Selasa, 18 November 2014

BAB 3 HIERARKI DALAM GEREJA KATOLIK

Latar Belakang
Kata “Hierarki” berasal dari bahasa Yunani hierarchy yang berarti “asal usul suci 
atau tata susunan”. Menurut ajaran resmi Gereja Katolik, susunan, struktur hierarki 
sekaligus merupakan hakikat kehidupannya juga. Kitab Suci menjelaskan bahwa 
perutusan ilahi, yang dipercayakan Kristus kepada para Rasul, akan berlangsung 
sampai akhir zaman (lih. Mat 28:20). Sebab Injil, yang harus mereka wartakan, bagi 
Gereja merupakan azas seluruh kehidupan untuk selamanya. Maka dari itu dalam 
himpunan yang tersusun secara hierarkis yaitu para Rasul telah berusaha mengangkat 
para pengganti mereka. Maka Konsili mengajarkan “atas penetapan ilahi para Uskup 
menggantikan para Rasul sebagai gembala Gereja”. Kepada para Rasul berpesan, 
agar menjaga seluruh kawanan, tempat Roh Kudus mengangkat mereka untuk 
menggembalakan jemaat Allah (lih. Kis 20:28).(LG 20). Pengganti meraka yakni, para 
Uskup, dikehendaki-Nya menjadi gembala dalam Gereja-Nya hingga akhir jaman 
(LG 18). Maksud dari “penetapan ilahi para Uskup menggantikan para Rasul sebagai 
gembala Gereja” ialah bahwa dari hidup dan kegiatan Yesus timbullah kelompok 
orang yang kemudian berkembang menjadi Gereja, seperti yang dikenal sekarang. 
Struktur Hierarkis Gereja yang sekarang terdiri dari dewan para Uskup dengan 
Paus sebagai kepalanya, dan para Imam serta Diakon sebagai pembantu Uskup. Para 
Uskup pengganti para Rasul yang dipimpin oleh Paus pengganti Petrus bertugas 
melayani, menggembalakan jemaat (bdk. Yoh 21: 15-19) bersama para pembantu 
mereka, yakni para Imam dan Diakon. Sebagai wakil Kristus, mereka memimpin 
kawanan yang mereka gembalakan (pimpin), sebagai guru dalam ajaran, Imam dalam 
ibadat suci, dan pelayan dalam bimbingan (bdk. Lumen Gentium, Art. 20).
Dasar kepemimpinan (hierarki) dalam Gereja
Gereja adalah persekutuan yang semua anggotanya sungguh-sungguh sederajat 
martabatnya, sederajat pula kegiatan umum dalam membangun Tubuh Kristus (LG 
31). Ada fungsi khusus dalam Gereja yang diemban oleh hierarki, ada corak hidup 
khusus yang dijalani Biarawan/Biarawati, ada fungsi dan corak hidup keduniaan 
yang menjadi medan khas para Awam. Tetapi yang pokok adalah iman yang sama 
akan Allah dalam Kristus oleh Roh Kudus. Yang umum lebih penting daripada yang 
khusus.

Hierarki dalam Gereja Katolik
Kata hierarki berasal dari bahasa Yunani “hierarchy” yang berarti jabatan (hieros) 
suci (archos). Itu berarti bahwa yang termasuk dalam hierarki adalah mereka yang 
mempunyai jabatan karena mendapat penyucian melalui tahbisan. Maka mereka serng 
disebut sebagai kuasa tahbisan. Dan orang yang termasuk hieraki disebut sebagai para 
tertahbis. Namun, pada umumnya hierarki diartikan sebagai tata susunan. Hieraki 
sebagai pejabat umat beriman kristiani dipanggil untuk menghadirkan Kristus yang 
tidak kelihatan sebagai tubuh-Nya, yaitu Gereja. Dalam tingkatan hieraki tertahbis 
(hierarchia ordinis), Gereja terdiri dari Uskup, Imam, dan Diakon (KHK 330-572). 
Menurut tata susunan yurisdiksi (hierarchia yurisdictionis), yurisdiksi ada pada Paus 
dan para Uskup yang disebut kolegialitas. Kekhasan hierarki terletak pada hubungan 
khusus mereka dengan Kristus sebagai gembala umat.

Sejarah hierarki 
Struktur hierarki bukanlah suatu yang ditambahkan atau dikembangkan dalam 
sejarah Gereja. Menurut ajaran Konsili Vatikan II, struktur itu dikehendaki Tuhan 
dan akhirnya berasal dari Kristus sendiri. Hal ini dapat dilihat dalam sejarah hierarki 
di bawah ini: 

Zaman Para Rasul 
Awal perkembangan hierarki adalah kelompok kedua belas Rasul. Kelompok inilah 
yang pertama-tama disebut Rasul. Rasul atau “Apostolos” adalah utusan. Akan tetapi 
setelah kebangkitan Kristus, sebutan Rasul tidak hanya untuk kelompok kedua belas, 
melainkan juga utusan-utusan selain kelompok kedua belas itu. Bahkan akhirnya, 
semua “utusan jemaat” (2Kor8:22) dan semua “utusan Kristus” (2Kor 5:20) disebut 
Rasul. Lama kelamaan, kelompok Rasul lebih luas dari pada kelompok kedua belas 
Rasul. Sesuai dengan namanya, Rasul diutus untuk mewartakan iman dan memberi 
kesaksian tentang kebangkitan Kristus. 

Zaman sesudah Para Rasul 
Setelah kedua belas Rasul tidak ada, muncul aneka sebutan, seperti “penatua-penatua” 
(Kis 15:2), dan “Rasul-Rasul”, “Nabi-Nabi”, Pemberita-Pemberita Injil”, Gembala-
Gembala”, “Pengajar” (Ef 4:11), “Episkopos” (Kis 20:28), dan “Diakonos” (1Tim 
4:14). Dari sebutan itu ada banyak hal yang tidak jelas arti dan maksudnya. Namun 
pada akhir perkembangannya, ada struktur dari Gereja St. Ignatius dari Antiokhia 
yang mengenal sebutan “Penilik” (Episkopos), “Penatua” (Prebyteros), dan “Pelayan” 
(Diakonos). Struktur inilah yang selanjutnya menjadi struktur hierarki Gereja yang 
menjadi Uskup, Imam, dan Diakon. Di sini yang penting, bukanlah kepemimpinan 
Gereja yang terbagi atas aneka fungsi dan peran, melainkan bahwa tugas pewartaan 
para Rasul lama-kelamaan menjadi tugas kepemimpinan jemaat.
Dasar kepemimpinan (hierarki) dalam Gereja 
Berdasarkan sejarah di atas, maka kepemimpinan dalam Gereja diserahkan kepada 
hierarki. Konsili mengajarkan bahwa “atas penetapan Ilahi, para Uskup menggantikan 
para Rasul sebagai penggembala Gereja” (lih LG 20). “ Konsili suci ini mengajarkan 
dan mengatakan bahwa Yesus Kristus, Gembala kekal mendirikan Gereja kudus 
dengan mengutus para Rasul seperti Dia diutus oleh Bapa (lih Yoh 20:21). Para 
pengganti mereka, yakni para Uskup, dikehendaki-Nya menjadi gembala dalam 
gereja-Nya sampai akhir zaman (lih. LG 18). 
Pernyataan di atas dimaksudkan bahwa dari hidup dan kegiatan Yesus timbullah 
kelompok orang yang kemudian berkembang menjadi Gereja, seperti yang dikenal 
sekarang. Proses perkembangan pokok itu terjadi dalam umat perdanan (Gereja 
Perdana), yakni Gereja yang mengarang Kitab Suci Perjanjian Baru. Jadi dalam kurun 
waktu antara kebangkitan Yesus dan awal abad kedua secara prinsip terbentuklah 
hierarki gereja yang dikenal sekarang. Wujud Gereja perdana beserta struktur 
kepemimpinannya menjadi patokan bagi perkembangan Gereja selanjutnya.
Struktur kepemimpinan (hierarki) dalam Gereja 
Secara struktural kepemimpinan dalam Gereja sekarang dapat diurutkan sebagai 
berikut:

Dewan Para Uskup dengan Paus sebagai Kepalanya 
Ketika Kristus mengangkat kedua belas Rasul, Ia membentuk mereka menjadi 
semacam dewan atau badan tetap. Sebagai ketua dewan, Yesus mengangkat Petrus 
yang dipilih-Nya dari antara para Rasul itu. Seperti santo Petrus dan para Rasul 
lainnya, atas penetapan Kristus merupakan satu dewan para Rasul. Begitu pula Paus 
(penganti Petrus) bersama Uskup (pengganti Rasul) merupakan satu himpunan yang 
serupa.Pada akhir masa Gereja perdana, sudah diterima cukup umum bahwa para 
Uskup adalah pengganti para Rasul. Tetapi hal itu bukan berarti bahwa hanya ada 
dua belas Uskup (karena ada dua belas Rasul). Bukan Rasul satu persatu diganti orang 
lain, tetapi kalangan para Rasul sebagai pemimpin Gereja diganti oleh para Uskup. 
Tegasnya Dewan para Uskup adalah pengganti para Rasul (LG 20). Yang menjadi 
pimpinan Gereja adalah Dewan para Uskup. 
Seseorang menjadi Uskup karena diterima ke dalam dewan. “Seseorang menjadi 
anggota Dewan Para Uskup dengan menerima tahbisan sakramental dan berdasarkan 
persekutuan hierarkis dengan kepala maupun para anggota Dewan” (LG 22). Sebagai 
lambang kolegial ini, tahbisan Uskup selalu dilakukan paling sedikit tiga Uskup, sebab 
tahbisan Uskup berarti bahwa seorang anggota baru diterima ke dalam Dewan Uskup” 
(LG 11). Uskup itu pertama-tama adalah pemimpin Gereja setempat. Namun dalam 
persekutuan gereja-gereja setempat hiduplah Gereja Universal. Dalam persekutuan 
dengan Uskup-Uskup lain itu, para Uskup setempat menjadi pemimpin Gereja 
Universal. Maka Uskup merupakan pemimipin Gereja setempat sekaligus pemimpin 
Gereja Universal. 
Paus 
Konsili Vatikan II menegaskan “adapun dewan atau badan para Uskup hanyalah 
berwibawa, bila bersatu dengan Imam Agung di Roma pengganti Petrus sebagai 
kepala dan selama kekuasaan primatnya terhadap semua, baik para gembala maupun 
kaum beriman, tetap berlaku seutuhnya.” Sebab Imam Agung di Roma berdasarkan 
tugasnya, yakni sebagai wakil Kristus dan gembala Gereja semesta mempunyai kuasa 
penuh, tertinggi, dan universal terhadap Gereja, dan kuasa itu selalu dapat dijalankan 
dengan bebas (LG 22).
Penegasan itu didasarkan bahwa Kristus mengangkat Petrus sebagai ketua para Rasul. 
Yesus mengangkat Santo Petrus menjadi ketua para Rasul lainnya. Dalam diri Petrus, 
Yesus menetapkan adanya asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap 
dan kelihatan (bdk. LG 18) Petrus diangkat menjadi pemimpin para Rasul. Paus 
yang adalah pengganti Petrus juga pemimpin para Uskup. Menurut kesaksian tradisi, 
Petrus adalah Uskup Roma yang pertama. Karena itu, Roma dipandang sebagai pusat 
dan pedoman seluruh Gereja. Menurt keyakinan tradisi, Uskup Roma itu pengganti 
Petrus, bukan hanya sebagai Uskup lokal melainkan terutama dalam fungsinya 
sebagai ketua Dewan Pimpinan Gereja. Paus adalah Uskup Roma, dan sebagai Uskup 
Roma, ia adalah pengganti Petrus dengan tugas dan kuasa seperti Petrus.
Tugas dan kuasa Petrus, menurut Perjanjian Baru, begitu istimewa (Mat 16:16-19; 
Yoh 21:15-19), Ia diakui sebagai pemimpin Gereja. “Para Rasul menghimpun Gereja 
semesta, yang oleh Tuhan didirikan dalam diri mereka dan di atas Rasul Petrus, ketua 
mereka, sedangkan Yesus Kristus sendiri sebagai batu sendinya” (LG 19). Fungsi 
dan kedudukan Petrus sebagai pemimpin Gereja diakui pula sebagai unsur prinsip 
hierarki, yang akhirnya berasal dari Kristus sendiri. Itulah tugas dan wewenang Paus, 
pengganti Petrus. 
Uskup 
Pada dasarnya Paus adalah seorang Uskup. Seorang Uskup selalu berkarya dalam 
persekutuan dengan para Uskup lain dan mengakui Paus sebagai kepala. Karya seorang 
Uskup adalah “menjadi asas dan dasar kelihatan bagi kesatuan dalam Gereja-Nya 
(LG 23). Tugas pokok Uskup di tempatnya sendiri adalah pemersatu. Tugas hierarki 
yang pertama dan utama adalah mempersatukan dan mempertemukan umat. Tugas 
ini dapat disebut tugas kepemimpinan dari para Uskup “dalam arti sesungguhnya 
disebut pembesar umat yang mereka bimbing” (LG 27)
Tugas pemersatu ini selanjutnya dibagi menjadi tugas khusus menurut tiga bidang 
kehidupan gereja, yaitu pewartaan, perayaan, dan pelayanan, di mana dimungkinkan 
komunikasi iman dalam Gereja. Dan dalam bidang-bidang itulah para Uskup dan Paus 
menjalankan tugas kepemimpinannya. Pewartaan Injil menjadi tugas terpenting (LG 
25). Tugas penting selanjutnya adalah perayaan, “mempersembahkan ibadat agama 
Kristen kepada Allah yang Mahaagung dan mengaturnya menurut perintah Tuhan 
dan hukum Gereja” (LG 26). Selanjutnya adalah pelayanan, “membimbing Gereja-
gereja yang dipecayakan kepada mereka sebagai wakil dan utusan Kristus, dengan 
petunjuk-petunjuk, nasihat-nasihat, dan teladan hidup mereka, tetapi juga dengan 
kewibawaan dan kuasa suci” (LG 27). Dalam ketiga bidang kehidupan menggereja, 
Uskup bertindak sebagai pemersatu, yang mempertemukan orang dalam komunikasi 
iman. 
Pembantu Uskup: Imam dan Diakon 
Dalam mengemban tugas dan fungsinya, para Uskup memerlukan “pembantu” dan 
rekan “kerja”, mereka adalah:
Para Imam: adalah Wakil Uskup 
Di setiap jemaat setempat dalam arti tertentu, mereka menghadirkan Uskup.
“Para Imam dipanggil melayani umat Allah sebagai pembantu arif bagi badan Uskup, 
sebagai penolong dan organ mereka “(LG 28). Tugas konkret para Imam sama seperti 
Uskup. Mereka ditahbiskan pertama-tama untuk mewartakan Injil (lih. PO 4) dan 
menggembalakan umat (lih. PO 6) 

Diakon: pelayan, hierarki tingkat yang lebih rendah 
Ditumpangi tangan bukan untuk Imamat tetapi untuk pelayanan (LG 29). Mereka 
ini juga pembantu Uskup, tetapi tidak mewakili. Para Diakon adalah pembantu Usk-
up dengan tugas terbatas. Dengan kata lain Diakon adalah pembantu khusus Uskup, 
sedangkan Imam adalah pembantu umum Uskup. 

Kardinal: 
Kardinal bukan jabaran hierarkis dan tidak termasuk struktur hierarkis. Kardinal 
adalah penasehat dan membantu Paus dalam tugas reksa harian seluruh Gereja. 
Mereka membentuk suatu dewan Kardinal. Jumlah dewan yang berhak memilih Paus 
dibatasi 120 orang di bawah usia 80 tahun. Seorang Kardinal dipilih oleh Paus secara 
bebas. 

Fungsi Khusus Hierarki
Seluruh umat Allah mengambil bagian di dalam tugas Kristus sebagai nabi (mengajar), 
Imam (menguduskan), dan Raja (menggembalakan). Pada kenyataannya umat tidak 
seragam, maka Gereja mengenal pembagian tugas tiap komponen umat (hierarki, 
biarawan/biarawati, dan Awam). Menjalankan tugas dengan cara yang berbeda. 
Berdasarkan keterangan yang telah diungkapkan di atas, fungsi khusus hierarki 
adalah:
- Menjalankan tugas Gerejani, yakni tugas-tugas yang langsung dan eksplistis 
menyangkut kehidupan beriman Gereja, seperti: pelayanan sakramen-sakramen, 
mengajar, dan sebagainya.
- Menjalankan tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman. Hierarki mem-
persatukan umat dalam iman dengan petunjuk, nasihat, dan teladan. 

Corak Kepemimpinan dalam Gereja
- Kepemimpinan dalam Gereja merupakan suatu panggilan khusus di mana 
campur tangan Tuhan merupakan unsur yang dominan. Kepemimpinan Gereja 
tidak diangkat oleh manusia berdasarkan bakat, kecakapan, atau prestasi 
tertentu. Kepemimpinan dalam Gereja tidak diperoleh oleh kekuatan manusia 
sendiri. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” 
Kepemimpinan dalam masyarakat dapat diperjuangkan oleh manusia, tetapi 
kepemimpinan dalam Gereja tidaklah demikian.
- Kepemimpinan dalam Gereja bersifat mengabdi dan melayani dalam arti semurni-
murninya, walaupun ia sungguh mempunyai wewenang yang berasal dari Kristus 
sendiri. 
- Kepemimpinan gerejani adalah kepemimpinan melayani, bukan untuk dilayani, 
sebagaimana yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Maka Paus disebut sebagai 
“Servus Servorum Dei”=hamba dari hamba-hamba Allah. 
- Kepemimpinan hierarki berasal dari Tuhan, maka tidak dapat dihapuskan oleh 
manusia. Kepemimpinan dalam masyarakat dapat diturunkan oleh manusia, 
karena ia memang diangkat dan diteguhkan oleh manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar