Putra
II
1976
LCC
II
1978
LCC
I
1980
Pragmen
I
1980
LCT
II
1980
LCT
II
1981
Basket Putra
I
1981
Sepak Bola
II
1981
Basket
Juara I Piala Bergilir
1981
Renang tingkat Provinsi
Juara I Tropi Bergilir
1981
Basket tingkat Provinsi
Juara I Tropi Bergilir
1982
Musik
III
1982
Raimuna Nasional IV Cibubur
Perwakilan Jambi
1982
Lagu Daerah
III
1983
Jambore Nasional PMR ke 2
Perwakilan Jambi
1983
LCC P4
II
1984
Renang
II
1984
Kendaraan Hias
III
1985
Vocal Group
I
1985
Renang
II
1985
Lomba Karya Ilmiah Pengetahuan Remaja
I
1985
LPIR – Penemuan Sidik Jari di Kertas (Andre Parestu, dkk)
III Nasional
1985
Siswa Teladan (M. Ali Chairuddin)
I Provinsi
1974
Siswa Berprestasi (R. Teguh Arkono)
I Provinsi dan Nasional
1976
Siswa Teladan (Lucky Safitri)
Juara I Provinsi dan Juara I Nasional
1981
Sumber : Almari Piala dan Tropi SMP dan SMA Xaverius 1 Jambi.

Berkaitan dengan kualitas mutu pendidikan, Sekolah Xaverius memenuhi kebutuhan pokok dan fasilitas utama pendidikan yang dibutuhkan. Masalah fasilitas pendukung pembelajaran untuk peningkatan kualitas dan mutu pendidikan, Sekolah Xaverius berusaha memenuhinya dan para guru pun dituntut untuk memanfaatkan fasilitas yang ada guna mendukung pembelajaran, misalnya: pemanfaatan laboratorium untuk praktek, pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber-sumber referensi pembelajaran, dan pemanfaatan alam sebagai laboratorium alam untuk pembelajaran.
Usaha peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah Xaverius juga dilakukan dengan pemanfaatan waktu pembelajaran secara maksimal. Di Sekolah Xaverius memiliki kalender pendidikan yang mengacu pada dua lembaga atau instansi, yaitu: mengacu kalender pendidikan yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan dan mengacu kalender pendidikan yang dikeluarkan oleh Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK). Dengan pertimbangan dari dua kalender pendidikan tersebut, Sekolah Xaverius kemudian menyusun ulang kalender pendidikan yang akan diterapkan di Sekolah Xaverius Jambi. Dalam perjalanan proses pendidikan di Sekolah Xaverius selama ini, batasan waktu yang dijadikan sebagai hari efektif adalah batasan maksimal yaitu, 127 hari efektif per tahun pelajaran, sehingga sering ditemukan sekolah-sekolah lain libur sedangkan di Sekolah Xaverius masih masuk sekolah. Selain itu, jumlah jam pelajaran per minggu yang dilakukan juga jumlah jam yang maksimal, yaitu 40 jam pelajaran per minggu.[84] Dengan pemanfaatan waktu secara maksimal, diharapkan kualitas pendidikan pun juga menjadi maksimal.
Selain penggunaan waktu efektif yang sudah ditentukan, Sekolah Xaverius dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan juga melakukan penambahan jam belajar, yaitu dalam kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri, baik yang bersifat ilmiah, seni, maupun olah raga.[85]


Pengembangan yang bersifat ilmiah, misalnya:
1.   Menuju Olimpiade Saint Indonesia (MOSI) Matematika.
2.   Menuju Olimpiade Saint Indonesia (MOSI) Komputer.
3.   Menuju Olimpiade Saint Indonesia (MOSI) Fisika.
4.   Menuju Olimpiade Saint Indonesia (MOSI) Kimia.
5.   Menuju Olimpiade Saint Indonesia (MOSI) Ekonomi.
6.   Menuju Olimpiade Saint Indonesia (MOSI) Biologi.
Pengembangan yang bersifat Seni dan Olah Raga, misalnya:
2.   Ekstrakurikuler Musikalisasi Puisi.
3.   Ekstrakurikuler Bina Vokalia.
4.   Ekstrakurikuler Karate.
5.   Ekstrakurikuler dance.
Semua kegiatan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas para siswa dalam mengembangkan bakat dan kemampuan mereka masing-masing. Setelah mereka siap, mereka akan diikutkan dalam lomba, baik di tingkat Kota, Provinsi, Nasional, bahkan Internasional.
          Kualitas pendidikan di Sekolah Xaverius juga dijaga dengan cara menghindari segala bentuk kecurangan-kecurangan, misalnya: guru di Sekolah Xaverius tidak diperbolehkan memberi les di rumah kepada siswa-siswa yang diajarnya, sehingga kemungkinan untuk perlakuan berbeda terhadap para siswa dalam pemberian nilai dapat dihindarkan. Kecurangan yang lain yang dihindari adalah pengubahan nilai raport supaya anak bisa naik kelas, meskipun harus pindah sekolah. Di Sekolah Xaverius sejak awal anak masuk sekolah, hal ini sudah disampaikan, yaitu kalau anak tidak naik kelas, maka tetap tidak naik, meskipun orang tua atau anak menghendaki pindah sekolah, jika dia sudah diputuskan tidak naik, dia tetap tidak naik.[86] Hal ini sebagai salah satu bentuk konkret mempertahankan kualitas pendidikan, tidak hanya di Sekolah Xaverius saja, namun kualitas pendidikan secara umum.
          Kualitas pendidikan akan tetap baik jika didalamnya diupayakan adanya kejujuran. Sebagai bentuk konkret perwujudan kejujuran di Sekolah Xaverius, misalnya: apabila anak ketahuan menyontek, maka orang tua siswa yang bersangkutan akan dipanggil. Selain itu, pada saat Masa Orientasi Siswa (MOS) biasanya pada siswa baru diberi tantangan, siapa yang berani tidak nyontek selama satu tahun. Apabila ada anak yang berani menunjukkan dirinya, sebenarnya secara otomatis anak tersebut membuat kontrak sosial kejujuran dengan sekolah dan teman-temannya.
         
Meningkatkan kualitas pendidikan merupakan usaha bersama, baik secara administratif maupun secara praktek. Kualitas pendidikan yang ada di Sekolah Xaverius Jambi selama beberapa kali penilaian akreditasi selalu mendapatkan nilai A (disamakan).

B.    Alumni Sekolah
Jejak langkah pendidikan di Sekolah Xaverius terlihat dari aneka profesi yang dijalani oleh alumninya. Profesi yang dijalani oleh alumni Sekolah Xaverius bermacam-macam. Sampai saat ini memang tidak ada data resmi yang mencakup profesi semua alumni, namun dari data kunjungan alumni ke Sekolah, di mana di dalam buku tamu alumni tersebut tercantum kolom pekerjaan, maka dapat diperoleh gambaran bahwa profesi yang dijalani alumni antara lain: dokter, dosen, pengusaha, polisi / TNI, anggota DPR, guru, buka toko, akuntan. Profesi yang dicantumkan disini hanyalah gambaran sedikit tentang alumni Sekolah Xaverius yang jumlahnya sudah sangat banyak.[87]

Reuni alumni Sekolah Xaverius yang mulai diselenggarakan tahun 2010 menghasilkan kesepakatan untuk membentuk ikatan alumni Sekolah Xaverius baik satu angkatan maupun lintas angkatan. Keberadaan alumni ini juga mendukung eksistensi dari Sekolah Xaverius itu sendiri.
Sekolah Xaverius memulai karya pendidikan dengan jumlah murid yang sedikit. Tentang data siswa dari tahun ke tahun, yang kami jadikan sebagai contoh adalah data siswa SMA Xaverius mulai dibuka tahun 1967 sampai 1985 yang dapat dilihat dalam tabel 4.2 berikut ini:
Tabel 4.2
Data Siswa SMA Xaverius
1967 – 1985[88]
No
Angkatan Tahun
Jumlah
1
1967
53 Orang
2
1968
81 Orang
3
1969
81 Orang
4
1970
36 Orang
5
1971
58 Orang
6
1972
99 Orang
7
1973
87 Orang
8
1974
82 Orang
9
1975
104 Orang
10
1976
95 Orang
11
1977
169 Orang
12
1978 – 1981
546 Orang
16
1982 / 1983
225 Orang
17
1983 – 1984
438 Orang
18
1985 / 1986
243 Orang
Jumlah Siswa dari Tahun 1967 – 1985
2429 Orang
Sumber : Buku Induk Siswa SMA Xaverius 1 Jambi.

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah siswa di Sekolah Xaverius mengalami pasang surut, kadang jumlahnya banyak per angkatan, kadang sedikit, namun kalau dilihat trennya adalah meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Hal tersebut, mungkin dipengaruhi oleh prosentase kelulusan siswa yang dapat dilihat dalam tabel 4.3 berikut
Tabel 4.3
Kelulusan Siswa SMA Xaverius Jambi
1969 – 1985[89]
Tahun
Peserta
Lulus
Prosentase (%)
1969
34
32
94,12
1970
24
24
100
1971
24
22
91,67
1972
40
38
95
1973
41
39
95,12
1974
39
39
100
1975
41
37
90,24
1976
42
41
97,62
1977
86
81
94,62
1978 / 1979
70
65
92,86
1979 / 1980
64
58
90,63
1980 /1981
80
78
97,50
1981 / 1982
92
92
100
1982 / 1983
138
135
97,83
1983 / 1984
148
141
95,27
1984 /1985
178
175
98,31
1985 / 1986
167
167
100
Sumber : Buku peringatan 25 tahun SMA Xaverius 1 Jambi, 1992, hlm. 108

Dari Tabel 4.3 dan tabel 4.2 kita dapat melihat bahwa jumlah siswa di awal masuk dan yang mengikuti ujian ternyata ada perbedaan. Hal itu disebabkan karena dalam proses pendidikan selama di Sekolah Xaverius ternyata ada siswa yang dikeluarkan atau ada juga yang mengundurkan diri. Dari catatan yang tercantum dalam buku induk sekolah berkaitan dengan catatan konduite siswa, misalnya: “keluar, penyakitan.” Mungkin anak tersebut keluar karena sering sakit. Ada juga yang tertulis, “Sering menyalahgunakan uang sekolah untuk ke kantin.” Mungkin ini adalah salah satu kenakalan remaja yang sudah ada sejak dulu.
Dari catatan-catatan tersebut, ternyata dalam proses pendidikan di sekolah manapun terjadi hal-hal yang serupa atau bahkan sama. Namun yang membedakannya adalah dalam hal penangannya. Ada sekolah yang langsung tidak mau tahu dan tidak ada kompromi lagi sehingga langsung dikeluarkan dari sekolah, namun ada juga yang memberi pembinaan dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Seperti itulah penanganan siswa bermasalah di Sekolah Xaverius.

C.       Peran Sekolah Xaverius di Kota Jambi
Sekolah Xaverius memang tidak berbuat banyak bagi seluruh masyarakat Kota Jambi, karena memang perannya yang terbatas dalam bidang pendidikan semata. Dan hanya melalui bidang pendidikan pula, Sekolah Xaverius mencoba untuk dianggap dan diakui keberadaannya melalui prestasi yang dibuat oleh anak didiknya dengan cara membawa nama Kota Jambi atau bahkan Provinsi Jambi dalam event lomba yang lebih tinggi.
Berdasarkan data jumlah peserta didik yang bersekolah di Sekolah Xaverius, juga menampakkan kepedulian Sekolah Xaverius terhadap usaha pencerdasan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Hal itu didasarkan pada pandangan bahwa pendidikan tidak hanya dilaksanakan oleh pemerintah saja namun juga dapat dilaksanakan oleh masyarakat.
Dengan keberadaan Sekolah Xaverius juga memacu sekolah-sekolah yang lain untuk terpacu menjadi yang terbaik. Karena keberadaan Sekolah Xaverius menjadi kompetitor dalam berbagai perlombaan membuat sekolah-sekolah lain, terutama sekolah negeri tidak mau dikalahkan oleh sekolah swasta.








BAB V
KESIMPULAN
          Pada bagian ini akan diuraikan kesimpulan yang menjawab semua permasalahan yang telah diajukan, analisis dan kristalisasi dari hasil penelitian, serta saran yang ditujukan kepada Yayasan Xaverius Palembang dan para pelaku pendidikan untuk perbaikan bagi sekolah Xaverius di Kota Jambi dan pola pendidikan secara umum.
Melihat realitas dunia pendidikan di tanah air saat ini, untuk menghadirkan pendidikan yang membebaskan dan memerdekaan seseorang dari belenggu ketidaktahuan dan belenggu-belenggu yang lain rasanya sangat sulit untuk diwujudkan. Pendidikan cenderung mengikuti budaya instan, yaitu cepat didapatkan namun cepat pula hilangnya, terutama dalam bidang kognitifnya.
Kecenderungan masyarakat dalam menentukan pendidikan anaknya adalah dengan melihat prestasi yang dihasilkan dari suatu sekolah. Hal ini perlu dicermati dengan seksama karena berprestasi atau tidaknya suatu sekolah sebenarnya juga perlu dilihat dari intake atau kemampuan siswa ketika masuk dalam sekolah tersebut. Jika intakenya bagus, tidak sulit bagi sekolah tersebut untuk menjadi juara dalam berbagai bidang perlombaan. Namun apakah seperti itu yang namanya mendidik? Tidak, mendidik adalah suatu proses membuat seseorang menjadi terdidik dan menjadi tahu. Maka apabila berhasil membuat juara dari intake yang apa adanya, itulah yang dinamakan keberhasilan dalam pendidikan.
Sekolah-Sekolah Xaverius di Kota Jambi merupakan sekolah-sekolah dengan karakteristik pendidikan yang berbeda-beda. SMP dan SMA Xaverius 1 Jambi merupakan sekolah yang intakenya bagus, sedangkan SMP dan SMA Xaverius 2 biasanya dikatakan sebagai penampung anak-anak buangan atau anak-anak yang tidak diterima di sekolah-sekolah negeri atau sekolah favorit. Namun output siswa yang dihasilkan ternyata tidaklah berbeda jauh. Dalam data kelulusan siswa dari tahun ke tahun ternyata prosentase kelulusan SMP/SMA Xaverius 1 dan SMP/SMA Xaverius 2 hampir sama.
Pendidikan merupakan sarana, jalan, atau mediasi untuk mewujudkan perjuangan menuju perubahan sosial. Pendidikan harus membuat anak didik memiliki komitmen untuk memperjuangkan keadaan supaya menjadi lebih baik.[90]       
Sebagai sebuah lembaga yang dijalankan oleh manusia, masih ada kekurangan yang perlu dibenahi. Maka melalui skripsi ini, kami memberikan masukan berupa saran-saran demi kebaikan Sekolah Xaverius.
Saran pertama, Sekolah Xaverius harus tidak henti-hentinya memberitahukan kepada masyarakat bahwa Sekolah Xaverius bukanlah lembaga yang mau mengkatolikkan siswanya, namun hanya menanamkan nilai-nilai kekatolikan[91] dalam proses pembelajarannya. Hal ini untuk menepis pandangan bahwa keberadaan Sekolah Xaverius sebagai bagian dari kristenisasi. Selain itu, pendidikan religiositas sebagai pendidikan agama yang diajarkan di Sekolah Xaverius harus tetap dipertahankan, karena dengan pendidikan religiositas tidak ada siswa yang diistimewakan karena ajaran agamanya diajarkan sedangkan ajaran agama yang lain tidak diajarkan. Melalui pendidikan religiositas, semua ajaran agama disampaikan dan dibahas, sehingga anak terbuka terhadap pandangan agama lain dan terbuka terhadap adanya perbedaan.
Saran kedua, Sekolah Xaverius harus menghilangkan pandangan dan kesan masyarakat yang menyatakan bahwa Sekolah Xaverius adalah sekolah cina dan sekolah mahal. Keterbukaan menerima siswa dari berbagai latar belakang suku, agama, dan ras terutama dari warga sekitar sekolah adalah cara yang mungkin dapat mengikis pandangan tersebut. Sekolah Xaverius harus berani menerima setiap orang yang berkehendak untuk bersekolah. Tes masuk sekolah janganlah dijadikan sebagai satu-satunya pertimbangan untuk menerima atau menolak siswa yang mau bersekolah di Sekolah Xaverius.
Saran ketiga, menjaga kualitas pendidikan tidak hanya dengan berusaha untuk menjadi juara dalam setiap lomba, namun mengubah anak yang tidak tahu menjadi tahu itulah yang disebut sebagai pendidikan. Kalau hanya mengajari anak yang pintar untuk bisa menjadi juara dalam lomba adalah hal yang bisa dilakukan oleh banyak orang, namun membuat anak menjadi cerdas dari sebelumnya, itulah yang terpenting. Meski demikian, tetap berpegang pada idealisme pendidikan adalah hal yang utama. Jangan terpancing dengan adanya sekolah-sekolah yang berani menjanjikan siswanya pasti naik atau pasti lulus.
Demikian saran-saran yang disampaikan penulis. Melalui skripsi ini, diharapkan para pembaca mendapatkan pencerahan terhadap praktek pendidikan yang terjadi di sekitar kita, terutama di Kota Jambi, dan secara khusus di Sekolah Xaverius Jambi.
Semoga sekolah dan lembaga pendidikan tetap menjadi pencetak agen-agen perubahan sosial, sehingga kehidupan manusia menjadi lebih baik sebagaimana dikehendaki Allah ketika menciptakan manusia.



DAFTAR PUSTAKA


Arsip
Buku-buku

A.Heuken, SJ, Ensiklopedi Gereja, jilid 3, Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1978.
Arikunto, Suharsimi, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, Jakarta: Rineka Cipta, 1993
Bambang Budi Utomo, Batanghari Riwayatmu Dulu, makalah disampaikan pada Seminar Sejarah Melayu Kuno, Jambi, 7 Desember 1992.
G. Vriens, Honderd Jaar Jezuiten Missie, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, tanpa tahun.
Gilbert J. Garraghan, A Guide To Historical Method, New York: Fordham University Press, 1957
Herman Yosep Sunu Endrayanto, Kawanan Kecil di Sumatra Selatan, 1848-1942, Jakarta: Penerbit Cahaya Pineleng, 2009.
Huub Boelaars, Indonesianisasi: Dari Gereja Katolik di Indonesia menjadi Gereja Katolik Indonesia, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003.
J. Tideman, Djambi, Amsterdam: De Bussy, 1938.
Kementerian Penerangan, Republik Indonesia: Propinsi Sumatera Tengah, Bukittinggi: tanpa penerbit, 1954.
Karel Steenbrink, Catholics in Indonesia, A Documented History, 1808-1942, Volume 1 A Modest Recovery, Leiden: KITLV Press, 2003.
Karel Steenbrink, Catholics in Indonesia, 1808-1942, A documented history. Volume 2. The spectacular growth of a self confident minority 1903-1942, Leiden: KITLV Press, 2007.
Kompasiana, Perkembangan Historiografi Indonesia, dalam kolom OPINI pada tanggal 10 Desember 2010
KWI, Buku Petunjuk Gereja Katolik Indonesia, Jakarta: Bagian Dokumentasi-Penerangan, 2000.
L.Y. Tukijan, Buku Kenangan 60 tahun Gereja Katolik Paroki St. Teresia-Jambi, 1995.
Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, terjemahan Nugroho Notosusanto Jakarta: Yayasan Penerbit Univ. Indonesia, 1975
Mestika Zed, Metodologi Sejarah, Padang : 2005.
Nasution, S., Sejarah Pendidikan Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara, 2001
P. M. Muskens (Ed.), Sejarah Gereja Katolik Indonesia, 4 Jilid, Ende: Percetakan Arnoldus dan Pusat Dokumentasi Penerangan MAWI, 1972-1974.
R. Zainuddin (penanggung jawab), Sejarah Pendidikan Daerah Jambi, Jambi: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980
Robert Van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia (The Emergence of the Modern Indonesian Elite, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1984.
Tim Buku 75 tahun YXP, IN OMNIBUS OPTIMUM - Bersatu Kita Maju, Memberi Pelayanan Terbaik, Palembang : Penerbit YXP, 2006
Tim Redaksi Kanisius, Paradigma Pedagogi Reflektif, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2008.
Yamin, Moh., Menggugat Pendidikan Indonesia: Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009.
______, Jambi : Profil Propinsi Republik Indonesia, Jakarta: Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara, 1992.
Prof. C.S.T. Cansil. Empat Pilar Berbangsa Dan Bernegara. Rineka Cipta. 2011, hlm. 221

Kompasiana, Perkembangan Historiografi Indonesia, dalam kolom OPINI pada tanggal 10 Desember 2010.

[1] Keputusan Kongres PGRI ke-XII tanggal 21-25 November 1973 di Jakarta dan ditegaskan kembali dalam UU No.14/2005 tentang etika profesi guru, point 1.



[1] Yamin, Moh., Menggugat Pendidikan Indonesia: Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), hlm. 15.

[2] Prof. C.S.T. Cansil. Empat Pilar Berbangsa Dan Bernegara. Rineka Cipta. 2011, hlm. 221
[3] R. Zainuddin (penanggung jawab), Sejarah Pendidikan Daerah Jambi (Jambi: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980), hlm. 29.

[4] Ibid. hlm. 32

[5] Ibid. hlm. 33

[6] Ibid., hlm. 34-41

[7] ada sumber lain yang menyebut Perkumpulan Tsamaratul Insan. Perukunan Tsamaratul Insan merupakan kelompok radikal dan anti kolonialisme dengan tugas utamanya yaitu mengurusi segala hal pada saat ada warga yang mengalami kematian, mendirikan masjid-masjid, tempat belajar menurut faham Mazhab Syafi’i, mengurusi masalah wakaf dan rumah-rumah sakit. ibid., hlm. 302

[8] Sekolah-sekolah yang didirikan oleh Perukunan ini sebenarnya lebih berbentuk pondok pesantren, yaitu suatu penggabungan antara sekolah dengan pengajaran agama secara inklusif dalam kehidupan bersama antara guru dengan murid atau antara Kyai dengan santri.
Madrasah adalah nama resmi untuk sekolah yang formal, sedangkan pondok pesantren adalah nama tempat tinggal di mana para santri tinggal dan biasanya menimba ilmu di madrasah.

[9] Sekolah Rakyat atau Angka Loro merupakan jenis sekolah untuk orang biasa. Kurikulumnya sekolah ini sangat sederhana, yaitu meliputi pelajaran membaca, menulis, dan berhitung.

[10] Bahasa pengantar pelajaran dipilih Bahasa Tionghoa karena pada kenyataannya waktu itu, kebanyakan mereka masih Cina totok, di mana bahasa sehari-hari yang dipakai dirumahnya adalah bahasa Tionghoa. Sebenarnya pada tahun 1935 Pastor N. Hoogeboom sudah mendirikan HCS (Holland Chinese School), namun Pada tahun 1942, ketika Jepang masuk ke Jambi, Sekolah HCS ditutup karena Pastor dan Suster yang berasal dari Belanda ditangkap dan ditahan di interniran. Hal itu terjadi sampai berakhirnya revolusi fisik, yaitu sekitar tahun 1947. Lihat Tim Buku 75 tahun YXP, op.cit., hlm. 64.

[11] TK tersebut sekarang dikenal dengan nama TK Xaverius 1.

[12] SD tersebut sekarang dikenal dengan nama SD Xaverius 1. Berada di Jalan Putri Pinang Masak no. 19 Jambi.

 [13] Hal itu terjadi karena adanya usaha pemerintah untuk Indonesianisasi.

[14] Tim Buku 75 tahun YXP, op.cit., hlm. 64

[15] Penyerahan pengelolaan TK dan SD Xaverius kepada Yayasan Bhakti Utama merupakan bentuk terima kasih Gereja Katolik khususnya Keuskupan Palembang pengelola Yayasan Xaverius Palembang kepada para Suster FMM pengelola Yayasan Bhakti Utama yang telah membantu misi Katolik di Kota Jambi dan sebagai tukar guling atas tanah milik susteran yang kemudian didirikan gedung SMP dan SMA XAverius. Meskipun berbeda yayasan, setiap pengambilan kebijakan selalu ada koordinasi di antara yayasan tersebut.
[16] Secara administratif Kota Jambi memiliki 8 Kecamatan, yaitu: Kecamatan Jambi Selatan, Kota Baru, Jambi Timur, Telanaipura, Jelutung, Pasar Jambi, Pelayangan, dan Danau Teluk.
[17] Yamin, Moh., op. cit., hlm. 40
[18] Tim Redaksi Kanisius, Paradigma Pedagogi Reflektif, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2008, hlm. 3

[19] Yamin, Moh., Op.cit., hlm. 15.

[20] Tim Redaksi Kanisius, Op.cit., hlm.31

[21] Keputusan Kongres PGRI ke-XII tanggal 21-25 November 1973 di Jakarta dan ditegaskan kembali dalam UU No.14/2005 tentang etika profesi guru, point 1.

[22] Tim Redaksi Kanisius, Op.cit., hlm. 35
[23] Arikunto, Suharsimi, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hlm. 57

[24] Nasution, S., Sejarah Pendidikan Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hlm. 15

[25] Ibid., hlm. 15

[26] Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada. Beliau mempelopori penggunaan metode multidimensional atau dapat juga disebut metode developmentalis. Pendekatan ini memberikan peran lebih kepada ilmu-ilmu sosial dalam membantu memecahkan permasalahan di masa lampau.

[27] Kompasiana, Perkembangan Historiografi Indonesia, dalam kolom OPINI pada tanggal 10 Desember 2010.

[28] Mestika Zed, Metodologi Sejarah, Padang : 2005

[29] Gilbert J. Garraghan, A Guide To Historical Method, (New York: Fordham University Press, 1957), hlm. 33

[30] Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, terjemahan Nugroho Notosusanto (Jakarta: Yayasan Penerbit Univ. Indonesia, 1975), hlm. 78
[31] Bambang Purwanto, “Interpretasi dan Analisa dalam Sejarah”, makalah disampaikan pada Penataran Metodologi Sejarah, Yogyakarta, lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta, 16 Februari 1997, hlm.7
[32] ______________, Profil Propinsi Jambi, Jakarta: Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara, 1992, hlm.1
[33] Tim Buku 75 tahun YXP, Bersatu Kita Maju Memberi Pelayanan Terbaik, Palembang: Yayasan Xaverius Palembang, 2006, hlm. 64

[34] Robert Van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia (The Emergence of the Modern Indonesian Elite (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1984), hlm. 72.

[35] R. Zainuddin (penanggung jawab), Sejarah Pendidikan Daerah Jambi (Jambi: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980), hlm. 29.

[36] Ibid. hlm. 32

[37] Ibid. hlm. 33
[38] R. Zainuddin, Sejarah  Pendidikan Daerah Jambi, Jambi: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hlm. 40

[39] Ibid., hlm. 34-41

[40] ___________, Jambi : Profil Propinsi Republik Indonesia (Jakarta: Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara, 1992), hlm. 310 – 311

 [41] ada sumber lain yang menyebut Perkumpulan Tsamaratul Insan.

[42] ibid., hlm. 302

[43] Sekolah-sekolah yang didirikan oleh Perukunan ini sebenarnya lebih berbentuk pondok pesantren, yaitu suatu penggabungan antara sekolah dengan pengajaran agama secara inklusif dalam kehidupan bersama antara guru dengan murid atau antara Kyai dengan santri.
Madrasah adalah nama resmi untuk sekolah yang formal, sedangkan pondok pesantren adalah nama tempat tinggal dimana para santri tinggal dan biasanya menimba ilmu di madrasah. Sekolah-sekolah tersebut semuanya berada di daerah Jambi Seberang Kota.

[44] ___________, Op.cit., hlm.15-17
[45] Ibid., hlm. 302-303 ; Desa dari mana para santri berasal adalah Tanjung Pasir, Ulu Gedong, Tahtul Yaman, dan sekitar pondok pesantren tersebut berada. Sedangkan daerah yang dimaksud adalah dari daerah luar kota Jambi, misalnya Sarolangun, Palembang, dan lainnya.

[46] Sekolah Rakyat atau Angka Loro merupakan jenis sekolah untuk orang biasa. Kurikulumnya sekolah ini sangat sederhana, yaitu meliputi pelajaran membaca, menulis, dan berhitung.
[47] Waruwu, Fidelis E. Op.Cit.

[48] Wawancara dengan Antoni Moan pada tanggal 3 Juli 2012.

[49] Kongregasi adalah perkumpulan biarawan atau biarawati yang memiliki kesamaan cara hidup, visi, dan misi, serta meneladan pada cara hidup pendirinya.

[50] Buku Kenangan 60 tahun Gereja Katolik Paroki St. Teresia-Jambi (Jambi: Seksi Buku Kenangan, 1995), hlm. 7-8

[51]_________, op.cit., hlm. 304

[52] Orang Tionghoa di Jambi sebagian besar penganut agama nenek moyang mereka (Khonghucu), Buddha, Kristen, dan Katolik.

[53] Tim Buku 75 tahun YXP, op.cit., hlm. 64.

[54] SD tersebut sekarang dikenal dengan nama SD Xaverius 1. Berada di Jalan Putri Pinang Masak no. 19 Jambi.

[55] Tim Buku 75 tahun YXP, op.cit., hlm. 64
[56] Yayasan Xaverius Palembang adalah nama resmi yang digunakan untuk menyebut Badan Hukum Penyelenggara Pendidikan di Sekolah Xaverius yang ada di Keuskupan Agung Palembang, di mana wilayahnya mencakup Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu.

[57] Paroki adalah wilayah administratif gereja yang batasannya tidak sama dengan batasan administratif pemerintahan. Paroki biasanya dipimpin oleh seorang pastor yang akan mempertanggungjawabkan kebijakannya kepada uskup.

[58] Herman Yosep Sunu Endrayanto, Kawanan Kecil di Sumatra Selatan, 1848-1942, (Jakarta: Penerbit Cahaya Pineleng, 2009.), hlm. 23

[59] Prefektur Apostolik adalah suatu tingkatan dalam wilayah administrasi gereja sebelum menjadi sebuah keuskupan. Ibid. hlm. 25
[60] Pada masa Hindia Belanda, Standardschool (sekolah standard) merupakan sekolah dengan 5 tahun pelajaran, yang diasuh oleh guru-guru yang memiliki ijasah pendidikan. Ini berbeda dengan sekolah-sekolah desa atau sekolah-sekolah pribumi (Volkschool). Jadi Standardschool lebih tinggi daripada sekolah-sekolah desa.

[61] Tim Buku 75 tahun YXP, Bersatu Kita Maju Memberi Pelayanan Terbaik, Palembang: YXP, hlm. v
[62] Tim Buku 75 tahun YXP, Op.Cit, hlm. 49

[63] Buku Kenangan 60 tahun Gereja Katolik Paroki St. Teresia-Jambi (Jambi: Seksi Buku Kenangan, 1995), hlm. 7-8

[64]_________, op.cit., hlm. 304

[65] Orang Tionghoa di Jambi sebagian besar penganut agama nenek moyang mereka (Khonghucu), Buddha, Kristen, dan Katolik.

[66] Wawancara dengan Antoni Moan pada tanggal 3 Juli 2012. Pensiunan guru SD Xaverius 1 yang bekerja sejak 1954

[67] FMM adalah nama konggregasi, yaitu perkumpulan biarawati atau suster yang mengambil spiritualitas atau gaya hidup Fransiskus seorang yang disucikan dalam agama Katolik dan Bunda Maria sebagai teladan hidupnya.

[68] TK tersebut sekarang dikenal dengan nama TK Xaverius 1.

[69] SD tersebut sekarang dikenal dengan nama SD Xaverius 1. Berada di Jalan Putri Pinang Masak no. 19 Jambi.

[70] Tim Buku 75 tahun YXP, op.cit., hlm. 64

[71] Pemahaman tahun 1967, Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah masuk dalam kategori pendidikan menengah. Hal ini berbeda dengan pemahaman jaman sekarang yang menempatkan SMP sebagai pendidikan dasar.
[72] Yayasan Xaverius Palembang memiliki 10 Koordinatorat, yaitu: Koordinatorat Jambi-Kuala Tungkal (9 Sekolah), Curup (4 Sekolah), Lubuk Linggau (4 Sekolah), Tugumulyo (3 Sekolah), Tanjung Sakti-Pagaralam (6 Sekolah), Baturaja-Batuputih (5 Sekolah), Muara Enim (3 Sekolah), Muara Bungo (2 Sekolah), Belitang (1 Sekolah), Kota Palembang (23 Sekolah).
[73] Surat Keputusan Ketua Yayasan Xaverius Cabang Jambi, Nomor 014/YX/1984 tanggal 7 Oktober 1984.
[74] ibid
[75] Terdapat dalam Pembinaan dan Pelantikan Kepala Sekolah TK, SD, SMP, SMA, SMK Xaverius. Tertanggal 29 – 31 Juli 2011. Pasal 13.
[76] Ibid, Pasal 21.
[77] Terdapat dalam Surat edaran dari Yayasan kepada Koordinator dan Kepala TK, SD, SMP, SMA, SMK Xaverius No. 16/YX/BPH/E.23/2006 tertanggal 10 Februari 2006.
[78] Surat edaran dari YXP No. 521/YXP/U.2/VII/2006 tertanggal 24 Juli 2006.
[79] Ibid.

[80] Wawancara dengan M. Suprapto pada tanggal 6 Juli 2012
[81] Ibid.
[82] A. Haryandoko, Op.Cit., hlm. 46-50
[83] A. Haryandoko, Op.Cit., hlm. 80-81
[84] Kalender Pendidikan dan roster jadwal mengajar.

[85] SK Kepala Sekolah tentang pendamping pengembangan diri dan ekstrakurikuler.
[86] Bagian dari aturan akademik yang terdapat dalam Buku 1 KTSP SMP dan SMA Xaverius 2 Jambi.
[87] Buku Tamu Alumni yang ada di masing-masing sekolah. Sebagai contoh dr. Mardjohan lulusan SMP dan SMA Xaverius 1 tahun 1976, Selina Gita anggota DPR RI lulusan SMA Xaverius 2

[88] A. Haryandoko, Op.Cit., hlm. 105-106
[89] A. Haryandoko, Op.Cit., hlm. 107-108.
[90] Tim Redaksi Kanisius, Paradigma Pedagogi Reflektif, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2008, hlm. 11
[91] Nilai-nilai kekatolikan adalah nilai-nilai yang diwartakan oleh agama katolik dalam kehidupan manusia, misalnya: kasih, kejujuran, keadilan, toleransi, kedamaian, kedisiplinan, kesetiaan, kemurahan, dan kesucian. Sebenarnya nilai-nilai kekatolikan ini adalah nilai-nilai yang universal, artinya juga ada dalam agama-agama yang lain.